Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Kisah Nembro, Desa yang Tak Sanggup Lagi Bunyikan Lonceng Kematian karena Corona

Reporter : Syahid Latif
Kamis, 26 Maret 2020 15:00
Kisah Nembro, Desa yang Tak Sanggup Lagi Bunyikan Lonceng Kematian karena Corona
Desa itu membeku. Ratusan warganya mati dalam kesunyian total. tak ada lagi lonceng kematian. Ambulans pun bekerja tanpa sirine, bila memungkinkan.

Dream - Seperti puluhan negera lain, Italia kini berjuang melawan virus corona baru, Covid-19. Sudah 74.386 orang di Negeri Spaghetti terinfeksi, 7.505 di antaranya meninggal dunia.

Italia seolah jadi episentrum baru pandemi ini. Angka infeksi di negeri para Don itu hampir menyusul jumlah kasus di China, yang tercatat mencapai 81.726. Tingkat kematian di Italia bahkan dua kali lipat dari Negeri Tirai Bambu, yang tercatat 3.291 kasus. Separuh angka kematian di Italia.

Laporan jurnalis senior, Mario Calabresi, yang dimuat laman South China Morning Post, cukup kiranya menggambarkan betapa berat rakyat Italia menghadapi pandemi yang sudah merenggut lebih dari 21 ribu nyawa di seluruh dunia ini.

Dalam artikel itu, Calabresi melaporkan situasi di Nembro. Kota kecil di Bergamo timur. Di Lombardy. Di wilayah itu, lonceng kematian terakhir kali berdentang pada 7 Maret silam. Bukan karena tak ada warga yang meninggal. Tapi mereka sudah tak sanggup lagi membunyikan lonceng tanda kematian itu.

" Kami memutuskan tidak membunyikan mereka [lonceng] sejak Sabtu itu, hari keempat pemakaman," kata Don Matteo Cella, pastor yang diwawancara oleh Calabresi.

Bila lonceng itu tetap dibunyikan saban ada warga meninggal, maka kota itu tak pernah sepi dari dentangan. Itu artinya bakal menimbulkan penderitaan tak terperi bagi warga. " Kami pikir itu yang terbaik untuk membiarkan semuanya terjadi," tambah Cella.

1 dari 5 halaman

Nembro berpenduduk 11.500 jiwa. Ada banyak gereja berdiri di bawah naungan satu parokhi, yang dipimpin oleh lima pastor. Kini, empat pastor sakit, hanya Cella satu-satunya yang masih bugar. Dia pastor termuda. Baru 40 tahun.

Selama wabah corona, Nembro tercatat sebagai wilayah dengan persentase kematian tertinggi. Baru-baru ini, sebanyak 70 orang meninggal hanya dalam 12 hari. Sepanjang tahun lalu, hanya ada 120 kematian di wilayah ini, atau rata-rata 10 kematian dalam sebulan.

Nembro memang punya sejarah wabah yang kelam. Pada tahun 1630, wabah membunuh hampir tiga perempat penduduk kota yang kala itu baru berjumlah 2.700. Hanya tersisa 744 orang yang hidup, untuk menceritakan tragedi mengerikan itu.

Cella mengungkap data paroki yang mencatat kematian di awal wabah corona. Pada awal merebaknya wabah itu, mereka telah mengadakan 39 upacara pemakaman di gereja, 26 di kuburan, dan 26 jasad lain mengantre untuk disemayamkan.

" Itu terjadi pada 91 orang, tanpa menghitung lagi orang yang mungkin meninggal dalam beberapa hari terakhir, yang belum kami dengar, atau bahkan orang nin-Katolik," tutur Cella.

Kini Nembro bak kota mati. Tak ada satupun orang berkeliaran di jalan. Semua toko tutup. Warung sembako dan apotek hanya melayani pesan antar. Kota kecil itu benar-benar beku mulai Sabtu itu, sejak Italia memutuskan menutup total Lombardy.

2 dari 5 halaman

Kebisuan Nembro memendam cerita awal merebaknya virus corona. Seorang pria dari Codogna, wilayah Lodi, menjadi orang pertama yang dites dan dinyatakan positif terjangkit virus corona. Pria tersebut dijuluki sebagai " Pasien Satu" . Sejak itu, rupanya epidemi benar-benar sudah menyebar.

Cella yakin wabah itu telah bergentayangan di kotanya sejak awal tahun, bahkan kala Natal tahun lalu, tanpa teridentifikasi. " Sebagai permulaan, panti jompo di Nembro terjadi anomali kematian."

" Pada bulan Januari, 20 orang meninggal karena pneumonia. Terakhir minggu ini menimpa ketua Yayasan Gueseppe Pezzotta, yang dikenal sebagai Bepo," sambung Cella.

Selama satu tahun lalu, tambah Cella, hanya ada tujuh kematian di panti jompo tersebut. Sejak Januari itu, jumlah jasad yang dimakamkan jadi banyak, minggu demi minggu. Semua orang mulai kasak-kusuk membicarakan pneumonia itu.

Sebelum Merdi Gras --karnaval untuk menyambut perayaan pra-paskah-- separuh penduduk kota itu menggigil di atas ranjang mereka. Sakit.

Cella ingat betul kala itu sedang berdiskusi membahas apakah perayaan itu akan melibatkan anak-anak. Tapi rencana itu harus pupus karena sebagian besar relawan yang bertugas mengawasi anak-anak jatuh sakit.

" Tapi saat itu tidak ada pembicaraan tentang virus corona di Italia. Siapa yang tahu berapa banyak dari kami yang sudah sakit dan membaik," kata dia.

3 dari 5 halaman

Sejak itulah perlahan roda kehidupan Nembro berhenti bergerak. Gereja mulai menagguhkan misa, tapi mereka tetap merawat orang sakit. Pendeta juga masih menemui keluarga pasien untuk sebisa mungkin menguatkan mereka.

" Tapi hari ini saya satu-satunya pendeta yang masih sehat," kata Cella. Lainnya semua sakit. Demam, Don Giuseppe di rumah sakit. Don Antonio, pendeta paroki, juga sakit, namun sudah mulai pulih.

Gereja kemudian mulai memakamkan pasien yang meninggal karena terinfeksi virus corona. Hanya keluarga dekat saja yang menghadiri pemakaman jasad korban corona. " Pada 2 Maret, kami memakamkan 14 orang, biasanya paling banyak dalam sehari hanya dua saja," ujar Cella.

Mereka terakhir kali memakamkan jasad Massimo, pada 7 Maret 2020, sebelum pemerintah Italia menyetop dan mengambil alih pengurusan korban corona yang meninggal. Seperti korban lain, pemakaman jasad pria 52 tahun yang bekerja di percetakan itu hanya dihadiri keluarga dekat, istri dan ketiga putrinya.

" Beberapa teman menunggu pada jarak aman di alun-alun untuk melihat mobi jenazah," kata Cella.

Massimo tidak pernah dites corona. Dia meninggal di rumah kala masyarakat berada di puncak kepanikan. Massimo tak tertolong karena dokter setempat justru lebih dulu sakit dan dikarantina. Permintaan bantuan tak terjawab.

Massimo demam tinggi selama seminggu. Suhu tubuhnya semakin meningkat, hingga saatnya dia mengalami masalah pernapasan. " Mereka memanggil bantuan, tapi saat tim medis tiba, tak ada lagi yang bisa dilakukan," tutur Cella.

4 dari 5 halaman

Sejak hari pemakaman Massimo itu, tak hanya lonceng kematian yang berhenti berdentang, jika memungkinkan, ambulans-ambulans yang lalu-lalang mengangkut pasien corona melaksanakan tugasnya tanpa membunyikan sirine, untuk mengurangi keresahan.

Sekarang, tak ada lagi upacara pemakaman yang dilakukan gereja. Cella kini hanya menemani jasad-jasad yang dikubur di pemakaman.

" Keluarga memberi tahu kami, dan kami pergi untuk memberkati peti mati atau guci sebelum jenazah dimakamkan. Sangat menyedihkan," tutur dia. Dan, Cella melakukan tugasnya mendoakan jasad-jasad itu untuk memberikan rasa kemanusiaan.

Menurut Cella, orang-orang yang meninggal di rumah sakit itu dalam kondisi luar biasa. Mereka wafat dalam kesuinyian total, dengan keluarga yang sebelumnya hanya bisa melihat mereka dibawa oleh ambulan ke tempat isolasi.

" Kemudian tidak pernah mendengar apapun hingga pengumuman kematian meeka dan dipanggil untuk mengambil barang-barang pribadi mereka," tutur Cella.

5 dari 5 halaman

Tapi, rakyat Nembro berusaha bertahan. Gereja mengordinir para pemilik toko. Cella dan tim yang beranggotakan 40 remaja pergi ke rumah warga, dari pintu ke pintu, untuk menyebar selebaran.

" Hal lain yang mengagumkan, relawan yang membawa obat untuk mereka yang sakit, orang tua, dan mereka yang sedang dikarantina," ujar dia.

" Rasa komunitas yang kuat telah ditemukan kembali, dan wilayah tersebut telah menunjukkan rasa kebaikan manusia yang sangat menyentuh," tambah Cella.

Dalam keheningan, kota itu tetap berusaha memperbarui informasi. Warga tetap ingin tahu siapa yang meninggal hari itu, siapa pula yang giliran masuk rumah sakit karena corona.

Informasi terbaru langsung viral di grup-grup WhatsApp. Namun tak sedikit di antara kabar itu tidak benar. Hanya hoaks belaka.

Cella mencontohkan kabar tentang kematian mantan pendeta paroki yang bersama mereka hingga tahun lalu. Pendeta itu tengah dirawat di rumah sakit. Grup WhatsApp warga ramai membicarakan kabar kematian sang pendeta.

Cella pun mendapat pesan ucapan duka. Banyak pula yang menelepon untuk berbelasungkawa. Namun, di antara salah satu penelepon itu adalah sang pendeta yang dikabarkan telah meninggal.

" Dia meneleponku dan mengatakan telah baikan dan akhirnya bisa bicara kembali. Aku tidak punya keberanian untuk memberitahunya bahwa penduduk kota telah berduka untuk kematinnya," kata Cella.

Sang pendeta memang masih hidup. Berita kematian itu hanya satu di antara banyak kabar hoaks yang beredar di grup percakapan online warga.

Di tengah kebisuan dan keheningan itu pula, Cella tetap menyampaikan khutbah kepada jemaatnya dari gereja yang kosong. Dengan bantuan teknologi, dia memberikan khutbah misa lewat YouTube. Anggota paroki menyimaknya dari layar ponsel.

Cella juga menyajikan khutbahnya lewat podcast. Saban hari, 500 orang mengunduhnya.

Beri Komentar