Virus Corona Covid-19 Hasil Rekayasa dan Bocor dari Laboratorium, Cek Faktanya!

Reporter : Sugiono
Kamis, 26 Maret 2020 13:24
Virus Corona Covid-19 Hasil Rekayasa dan Bocor dari Laboratorium, Cek Faktanya!
Virus corona penyebab Covid-19 disebut hasil rekayasa dan bocor dari laboratorium

Dream - Di tengah merebaknya virus corona baru yang menyebabkan wabah COVID-19 ke seluruh dunia, banyak informasi salah tersebar di tengah masyarakat.

Salah satu informasi salah yang banyak beredar di media sosial adalah bahwa virus ini, yang disebut SARS-CoV-2, diciptakan di sebuah laboratorium di Wuhan, China.

Virus tersebut kemudian bocor dari laboratorium di Wuhan dan menyebar ke seluruh dunia hingga menjadi pandemik seperti sekarang ini.

Karena itulah Wuhan dianggap sebagai pusat penyebaran virus corona baru yang telah menginfeksi ratusan ribu orang di seluruh dunia.

Namun menurut penelitian terbaru, SARS-CoV-2 bukanlah sebuah produk laboratorium atau virus yang dimanipulasi untuk tujuan tertentu.

1 dari 9 halaman

Sekelompok peneliti membandingkan genom virus corona baru ini dengan enam virus corona lain yang diketahui menginfeksi manusia, yaitu SARS, MERS, HKU1, NL63, OC43 and 229E.

Kristian Andersen, seorang profesor imunologi dan mikrobiologi di Scripps Research, bersama rekan-rekannya meneliti contoh genetik dari spike protein atau lonjakan protein yang menonjol dari permukaan virus corona. Virus corona menggunakan lonjakan ini untuk menempel pada dinding luar sel inangnya dan kemudian memasuki sel-sel itu.

Para ilmuwan kemudian fokus pada pengurutan genetik dua fitur utama dari lonjakan protein ini, yaitu domain pengikat reseptor (RBD), sejenis pengait yang menempel pada sel inang; dan tapak pembelah, sebuah molekul yang memungkinkan virus untuk membuka dan memasuki dinding sel manusia dan hewan.

2 dari 9 halaman

Hasil analisis menunjukkan bahwa RBD virus corona ini telah berevolusi untuk menargetkan reseptor di dinding sel manusia yang disebut ACE2. Reseptor ini terlibat dalam pengaturan tekanan darah manusia.

RBD tersebut begitu efektif menempel pada sel manusia sehingga para peneliti mengatakan bahwa virus corona adalah hasil seleksi alam dan bukan rekayasa genetika.

Berikut penjelasan Kristian mengapa virus corona baru adalah seleksi alam dan bukan hasil rekayasa genetika.

3 dari 9 halaman

SARS-CoV-2 sangat erat kaitannya dengan virus yang menyebabkan sindrom pernafasan akut yang parah (SARS), yang menyebar di seluruh dunia hampir 20 tahun yang lalu.

Para ilmuwan telah mempelajari bagaimana SARS-CoV (penyebab SARS) berbeda dari SARS-CoV-2 (penyebab COVID-19) - dengan beberapa perubahan dalam kode genetik.

Dalam simulasi komputer, mutasi pada SARS-CoV-2 tidak bekerja dengan baik dalam membantu virus menempel dan menembus sel manusia.

Jika para ilmuwan sengaja merekayasa dan menciptakan virus ini, mereka tidak akan memilih mutasi gagal yang disarankan simulasi komputer tersebut.

Jadi, alam lebih pintar daripada para ilmuwan. Virus SARS-CoV-2 menemukan cara yang lebih baik untuk bermutasi - dan benar-benar berbeda - dari apa pun yang bisa diciptakan oleh para ilmuwan melalui simulasi komputer.

4 dari 9 halaman

Bagaimana dengan teori konspirasi yang menyebut virus SARS-CoV-2 bocor dari laboratorium dan kemudian menyebar?

Keseluruhan struktur molekul virus SARS-CoV-2 berbeda dari virus corona yang dikenal sebelumnya. Virus SARS-CoV-2 lebih mirip virus yang ditemukan pada kelelawar dan trenggiling.

Ilmuwan masih belum terlalu banyak mempelajari virus pada kedua hewan yang diduga jadi perantara ini. Selain itu, virus pada kedua binatang itu tidak pernah diketahui bisa menyebabkan bahaya pada manusia.

" Jika seseorang berusaha merekayasa virus corona baru sebagai patogen, mereka harus membuatnya dari tulang punggung virus yang diketahui menyebabkan penyakit," kata Andersen.

" Kedua fitur virus ini, yaitu mutasi pada bagian RBD dari spike protein dan tulang punggungnya yang berbeda, mengesampingkan adanya laboratorium sebagai kemungkinan asal dari SARS-CoV-2," tambahnya.

Sumber: LiveScience.com

5 dari 9 halaman

Mengejutkan! Virus Corona Tetap Hidup di Paru-paru Korban yang Meninggal

Dream - Disebabkan ayahnya meninggal karena Covid-19, netizen Malaysia bernama Luqman Idris tak sempat melihat wajah orang yang sangat dihormati itu.

Jangankan melihat wajah untuk terakhir kali, mengurus jenazah ayahnya saja keluarganya tak diizinkan oleh rumah sakit.

Luqman dan keluarganya hanya bisa melihat proses pemakaman ayahnya yang sudah dimasukkan ke dalam peti dari jarak cukup jauh.

Tidak ada keluarga dan pelayat yang mengantar hingga ke lihat lahat. Hanya empat petugas medis dengan Alat Pelindung Diri yang memakamkan korban Covid-19.

Sebenarnya ada alasan khusus rumah sakit tidak mengizinkan keluarga menguburkan sendiri anggotanya yang meninggal akibat Covid-19.

Itu karena adanya temuan mengejutkan oleh pakar penyakit menular di Beijing, China, setelah melakukan post-mortem pada 29 pasien Covid-19.

Para pakar dari Peking University International Hospital mengatakan virus corona yang menyebabkan Covid-19 tetap hidup di paru-paru korban bahkan setelah pasien meninggal dunia.

Hasil temuan lainnya dari autopsi juga menunjukkan adanya kerusakan parah pada sistem kekebalan tubuh pasien yang dilakukan virus corona.

Yang lebih mengerikan lagi, infeksi Covid-19 tidak hanya menyebabkan perubahan patologis yang parah di paru-paru. Tetapi juga merusak bronkiolus, yang membuat pasien lebih sulit untuk bernapas.

Karena fakta virus tetap hidup di tubuh orang yang meninggal inilah yang membuat pihak rumah sakit bersikap waspada.

Mereka melarang keluarga mengurus jenazah salah satu anggota yang meninggal karena tidak ingin virus yang masih hidup itu menular.

Sumber: World of Buzz

6 dari 9 halaman

Penampakan Paru-Paru Pasien Pengidap Virus Corona... Astagfirullah

Dream - Kian hari kabar tentang penyebaran virus corona semakin mengkhawatirkan. Beruntung jumlahnya orang terinfeksi virus bernama resmi Covid-19 ini kembali melonjak setelah sempat menyentuh angka 15 ribu orang sehari pada 13 Februari 2020 yang lalu.

Angka itu merupakan jumlah kasus terbanyak yang dilaporkan China dalam satu hari semenjak wabah virus corona merebak pada Desember 2019.

Komisi Kesehatan Hubei juga melaporkan tambahan jumlah kasus korban virus corona yang meninggal mencapai 242 pada hari yang sama.

Peningkatan jumlah yang dramatis itu karena pemerintah Provinsi Hubei telah mengubah cara mendiagnosis pasien virus Covid-2019.

7 dari 9 halaman

Selama ini pemerintah China hanya mengandalkan tes darah, yang persediaannya terbatas dan dapat memakan waktu berhari-hari untuk memberikan hasil.

Sekarang, pemerintah Provinsi Hubei mulai menggunakan teknik computed tomography (CT) scan untuk mengetahui seseorang terjangkit virus corona.

Dalam ilmu kedokteran Radiologi, teknik yang digunakan oleh pemerintah Provinsi Hubei ini dikenal dengan istilah Ground-glass opacity (GGO).

Dengan metode baru ini, dokter dapat dengan cepat mendiagnosis dan melakukan perawatan terhadap warga yang terjangkit virus Covid-2019.

8 dari 9 halaman

Meskipun hasilnya kurang begitu akurat dibandingkan dengan tes darah, tapi para dokter di Wuhan tetap menggunakan teknik GGO ini.

Alasannya adalah mereka sudah kehabisan persediaan peralatan medis untuk melakukan pengujian terhadap orang yang diduga tertular virus.

Pasien yang didiagnosis melalui CT scan akan menunjukkan tanda-tanda terjangkit virus corona di paru-parunya dalam bentuk bercak-bercak ground-glass.

Seperti diketahui, paru-paru normal atau sehat akan tampak berwarna hitam saat dilakukan pemindaian. Jika ada satu atau dua bercak putih kecil, maka itu adalah hal yang wajar.

   Kondisi paru-paru yang normal akan berwarna hitam saat dilakukan pemindaian CT scan.© Shutterstock

 

9 dari 9 halaman

Namun jika mereka terjangkit virus corona, akan muncul bercak-bercak putih di paru-parunya dalam jumlah besar.

   JIka terjangkit virus corona, maka paru-parunya dipenuhi bercak putih yang meluas hingga ke bagian tepi.© Weifang Kong and Prachi P. Agarwal

Bercak-bercak itu sebenarnya adalah cairan di ruang paru-paru.

Menurut Paras Lakhani, ahli radiologi di Universitas Thomas Jefferson, bercak-bercak putih pada paru-paru pasien belum tentu akibat terjangkit virus Covid-2019.

" Tanda-tanda putih itu bisa menunjukkan semua jenis infeksi - bakteri, virus, atau kadang-kadang penyakit tidak menular. Bercak-bercak itu bisa saja akibat vaping," kata Lakhani.

Tetapi, lanjut Paras, bercak-bercak yang meluas hingga ke tepi paru-paru pasien patut dicurigai.

   Jika bercak putih meluas hingga ke tepi paru paru, maka patut dicurigai.© Junqiang Lei, Junfeng Li, Xun Li, and Xiaolong Qi

" Bercak putih di area seperti itu tidak umum. Kita pernah melihatnya pada pasien yang terjangkit virus SARS dan juga virus MERS. Ingat, SARS dan MERS juga termasuk dalam keluarga virus corona," tambah Paras.

Sumber: Business Insider

Beri Komentar
Indah Permatasari: Karena Mimpi Aku Hidup