Kota Bogor Alami Lonjakan Covid-19, Simulasi Belajar Tatap Muka Dihentikan

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 16 Juni 2021 17:01
Kota Bogor Alami Lonjakan Covid-19, Simulasi Belajar Tatap Muka Dihentikan
Sejak awal Juni, sejumlah sekolah di Kota Bogor menerapkan simulasi PTM terbatas.

Dream - Pemerintah Kota Bogor kembali memperketat PPKM mikro. Keputusan ini diambil menyusul terjadinya peningkatan jumlah kasus Covid-19 harian.

Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto, mengatakan PPKM akan diberlakukan lebih ketat. Sedangkan tindakan terhadap pelanggaran juga akan dilakukan secara lebih tegas.

" Kita lihat warga sudah mulai merasa kondisi sudah seperti biasa sehingga banyak yang melanggar di atas jam operasional," ujar Bima.

Bima mengatakan sejumlah langkah akan diterapkan akibat adanya kenaikan kasus Covid-19. Apalagi, kata dia, Gubernur Ridwan Kamil sudah menetapkan Jawa Barat berstatus Siaga 1 Covid-19.

Salah satu langkah tersebut yaitu menghentikan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas. Sejak awal Juni, sejumlah sekolah di Kota Bogor sudah menggelar simulasi PTM.

Bima mengatakan sebenarnya simulasi PTM sejauh ini berjalan lancar. Tidak juga muncul keluhan maupun laporan mengenai terjadinya penularan Covid-19 dari kegiatan PTM terbatas.

" Tapi kondisinya sedang tidak biasa, makanya kami memutuskan untuk menghentikan dulu simulasi PTM," kata dia.

 

1 dari 5 halaman

Tambah Kapasitas Rumah Sakit

Kemudian, kapasitas rumah sakit rujukan Covid-19 ditambah seperti pada RSUD Kota Bogor dengan 100 tempat tidur khusus isolasi. Selain itu, kata Bima, Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Kota Bogor juga akan menyiapkan sejumlah gedung milik institusi negara untuk dimanfaatkan sebagai pusat isolasi.

Kita menjajaki juga tempat isolasi tambahan selain di BPKP Ciawi. Jadi, ada satu lokasi yang sedang kita siapkan kalau terjadi lonjakan, pasien bisa dialokasikan ke tempat itu," kata dia.

Tingkat keterisian tempat tidur rumah sakit di Kota Bogor saat ini sudah mencapai 49 persen. Angka ini melonjak dari pekan sebelumnya yang hanya 20 persen.

" Sedikit lagi lewati ambang batas WHO (60 persen), tapi masih cukup rendah dibanding kota-kota lain di Jawa Barat," kata Bima.

Selain itu, vaksinasi juga agak digenjot sehingga bisa menjangkau lebih banyak warga. Khususnya kelompok lanjut usia yang saat ini tergolong masih rendah dari tingkat partisipasi vaksinasi.

" Stoknya (vaksin) masih ada tapi terbatas, saya akan minta ke Menkes untuk ditambahkan vaksin lagi," kata dia, dikutip dari Liputan6.com.

2 dari 5 halaman

Bandung Raya Status Siaga Satu Covid-19, Wisatawan Diminta Tak Berkunjung Dulu

Dream - Gubernur Jawa Barat menetapkan wilayah Bandung Raya dalam status Siaga 1 penyebaran Covid-19. Ini menyusul terjadinya lonjakan pada sejumlah parameter penanganan Covid-19.

" Wilayah Bandung Raya kami nyatakan sedang Siaga 1 Covid-19," ujar Ridwan, dikutip dari Liputan6.com.

Ridwan mengatakan sejumlah parameter mengalami kenaikan dalam beberapa hari belakangan seperti tingkat keterisian tempat tidur (Bed Occupation Rate/BOR) di ruang isolasi yang sudah menyentuh level 84,19 persen di Kota Bandung. Angka ini sudah melampaui ketetapan WHO maksimal 60-70 persen.

" Minggu ini dua wilayah besarnya yaitu KBB dan Kabupaten Bandung zona merah," kata Ridwan.

Untuk menekan agar penyebaran tidak meluas, Ridwan menginstruksikan diterapkannya Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) mikro secara ketat. Praktik Work From Home harus dijalankan dengan porsi 75 persen dan 25 persen sisanya hadir di tempat kerja.

" Sekolah tatap muka juga ditunda dulu, ini sesuai instruksi dari Mendagri," kata dia.

3 dari 5 halaman

Wisatawan Tak Boleh Masuk Bandung Raya

Selain itu, Ridwan juga melarang wisatawan masuk ke Bandung Raya untuk sementara waktu. Minimal tujuh hari ke depan hingga terdapat pengumuman selanjutnya.

" Wisatawan yang mayoritas dari Jabodetabek kami minta untuk tidak datang selama tujuh hari ke depan ke Bandung Raya, khususnya pariwisata yang memang selalu ramai ada di KBB dan Kabupaten Bandung. Kami imbau destinasi wisata untuk ditutup sementara," kata dia.

Ridwan juga menyatakan saat ini pihaknya sedang menarik rem darurat untuk mengendalikan situasi. Ini dipicu meningkatnya kasus Covid-19 di Jawa Barat khususnya Bandung Raya usai lebaran 2021.

" Kondisi Siaga 1 ini mohon dipahami secara jelas, kami sedang menarik rem darurat untuk mengendalikan situasi yang memang terbukti oleh mudik libur panjang yang menghasilkan lonjakan kasus," kata dia.

4 dari 5 halaman

196 Makam di Bandung Dibongkar karena Jenazah Terbukti Negatif Covid-19

Dream - Kepala Dinas Tata Ruang (Distaru) Kota Bandung, Bambang Suhari, meminta rumah sakit lebih cermat mengidentifikasi jenazah pasien Covid-19. Permintaan ini disampaikan untuk menghindari pemindahan makam, seperti yang terjadi di TPU Cikadut, Bandung, Jawa Barat, karena ternyata jenazah yang dikubur negatif Covid-19.

" Kenapa RS kurang teliti mendatangkan jenazah ke Cikadut? Padahal, dia jelas bukan Covid-19. Mungkin hasil swab-nya baru empat hari kemudian. Pada akhirnya yang diabetes, jantung, dan atau penyebab lainnya dimakamkan dengan protokol Covid-19 di Cikadut," kata Bambang, Senin 14 Juni 2021.

Bambang sangat menyayangkan keterlambatan pihak RS dalam mengidentifikasi jenazah, sehingga banyak ahli waris yang mengajukan pemindahan jenazah.

" Karena ada pasien yang meninggal di RS dikabarkan Covid-19. Tapi, akhirnya ahli waris membawa hasil dari RS yang menyatakan negatif. Kondisi tersebut membuat banyak ahli waris mengajukan permohonan pemindahan jenazah yang sudah dimakamkan di Cikadut," bebernya.

5 dari 5 halaman

Petugas Lapangan Berisiko Tinggi Terpapar

Bambang mengingatkan, proses pemindahan cukup berpengaruh terhadap para petugas di lapangan yang sedianya disiagakan untuk menangani pemakaman jenazah lainnya.

" Belum lagi secara kesehatan juga dikhawatirkan. Karena yang mengajukan pemindahan dalam jarak hitungan bulan. Padahal saat itu menjadi proses pembusukan jenazah. Makanya kita sarankan kalau untuk pemindahan sebaiknya di atas dua tahunan agar lebih aman. Secara psikologis juga kurang baik apabila masih dalam proses pembusukan," bebernya.

Kemudian, apabila ternyata jenazah telah terdeteksi sejak dini atau diyakini besar kemungkinan terpapar Covid-19, Bambang meminta agar RS mengarahkan agar jenazah dimakamkan ke TPU Cikadut. Mengingat Pemkot Bandung telah menetapkan TPU Cikadut sebagai tempat pemakaman jenazah khusus Covid-19.

" Sebaliknya, apabila itu betul-betul Covid-19, RS jangan memberi peluang kepada ahli waris seolah bisa dimakamkan di TPU mana saja. Memang betul dari Permenkes jenazah Covid-19 dapat dimakamkan di TPU. Kota Bandung sudah menunjuk dan menetapkan melalui Kepwal bawah TPU Cikadut sebagai TPU khusus memakamkan jenazah Covid-19," ungkapnya.

Beri Komentar