KPAI: Tak Ada Muatan Radikalisme di Kostum Pawai TK di Jatim

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 29 Agustus 2018 13:30
KPAI: Tak Ada Muatan Radikalisme di Kostum Pawai TK di Jatim
KPAI menyatakan kostum tersebut merupakan kelalaian dari pihak sekolah.

Dream - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) memastikan tidak ada unsur doktrinasi paham radikal dalam kostum pawai bercadar dan membawa replika senjata oleh siswa TK Kartika V-69 Probolinggo, Jawa Timur.

Penilaian KPAI ini diperoleh setelah melakukan penelahaan langsung dengan mendatangi dan meminta keterangan sejumlah pihak terkait masalah ini.

" Jadi semua pihak sudah menegaskan kalau adanya replika dengan menggunakan cadar dan bersenjata yang dibawa oleh anak TK itu tidak ada kaitannya doktrinasi soal paham radikalisme," ujar Ketua KPAI, Susanto, dikutip dari Liputan6.com, Rabu 29 Agustus 2018.

Susanto bersama Ketua Divisi Pengaduan KPAI, Susianah Affandy, berkoordinasi dengan Wali Kota Probolinggo, Rukmini beserta sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Polres Probolinggo dan Kodim 0820 Probolinggo membahas persoalan ini.

Susanto menilai kostum anak TK yang menuai polemik tersebut merupakan kelalaian dari pihak sekolah. Tetapi, dia tidak ditemukan adanya penanaman nilai-nilai terorisme.

Meski demikian, dia berharap para guru dan tenaga pendidik memperhatikan betul kasus ini. Susanto meminta mereka tidak sembarangan menggunakan atribut yang kontroversial.

" Sebab adanya simbol atau artibut akan bisa mendatangkan persepsi berbeda bagi orang lain," kata Susanto.

1 dari 4 halaman

Tak ada KPAD di Probolinggo

Selanjutnya, Susanto mendorong Pemerintah Kota Probolinggo segera membentuk Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD). Tujuannya agar persoalan semacam ini dapat diantisipasi di masa mendatang.

" Kami mendorong terbentuknya KPAD Kota Probolinggo. Orientasinya mampu mengantisipasi hal serupa terjadi sehingga selesai ditatanan lingkungan kota setempat," ucap Susanto.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DPPPAKB) Kota Probolinggo, Sukam, menyambut baik rekomendasi KPAI. Dia mendukung dibentuknya KPAD di Kota Probolinggo agar persoalan yang terjadi di Probolinggo tidak meluas.

" Tentu untuk itu, perlu regulasi lagi selain Perwali, sedangkan Perda masih belum. Sudah kami masukkan pada program legislasi daerah (Prolegda)," kata dia.

Sumber: Liputan6.com/Dian Kurniawan

2 dari 4 halaman

Fakta di Balik Geger Kostum Pawai Anak TK Bercadar & Panggul Senjata Mainan

Dream - Rangkaian pawai hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-73 di Probolingggo, Jawa Timur jadi perbincangan di sosial media. Dalam unggahan yang menjadi viral tersebut terlihat peserta pawai dari anak-anak sebuah sekolah Taman Kanak-kanak (TK).

Penampilan peserta pawai, yang sebagian besar perempuan, dari TK itu memang cukup mencolok.

Dari unggahan sebuah video akun Twitter @AbidUmarFaruq, Sabtu 18 Agustus 2018, terlihat anak-anak dari TK tersebut berpawai dengan mengenakan busana hijab dengan cadar menutup wajahnya. Perhatian netizen justru teralihkan dengan aksesoris yang dipakai para bocah cilik tersebut.

Anak-anak TK tersebut memegang senjata mainan sebagai aksesoris penampilannya.Ketika berpawai, terlihat ada orang-orang dewasa yang mendampingi pawai ini.

" Karnaval Di Kota Probolinggo, di perankan anak TK K*****A di lingkungan KODIM 0820 Probolinggo ???pengajaran perang atau pendidikan radikalisme https://t.co/rqfnwW4K4i," cuit @AbidUmarFauq seraya memasukan beberapa akum Twitter lainnya.

Para anak sekolah tersebut adalah peserta dari Pawai Budaya dengan tema Bhinneka Tunggal Ika tingkat TK se-Kota Probolinggo oleh Diknas Kota Probolinggo dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun RI ke-73. Event ini digelar pada Sabtu, 18 agustus 2018 sejak pukul 07.00 sampai 11.00 WIB di Kota Probolinggo dengan 158 peserta. 

Kegiatan ini merupakan event rutin setiap tahun yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Probolinggo dengan Tema Pawai Budaya Bhinneka Tunggal Ika.

3 dari 4 halaman

Warganet Gusar

Penampakan video yang segera menjadi viral di media sosial tersebut membuat sebagain warganet gusar. Netizen langsung menuding jika pihak pengelola TK mengajarkan radikalisme pada anak didiknya.

Sebagian lagi menyebut pihak sekolah mengajarkan paham terorisme sejak dini.

" Ternak teroris sejak dini," cuit@Sentjoko.

" Ini kok semakin nyleneh saja," cuit @amruddinnejad1 dalam bahasa Jawa.

" Coba dicek penggeraknya. Apa kurang baju daerah atau hal lucu lainnya. Kenapa bajunya radikal?" Cuit @sirnajati19.

 

4 dari 4 halaman

Penanggung Jawab TK Minta Maaf

Mengetahui video tersebut viral di sosial media, pihak Polres Probolinggo, langsungg menggelar keterangan pers untuk menjelaskan masalah yang terjadi dari penampilan para peserta pawai tersebut.

Dikutip dari laman www.polresprobolinggokota.info, keterangan pers tersebut dihadiri Kapolres Probolinggo Kota, AKBP Alfian Nurrizal, Dadim 0820 Probolinggo Letkol Kav. Depri Rio Saransi, Kepala Dinas Pendidikan Kota Probolinggo Drs. Moch. Maskur, M.Pd, Ketua Panitia Pawai Budaya Supini dan Kepala Sekolah TK dari TK bersangkutan, Hartatik.

Letkol Kav. Depri Rio Saransi, sebagai penanggung jawab TK dan Paud yang berada di dalam naungan Kodim 0820 Probolinggo menegaskan kejadian tersebut murni untuk memanfaatkan properti yang tersimpan di tempat penyimpanan barang - barang yang ada di sekolah.

“ Dalam hal konteks tema yang sudah disampaikan oleh kepala sekolah, hal itu merupakan murni bertujuan untuk memberikan murid murid tentang perjuangan agama Islam dan saya tekankan lagi murni tidak ada maksud sama sekali atau unsur sengaja untuk menunjukkan paham radikalisme”, jelasnya.

Depri menyampaikan permohonan maaf sekali kembali menegaskan jika insiden yang terjadi tidak ada unsur kesengajaan.

" Sekali lagi tidak unsur dengan sengaja, ini hanyalah semata mata untuk menunjukkan bahwa ikut berpartisipasi dan bukan pemberian doktrin radikalisme”, tambahnya.

 

Beri Komentar
Pengalaman Hidup Berharga Chiki Fawzi di Desa Ronting