Legitnya Kue Investasi Syariah

Reporter : Ratih Wulan
Rabu, 6 April 2016 20:35
Legitnya Kue Investasi Syariah
Kue bisnis halal Indonesia triliunan rupiah. Membentang dari fesyen sampai lantai bursa. Dan kini pasar modal syariah sedang tancap gas. Cukup Rp 100 ribu saja jadi investor.

Dream - Ma la yudraku kulluhu la yutraku kulluhu. Penggalan kalimat berbahasa Arab itu terdengar dari pengeras suara. Menggema ke penjuru lantai Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. Mungkin kalimat itu jarang terdengar di tempat berputarnya triliunan rupiah uang di ibukota itu.

Dan di atas panggung, seorang laki-laki paruh baya berdiri. Mengenakan batik berwarna cokelat tangannya diacungkan tinggi-tingi. Uang lima puluh ribuan dikibas-kibaskan di depan ratusan mata yang sudah duduk sedari tadi. Sebuah mikrofon terkepal erat di depan dadanya. Kalimat berbahasa Arab itu rupanya meluncur dari mulutnya.

Dialah Adiwarman Azwar Karim. Raut wajahnya jenaka. Gaya bicara santai dan kocak. Bicara soal ekonomi syariah, dialah salah satu `jagoannya`. Dia baru saja mencukil penggalan ajaran fiqih dari Syaikh As Sa`di. Pertanyaan untuk penonton yang datang ke gedung BEI.

Sesekali tangan kirinya mengusap jenggot yang mulai memutih. Berkacak pinggang menanti peserta yang berani menjawab.

Seketika, kerumunan peserta yang sedari tadi terdiam mulai ramai. Saling berbisik dengan teman sebelahnya. Malu-malunya seorang mahasiswa mengacungkan jari. Dia yakin punya jawaban benar.

Semua mata menoleh. Melihat perawakan mahasiswa berambut keriting itu. Menunggu jawaban meluncur dari mulutnya. " Sesuatu yang tidak bisa diambil semuanya, maka jangan pula ditinggalkan semuanya," jawaban mantap remaja pria dari universitas negeri di Jakarta itu.

Ternyata jawabannya benar. Mahasiswa berkemeja merah itu tersenyum girang. Adiwarman mengajaknya naik panggung. Uang lembaran Rp 50 ribu diberikan Adiwarman. Sontak lantai bursa yang biasa sepi menjadi ramai. Gelak tawa membahana tatkala mahasiswa itu dengan takzim mencium tangan Adiwarman.

Keceriaan semakin membuncah tatkala seorang gadis berhijab hitam menjawab pertanyaan baru dari Adiwarman. Jawabannya kurang tepat. Tapi Adi berbaik hati. Disuruhnya gadis manis itu maju ke atas panggung. Kali ini bukan uang Rp 50 ribu. Tapi selembar Rp 10.000 saja. Kembali gelak tawa membahana.

Pemandangan langka penuh keceriaan, tanpa ketegangan. Semua yang hadir serasa bukan tengah berada di lantai bursa. Sebuah gedung yang kadung dianggap terlalu berat dimasuki orang awam.

*******

Dari 30 Maret sampai 2 April 2016, gedung BEI memang praktis berubah total. Gedung megah di pusat bisnis Jakarta itu mendadak jadi tempat keramaian. Uniknya lagi, aura yang terpancar adalah syariah.

Bukan hanya orang berdasi dan penampilan necis yang datang. Ada juga pengunjung yang cuma berpakaian kaos oblong, kemeja biasa, bahkan mahasiswa. Mereka berduyun menuju Festival Pasar Modal Syariah 2016.

Sudah bukan rahasia, fulus di bisnis halal sedang tumbuh subur. Uang mengalir dari berbagai penjuru. Dari dalam negeri sampai negeri jauh Eropa dan Amerika.

Siapa yang tak tahu fesyen hijab. Busana tertutup muslimah ini sedang jadi primadona. Saban bulan ada saja desain busana syariah muncul. Tak terbayangkan lagi uang yang mengalir. Ada juga roda bisnis bank syariah Indonesia yang sedang meniti jalan menjadi pusat keuangan syariah dunia.

Di balik dua bisnis itu, ada satu lagi bisnis tengah menggeliat. Pasar modal syariah. Namanya memang terdengar seram. Menyimpan uang di bursa efek. Namun jangan salah, begitu masuk akan ketagihan. Begitu kata Adrian Maulana, artis yang kini banyak menjadi presenter menilai geliat pasar modal syariah.

Mau bukti. Tengok saja data Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dari 581 emiten yang terpampang di papan perdagangan bursa, lebih dari separuhnya, atau 336 adalah perusahaan yang sudah dapat cap halal. Total nilai kapitalisasi dari seluruh emiten itu mencapai Rp 2.800 trilun.

Bukan cuma saham. Tengok juga perkembangan reksa dana syariah. Ini semacam produk investasi seperti tabungan. Sudah ada 97 produk reksadana syariah, hanya 8,58 persen dari porsi seluruh produk reksa dana yang beredar. Nilai aktiva bersih (NAB) dari reksa dana syariah itu Rp 9,54 triliun.

" Atau 3,28 persen dari total NAB lebih dari Rp 270 triliun," kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Nurhaida. Memang masih kecil.

Tapi itulah kabar gembiranya. Ruang investasi syariah tumbuh terbuka lebar. Cobalah lihat negara serumpun Malaysia yang punya titel pusat keuangan syariah dunia. Porsi kapitalisasi pasar modal syariahnya sudah sampai di atas 60 persen. Kue bisnis pasar modal syariah negeri seberang itu berpeluang tercipta di sini. Pasar retail kita lebih raksasa.

Dengarlah pernyataan Nurhaida. pertumbuhan pasar modal syariah saban tahun tumbuh 12-15 persen. Siapa yang tak ngiler dengan pertumbuhan double digit ini.

Tumbuh cepat di pasar saham dan reksa dana syariah, mekar juga di bisnis surat utang syariah. Lazim disebut sukuk ini, sudah ada 45 sukuk korporasi dengan nilai outstanding Rp 9,52 triliun. Memang market share-nya baru 3,57 persen.

Jangan lupa melirik sukuk yang dikeluarkan pemerintah. Ada 49 sukuk negara atau 32,03 persen dari Surat Berharga Negara (SBN) yang nilainya Rp 328 triliun. Itu sama dengan 13 persen dari total nilai SBN.

Sekali pemerintah mengeluarkan Sukuk, antrean pembeli dari dalam dan luar negeri sudah mengular. Penawaran terakhir bahkan naik 2 kali lipat lebih.

Geliat ini tak cuma dirasakan pelaku bursa. Seperti laporan terbaru Indonesia Islamic Finance Report yang dibuat The Islamic Research and Training Institute (IRTI) dan Thomson Reuters. Mereka menyebut Indonesia akan berkontribusi positif bagi pertumbuhan keuangan syariah dunia.

Apalagi pemerintah telah memancang target ambisius lewat sebuah road map untuk industri keuangan syariah, asuransi syariah, dan pasar modal syariah. Targetnya, pangsa pasar tiga bisnis Islami ini meroket menjadi 15 persen pada 2023.

*******

Dan pelan-pelan jalan menuju ambisi itu mulai terbentang. Satu persatu masyarakat Indonesia mulai tergoda. Bukan cuma kalangan berduit atau orang kota yang naik kelas jadi investor. Masyarakat desa seperti di Bireun Aceh, Padang, Sumatera Barat sampai Papua juga mulai tercerahkan.

“ Ya kalau bicara modal kita apa, kita tahu bahwa keunggulan jumlah penduduk Indonesia 254 juta. Itu berkah buat Indonesia,” ujar Direktur Pengembangan PT Bursa Efek Indonesia, Nicky Hogan saat disambangi tim redaksi Dream.

Populasi penduduk memang senjata andalan buat Indonesia. Dan itu menjadi bonus. Ini didukung dengan kemampuan ekonomi masyarakat yang terus meningkat. Dalam lima tahun terakhir, pendapatan per orang per tahun masyarakat terus naik.

Jika pada tahun 2009, pendapatan per kapita baru Rp 20,93 juta per tahun. Di tahun 2013 sudah naik menjadi Rp 32,46 juta per tahun. Persentase naiknya sampai 55 persen.

Dengan sumringah, Nicky juga mengatakan jika investasi saham kini bukan mainan generasi tua. Anak-anak muda yang menyebut dirinya generasi Y, sudah mulai melek investasi. Begitu juga kalangan ibu rumah tangga.

Di Bireun, Padang, Bandung, dan beberapa kota yang disambangi tim edukasi BEI, hampir semua dihadiri investor pemula. Penduduk yang jauh diluar ibukota itu ternyata paham pentingan investasi. Tanpa paksaan apalagi iming-iming keuntungan sekian persen, mereka membuka rekening investasi.

Bahkan di Padang, BEI mencatat ada pembukaan rekening investasi mencapai 3.000 orang dalam sehari. Angka yang fantastis untuk sebuah kota yang jauh dari Jakarta.

“ Paling banyak mahasiswa bertanya risiko. Apa yang harus dilakukan kalau harga saham turun dan beberapa pertanyaan mengarah pada prospek. Dan saya merasa sejauh ini mereka paham pada konteks syariah,” ujarnya yakin.

Tak dipungkiri, masih ada beberapa masyarakat yang mengambil jarak saat berbicara saham. “ Bahasa tubuh mereka langsung mundur satu dua langkah ke belakang,” kenang Nicky.

Salah satu isu yang sering muncul adalah konotasi saham adalah berjudi. Pemikiran ini masih banyak muncul ke permukaan. Namun, Nicky justru menganggap isu itu lebih banyak terjadi di masyarakat perkotaan.

“ Ternyata orang di daerah berpikir lebih maju dari kita yang selalu berpikir ini adalah judi,” ujarnya.

Soal judi ini pun diluruskan Iggi H Achsin. Dia bukan orang sembarangan. Jabatannya, Ketua Bidang Pasar Modal Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI).

Iggi menyebut persoalan saham masuk dalam kategori perjudian memang masih jadi perdebatan. Bagi DSN-MUI, investasi saham tak bisa digolongkan sebagai perjudian. Alasannya, perjudian biasanya melibatkan dua pihak yang diuntungkan dan dirugikan. Hal inilah yang tak terjadi saat berinvestasi produk pasar modal syariah.

Persoalan minimnya investasi muslim di pasar modal syariah, lanjutnya, bukan terletak pada perdebatan judi. " Kenapa orang tak investasi saham syariah? Karena mereka tak punya dana atau mereka tak mengerti," katanya.

Dengan potensi yang ada, IRTI dan Thompson Reuters pun tak ragu, ladang bisnis keuangan syariah Indonesia bakal berkembang besar. Dari 2015 sampai 2020, industri ini bakal tumbuh 10 persen per tahun.

“ Nilai nasionalisme itu harus ada di negeri sendiri, tidak 65 persen dikuasai asing. 10 tahun terakhir indeks kita sedemikian bagus tapi yang menikmati orang asing,” pesan Nicky.

Adiwarman Karim saat itu mungkin hanya memberikan Rp 50 ribu untuk seorang mahasiswa berambut keriting. Tapi tak ada yang tahu, mahasiswa itu mungkin mendapatkan pencerahan dan mendapat uang berkali-kali lipat dari investasi syariah di masa depan. Jadi, investasi syariah tak cuma sekadar manis, tapi legit. Ibarat kue lapis, legitnya berasa dari bawah hingga puncak. 

(Ism, Laporan: Ratih Wulan/Idho Rahaldy)

Beri Komentar