Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi. (foto: Bumpmeetbaby.com)
Dream – Di zaman serba canggih saat ini, berbagai percobaan bisa dilakukan. Para ilmuwan mencoba sesuatu yang saat ini tidak mungkin menjadi terwujud di masa mendatang.
Seperti percobaan yang satu ini. Percobaan tentang kemungkinan bayi lahir ke dunia tanpa dikandung oleh perempuan. Para ilmuwan meneliti kemungkinan bayi bisa dilahirkan melalui sel kulit atau jaringan tubuh lainnya.
Namun, para peneliti mengakui riset ini masih spekulatif. Meski tidak menutup kemungkinan menjadi sesuatu yang nyata di kemudian hari. Wallahu a’lam....
© Dream
Menjadikan tikus sebagai media percobaan, ilmuan di University of Bath, Inggris, berhasil 'melahirkan' keturunan yang sehat tanpa melewati proses alami pembuahan sel telur dengan sperma. Mereka juga tidak menggunakan teknologi kloning.
Hasil yang luar biasa tersebut berarti bahwa sperma berpotensi bisa menyatu dengan sel biasa yang berasal dari kulit atau jaringan lainnya untuk menciptakan embrio normal.
Dr Tony Perry, seorang ahli embrio molekul, menyadari penelitian yang dikerjakan bersama timnya itu menantang dogma yang selama ini dipegang kuat masyarakat ilmiah dan masyarakat awam.
" Sejak ahli embrio pertama kali mengamati telur mamalia sekitar tahun 1827 dan meneliti pembuahan 50 tahun kemudian, mereka hanya menemukan teori bahwa kelahiran hanya mungkin terjadi jika sel sperma membuahi sel telur," jelas Perry.
Tapi dia menekankan bahwa penemuan awal tersebut hanyalah sebuah prinsip, dan berbagai rintangan utama harus diatasi terlebih dahulu sebelum reproduksi tanpa sel telur secara teknis layak diterapkan.
" Ini masih bersifat spekulatif - dan akan terlihat tidak umum," tambahnya.
© Dream
Sebanyak 30 anak tikus lahir dengan tingkat keberhasilan mencapai 24 persen. Pencapaian ini lebih tinggi dibandingkan dengan kloning seperti pada domba Dolly yang hanya 1 hingga 2 persen.
Untuk percobaan ini, para ilmuwan memulainya dengan menciptakan embrio tikus 'parthenogenote'. Embrio yang semuanya berjenis kelamin betina itu diciptakan tanpa sperma dengan menipu sel telur untuk berkembang seolah-olah telah dibuahi.
Embrio mamalia yang dihasilkan dengan cara ini biasanya meninggal setelah beberapa hari. Namun, tim peneliti Dr Perry menemukan bahwa menyuntikkan parthenogenote dengan sperma mengubah mereka menjadi embrio normal yang kemudian menghasilkan keturunan yang sehat.
Hasil percobaan yang dimuat dalam jurnal Nature Communications sangat penting karena parthenogenote memiliki banyak kesamaan dengan sel biasa seperti sel kulit.
Seandainya benar seperti yang dikemukakan Dr Perry, maka teknik akan membantu kaum perempuan yang mengalami masalah dengan kesuburan, entah karena obat-obatan kanker atau radioterapi. Mereka bisa memiliki anak lagi tanpa perlu mengandung atau melakukan adopsi.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya