Menteri Agama Kecam Kekerasan Agama di India

Reporter : Maulana Kautsar
Jumat, 28 Februari 2020 19:03
Menteri Agama Kecam Kekerasan Agama di India
Menag minta umat beragama di Indonesia mengambil pelajaran dan bertoleransi.

Dream - Menteri Agama Fachrul Razi merespons kekerasan yang menimpa umat Islam di India. Dia mengaku prihatin dan mengecam keras peristiwa kekerasan yang mengatasnamakan agama tersebut.

Fachrul mengimbau agar umat beragama di India tidak merusak nilai kemanusiaan atas nama agama.

“ Tidak ada ajaran agama manapun yang membenarkan tindakan kekerasan, apapun motifnya. Memuliakan nilai kemanusiaan adalah esensi ajaran semua agama,” kata Fachrul, di Jakarta, Jumat, 28 Februari 2020.

Fachrul meyakini, tindakan kekerasan sekelompok umat Hindu di India tidak menggambarkan ajaran agama Hindu sendiri. Melainkan akibat adanya pemahaman ekstrem atas ajaran agamanya.

“ Tindakan kekerasan itu sangat tidak berperikemanusiaan dan bertentangan dengan nilai-nilai agama,” ucap dia.

Berkaca pada peristiwa itu, Dia berpesan kepada semua tokoh dan umat beragama di India dan di Indonesia untuk menahan diri dan tidak terpancing melakukan tindakan emosional.

“ Kita doakan para korban, dan kita berharap kehidupan beragama di India kembali kondusif,” ujar dia.

“ Saya berharap umat beragama di Indonesia bisa mengambil pelajaran dari peristiwa di India. Kekerasan atas nama agama apapun tidak boleh terjadi di Indonesia. Mari kita kedepankan kehidupan beragama yang damai, rukun, toleran, bersama dalam keragaman,” kata dia.

1 dari 4 halaman

India Desak Interpol Terbitkan Red Notice untuk Zakir Naik

Dream - Pemerintah India mendesak Interpol untuk memberikan red notice terhadap pendakwah Zakir Naik. Permintaan itu diajukan karena Zakir kini berstatus warga tetap di Malaysia.

Red notice merupakan permintaan untuk menemukan dan menahan sementara seseorang yang dianggap terlibat dalam kasus kriminal.

" Kami punya surat perintah penangkapan dan sesuai hukum, red notice akan menjadi tindakan selanjutnya," kata Direktorat Penegakan Hukum India, dikutip dari Free Malaysia Today, Kamis, 22 Agustus 2019.

Naik telah jadi buronan di India sejak 2016. Polisi India saat ini tengah melakukan penyelidikan terhadap Naik dalam kasus pencucian uang dan menghasut maayarakat dengan tindak ekstremisme melalui ceramah.

Penceramah berusia 53 tahun itu menolak untuk kembali ke negara asalnya. Alasannya, dia tak ingin diadili di bawah pemerintahan India.

Seruan untuk deportasi Zakir bertambah kuat di India, usai kasus ceramah di Kelantan, Malaysia.

2 dari 4 halaman

Desakan Derportasi

Dia diduga mempertanyakan kesetiaan umat Hindu Malaysia kepada Perdana Menteri, Mahathir Mohamad. Dia diduga juga mengatakan bahwa warga Tionghoa di Malaysia dianggap sebagai " tamu" di negara itu.

Dia telah diinterogasi dua kali di markas polisi federal Bukit Aman. Lebih dari 100 laporan polisi diajukan kepadanya.

Naik kemudian meminta maaf atas kesalahpahaman atas pernyataannya. Tetapi menyatakan pernyataannya telah dikutip di luar konteks.

Sejak itu, dia dilarang berbicara di depan publik Malaysia, termasuk melalui platform media sosial. Larangan itu diberlakukan hingga penyelidikannya selesai.

3 dari 4 halaman

Zakir Naik Minta Maaf Atas Ucapan Bernada Rasis

Dream - Zakir Naik menyesal dan meminta maaf atas ucapan bernada rasial yang dia lontarkan. Ucapan penyesalan itu meluncur setelah interogasi secara maraton selama sepuluh jam yang dilakukan polisi Bukit Aman, semalam.

" Kondisi ini membuat saya sedih karena banyak non-Muslim menganggap saya sebagai rasis," kata Zakir, dikutip dari Free Malaysia Today, Selasa 20 Agustus 2019.

Zakir mengatakan, polemik yang terjadi membuatnya khawatir karena banyak ucapan di luar konteks yang muncul. " Itu dapat merusak citra Islam dan membuat orang ogah mengenalnya," kata dia.

Dalam ceramahnya, Zakir meragukan sikap loyal umat Hindu Malaysia dan juga menanyakan posisi komunitas Tionghoa. Ceramah itu dia lakukan di Kelantan, Malaysia.

4 dari 4 halaman

Fitnah Pendukung Pemerintah India?

Saat diinterogasi polisi, Zakir memberikan klarifikasi. Dia meminta maaf kepada siapa saja atas `kesalahpahaman` yang terjadi.

" Aku tak ingin kalian menyimpan perasaan buruk kepadaku," kata dia.

" Bukan niatku untuk memicu amarah pribadi atau komunitas. Memicu amarah bertentangan dengan prinsip dasar Islam dan saya ingin menyampaikan maaf saya atas kesalahpahaman ini," ucap dia.

Naik, dalam kesempatan itu, juga membantah telah memicu sentimen rasial. Dia mengatakan, tuduhan itu merupakan serangan fitnah yang dilontarkan pendukung Perdana Menteri India, Narendra Modi.

Beri Komentar
Indah Permatasari: Karena Mimpi Aku Hidup