Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Dream - Indonesia memang bukan lawan yang mudah dalam pertandingan bulutangkis. Tidak hanya di pertandingan reguler, tetapi untuk pertandingan para pemain bulu tangkis senior. Dalam ajang BWF World Senior Championships 2015, para pebulutangkis veteran Indonesia tetap mengharumkan nama bangsa dengan meraih empat gelar juara.
Seperti dikutip dari laman situs Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI), pada turnamen tahunan yang berlangsung di Helsinborg, Swedia, 20-26 September 2015 ini, Indonesia memetik gelar dari Tony Gunawan/Flandy Limpele di kategori ganda putra +35, Hariyanto Arbi/Tri Kusharjanto (ganda putra +40), Hastomo Arbi (tunggal putra +55) serta Uun Setiawan Santoso/Simbarsono Sutanto (ganda putra +55).
Sedangkan medali perak diraih Karyanto Tan/Suganyanto Hadi Wahono (ganda putra +50) sementara perungu datang dari Tri Cahyo/Eddy Hartono (ganda putra +45) dan pasangan gado-gado, Dharma Gunawi/Jurgen Koch (INA/DEN, ganda putra +40).
“ Hasil ini sangat membanggakan, melebihi hasil sebelumnya di BWF World Senior Championships 2013 di Turki dimana Indonesia mendapat dua medali emas. Padahal beberapa pemain veteran kita kondisinya sedang tidak bagus, seperti Eddy Hartono,” kata Bambang Roedyanto, Kasubid Hubungan Internasional PBSI.
“ Prestasi ini membuktikan bahwa pemain veteran Indonesia masih bisa unjuk gigi di kancah internasional. Mereka sangat termotivasi untuk mengharumkan nama negara dan masih ingin menunjukkan ke pemain-pemain muda bahwa yang tua-tua masih bisa berprestasi, dengan harapan ini akan memompa semangat yang muda,” beber Rudy.
Para pemain veteran ini mengaku tak punya persiapan khusus jelang turnamen. Ide mengikuti kejuaraan pun diprakarsai oleh Effendy Widjaja dari klub Musica Champion Kudus. Latihan bersama selama satu minggu, hanya inilah yang menjadi modal pemain, bahkan Tony/Flandy tidak latihan bersama dan langsung bertanding.
Uniknya, turnamen ini bukan cuma jadi ajang berburu gelar, namun juga momen silaturahmi sekaligus reuni mantan-mantan pemain yang dulunya merajai panggung bulutangkis dunia. Mereka berkumpul bersama dan mengenang masa-masa kejayaan dan saling bercerita pengalaman bertanding kala menjadi musuh di lapangan. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia


5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang