Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Wakil Ketua MUI, Maruf Amin (www.mui.or.id)
Dream - Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan mencetak para da'i bersertifikat. Langkah itu merupakan bagian dari rencana MUI untuk mempersiapkan 150.000 kader ulama dari seluruh Tanah Air.
" Tujuan program ini dilakukan agar para da’i dibekali strategi yang tepat, nanti mereka diberi sertifikat. Jadi ini bukan sertifikasi da’i, akan tetapi kita akan membuat da’i bersertifikat," kata Wakil Ketua Umum MUI, Ma’ruf Amin, dikutip Dream.co.id dari laman resmi MUI, Selasa 22 September 2014.
Menurut Ma’ruf, peran da’i bersertifikat MUI menjadi penting. Sebab, dakwah umat Islam di Indonesia menghadapi dinamika kehidupan yang semakin berat. Sehingga tantangan pun juga semakin banyak.
" Tantangannya semakin besar, kita semakin tidak siap. Dakwah kita sama sekali tidak membawa dampak besar sehingga tidak bisa melakukan perubahan besar," kata dia.
Oleh karena itu, dia mendukung gagasan Komisi Dakwah MUI untuk merumuskan kembali sejumlah tantangan dakwah. Tujuannya, agar nantinya bisa memberikan panduan yang berguna untuk para da’i di tengah gempuran arus informasi.
" Masyarakat yang mulai memahami sekularisme makin banyak, adanya pembenaran pernikahan beda agama hanyalah contoh kecil dari tantangan tersebut," ujar dia.
Para da’i juga perlu mengetahui sasaran dakwah, " Dalam berdakwah perlu sasaran jelas, perlu ada peta untuk mengetahui tantangan di tingkat nasional, karena tiap daerah mempunyai tantangan-tantangan yang bersifat khusus."
Dengan mengetahui peta dakwah, para da’i bisa mempersiapkan diri untuk menghadapi realitas. Bagaimana bersikap di daerah di mana Muslim menjadi minoritas, atau sebaliknya. " Ini harus jelas petanya, sehingga kita bisa melakukan dakwah."
Sementara itu, Ketua Komisi Dakwah MUI, Cholil Nafis, menyatakan siap untuk segera mempersiapkan dakwah berbasis data, dengan peta dakwah digital.
" Di data tersebut, kita bisa tahu misalnya dimana tempat pemurtadan, garis Islam yang mana, paham apa sehingga masing-masing da’i bisa mengakses online melalui keanggotaan tertutup," tutur dia.
" Ikhtiar ini ditempuh agar cara dakwah kita tidak lagi tersusun secara sporadis, tetapi berbasis data, jadi strateginya enak," tambah Cholis. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya