CONNECT WITH US!

Ilmuwan (2): Sudah Mencorong Sejak Aljabar

Reporter : Ramdania | Senin, 22 September 2014 16:52
Ilustrasi
Banyak ilmuwan matematika dari kalangan Muslim. Bukan hanya Bapak Aljabar.

Dream - Ini nama lengkapnya, Abdullah Muḥammad bin Musa al-Khawarizmi. Ilmuwan matematika dari dunia Islam. Hitungan aljabar yang kita pakai zaman modern ini  adalah ciptaannya. Itulah sebabnya, dia kemudian disematkan dengan gelar: Bapak Aljabar.

Lahir tahun 780 Masehi di sebuah desa di Khwarizm, Uzbekistan, dia tidak hanya menjadi matematika, tapi juga ahli dalam bidang astronomi, astrologi, dan geografi. Hidupnya didedikasikan untuk ilmu pengetahuan. Dia menjadi dosen di Baghdad, ketika kota di pesisir sungai Tigris itu menjadi ibukota pengetahuan Islam.

Buku pertamanya berjudul Al-Jabar. Buku inilah yang pertama kali membahas solusi sistematik linear dan notasi kuadrat. Dia jugalah yang memperkenalkan rumusan Algorisme, yang kini dikenal dengan nama logaritma, yang berarti digit.

Bukan hanya Al-Khuwarizmi, pada masa itu, sejarah pengetahuan juga mencatat kehebatan seorang Abdul Wafa Muhammad Al Buzjani. Dia adalah peletak dasar rumus trigonometri. Mengembangkan metode baru tentang konstruksi segi empat, serta perbaikan nilai sinus 30 dengan memakai delapan desimal.

Abul Wafa lah yang mengembangkan hubungan sinus dan formula 2 sin2 (a/2) = 1 - cos a dan juga sin a = 2 sin (a/2) cos (a/2). Selain itu, Abul Wafa juga yang membuat studi khusus menyangkut teori tangen dan tabel perhitungan tangen.

Jika dari masa lalu, para ilmuwan itu hanya kaum lelaki, pada jaman modern ini, Islam banyak melahirkan ilmuwan perempuan. Sebutlah, misalnya, Profesor Universitas Stanford California, Maryam Mirzakhani, yang juga dikenal sebagai ahli matematika. Dia sukses meraih penghargaan Fields Medal,  sebuah penghargaan di bidang matematika yang disejajarkan dengan Nobel.

Muslimah asal Iran itu menjadi perempuan pertama penerima penghargaan tingkat dunia ini. Sejumlah 52 medali sebelumnya diterima ilmuwan pria. Dikutip Dream dari laman New Scientist, Agustus 2014, Maryam menerima medali ini atas keberhasilannya mempelajari geometri modulus ruang. Sebuah geometri dan aljabar kompleks.

Prestasi perempuan berusia 37 tahun ini dianggap sebagai cara baru dalam ilmu pengetahuan dunia. " Dia sangat-sangat terkenal di Iran. Dia menjadi contoh untuk pelajar muda," tutur Presiden Persatuan Matematika Internasional, Ingrid Daubechies.

Sebagai seorang perempuan, Daubechies mengatakan bahwa penghargaan yang diterima oleh Maryam ini sangatlah indah. Sebab, selama ini belum ada satu pun perempuan yang meraih penghargaan tersebut. " Ini akan meruntuhkan fakta  bahwa perempuan tidak pernah menang," ujarnya. Ke depan, tambah Daubechies, akan semakin banyak perempuan yang menerima penghargaan di bidang matematika.

Penghargaan ini akan diberikan oleh Kongres Matematika Internasional di Seoul, Korea Selatan, bulan lalu. Selain Maryam, ada tiga ilmuwan lain yang juga menerima penghargaan empat tahunan ini. Tiga ilmuwan itu adalah Artur Avila dari Brasil, Manjul Bargava dari Universitas Diderot Paris dan Martin Mairer dari Universitas Princenton dan Universitas Marwick, Inggris.

Fields Medal merupakan penghargaan empat tahunan. Pertama kali diberikan pada 1936. Semenjak 1950, penghargaan ini diberikan dalam kurun empat tahunan untuk dua hingga empat ilmuwan dengan syarat berusia di bawah 40 tahun. Syarat ini untuk memacu prestasi para ilmuwan itu agar terus memacu prestasi.

Medali ini semacam Hadiah Nobel untuk bidang matematika, yang didirikan oleh Matematikawan Kanada, John Fields. Para pemenang juga akan menerima hadiah uang sekitar Rp 353 juta.

Salah satu anggota komite yang memilih para pemenang penghargaan ini, Profesor Dame Frances Kirwan dari Universitas Oxford, mengatakan bahwa kemenangan Maryam ini sangat penting bagi kaum perempuan. Sebab, selama ini ilmuwan matematika perempuan jumlahnya sangat sedikit.

Kirwan mencontohkan kasus di Inggris, yang 40 persen dari sarjana matematika adalah perempuan. Namun proporsi itu terus menyusut pada jenjang selanjutnya, mulai PhD hingga gelar di atasnya.

" Saya berharap penghargaan ini akan menginspirasi banyak gadis dan perempuan muda, di negara ini dan dunia, untuk meyakini kemampuan mereka dan berusaha mendapat Medali Fields di masa depan," kata Kirwan.

Sayangnya, keberhasilan Maryam ini menuai kontroversi di negara asalnya, Iran. Sebagaimana dikabarkan  The Guardian, foto saat dia menerima penghargaan tanpa menggunakan hijab menjadi perdebatan di media sosial, terutama setelah Presiden Iran Hassan Rouhani, menyampaikan selamat kepada Maryam dengan memposting foto Maryam tanpa hijab.

Mengapa hal tersebut menjadi persoalan? Menurut hukum Iran, perempuan diwajibkan untuk menutupi diri dari kepala sampai kaki di depan umum. Mereka yang menentang akan mendapat sanksi penahanan. Pada tahun 2010, pengacara HAM terkemuka, Nasrin Sotoudeh, dijatuhi hukuman enam tahun penjara dan menerima hukuman tambahan lima hari penjara karena mem-posting video dirinya tanpa jilbab.

Sotoudeh kini telah dibebaskan. Marzieh Vafamehr, seorang aktris Iran, juga dijatuhi hukuman satu tahun penjara dan 90 cambukan pada tahun 2011 karena tampil dalam sebuah film Australia tanpa penutup kepala.

Negar Mortazavi, seorang aktivis media sosial yang berbasis di Washington, mengatakan di Twitter bahwa langkah presiden dalam berbagi foto dari Mirzakhani belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, ada juga warga Iran yang menyoroti kontroversi seputar Tweet Rouhani tersebut secara santai dengan membalas tweet Presiden dengan kalimat: " Saya mengucapkan selamat kepada Maryam Mirzakhani dengan atau tanpa jilbab tapi kami akan menangkap Anda ketika Anda kembali ke Iran karena foto tersebut."

Mirzakhani memang merupakan perempuan Muslim. Namun, dia menikah dengan seorang ilmuwan komputer berkebangsaan Ceko, Jan Vondrák, yang non-Muslim. Pernikahan mereka termasuk pernikahan yang ilegal di Iran karena berbeda agama. Mirzakhani dan keluarganya pun terancam tidak mendapatkan visa ke Iran, kecuali jika Jan masuk Islam. Mirzakhani dan Jan telah dikarunia seorang anak perempuan bernama Anahita berusia 3 tahun.

Mirzakhani memulai kegemarannya mengutak atik rumus matematika saat bersekolah di Farzanegan, National Organization for Development of Exceptional Talents (NODET), Teheran, Iran. Pada tahun 1999, ia mendapat gelar BSc di bidang matematika dari Universitas Teknologi Sharif Teheran. Tahun 2004, ia mendapat gelar PhD dari Universitas Harvard di bawah bimbingan Curtis McMullen, salah satu pemenang Fields Medal. Pada tahun yang sama, ia menjadi peneliti di Clay Mathematics Institute dan dosen di Universitas Princeton.

Mirzakhani mulai dikenal di dunia internasional setelah memenangkan medali emas di Olimpiade Matematika Internasional 1994 (Hong Kong) dan Olimpiade Matematika Internasional 1995 (Toronto). Pada Olimpiade Toronto, ia merupakan siswi Iran pertama yang lolos dengan nilai sempurna.

Tidak hanya pintar, dia juga seorang yang beruntung karena berhasil selamat dari sebuah kecelakaan bus pada tahun 1997 yang menewaskan 7 ilmuwan matematika dari Teheran Sharif University sepulangnya dari kompetisi matematika di kota barat Ahwaz. Bus tersebut lepas kendali dan masuk jurang.

Kitchen Hacks | Tips Rebus Pasta Agar Al Dente