Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Shutterstock
Dream - Beberapa waktu lalu Kementerian Kesehatan menerbitkan surat edaran untuk mewaspadai perkembangan penyakit Hepatitis Akut. Penyakit ini belum diketahui asal-asulnya.
Menurut WHO dikutip dari Instagram @amanpulungan, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) kasus ini menyerang anak berusia kurang dari atau sama dengan 16 tahun. Mereka mengalami hepatitis akut yang bukan disebabkan virus hepatitis A-E dengan kadar serum transaminase (SGOT atau SGPT) >500 IU/L sejak Oktober 2021 sampai 21 April 2022.

Sejauh ini ada 169 kasus yang dilaporkan kepada WHO, dengan 81 kasus berasal dari Inggris. Mayoritas terjadi pada anak di bawah usia 5 tahun.
Gejala yang terjadi pada hepatitis akut ini sebanyak 58 persen kasus mengalami mual dan muntah Diare Ikterus (kuning di kulit dan mata).
Lalu sebanyak 58 persen pasien mengalami perubahan warna tinja yang lebih pucat. 29 persen pasien mengalami demam. Berdasarkan pemeriksaan laboratorium, peningkatan enzim hati pasien (SGOT/SGPT) menjadi >500 u/L.
Dari 81 kasus di Inggris, 43 anak sembuh, tidak ada yang meninggal, dan 7 anak mendapatkan transplantasi hati.
Berdasarkan data WHO terdapat 74 kasus dari 169 pasien yang dilaporkan terdeteksi adenovirus. Lalu 53 kasus di Inggris diuji terkait adenovirus, ditemukan 40 kasus positif adenovirus tipe 41F.
Sebanyak 9 dari 9 kasus yang dilaporkan di Alabama, AS juga seratus persen positif disebabkan adenovirus. Namun, virus hepatitis A, B, C, D, dan E tidak ditemukan pada semua kasus hepatitis akut ini. Kemungkinan penyebab lain seperti zat-zat beracun masih diinvestigasi
Adenovirus adalah jenis virus yang sering ditemukan sehari-hari, biasanya menyebabkan gejala diare, muntah, demam, dan gejala saluran pernapasan. Kebanyakan terjadi pada anak usia kurang dari 5 tahun yang belum divaksin COVID-19.
Sejauh ini terjadi kenaikan angka infeksi adenovirus pada anak di Inggris sejak November 2021 dibandingkan 5 tahun ke belakang.
Ketua IDAI, Aman Pulungan juga menyimpulkan bahwa investigasi terus berlangsung untuk mengidentifikasi penyebab wabah hepatitis akut. Orangtua dan anak harus waspada dengan menjaga kebersihan tangan dan makanan dan jika mengalami sakit, segera hubungi tenaga kesehatan terdekat ya, Sahabat Dream.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya