6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Ilustrasi
Dream - Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau agar perdebatan soal poligami tak menjadi isu yang diusung untuk kepentingan politik. Poligami merupakan bagian dari syariah Islam yang pelaksanannya tetap harus memenuhi syarat yang cukup berat.
Sebelumnya, isu poligami menjadi polemik dan perbincangan lantaran penolakan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Pernyataan itu didukung Komnas Perempuan yang menilai poligami bukan merupakan bagian dari ajaran Islam.
Imbauan MUI tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum MUI, Zainut Tauhid Sa'adi yang meminta semua partai politik dalam berkampanye hendaknya tidak melakukan fitnah atau berbau SARA.
" Isu poligami misalnya, meskipun hal itu merupakan fenomena sosial, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa masalah tersebut bersentuhan dengan keyakinan dan syariat agama Islam," ujar Zainut dalam keterangan tertulis yang diterima Dream, Selasa 18 Desember 2018.
Zainut khawatir mengeksploitasi isu poligami akan menimbulkan ketersinggungan dan perasaan umat Islam. Sebab, secara ajaran, poligami dibolehkan.
" Ketika hal itu dieksploitasi untuk kepentingan politik, maka dipastikan menimbulkan ketersinggungan dan melukai perasaan umat Islam karena meyakini dan mengimani, bahwa poligami itu adalah salah satu syariat yang terdapat di dalam ajaran Islam," ucap dia.
Zainut menjelaskan, berkampanye menggunakan unsur SARA, ujaran kebencian atau fitnah dapat merusak perbedaan dan peradaban serta akan menghancurkan sendi-sendi kebhinnekaan dan kerukunan bangsa.
" Kepada KPU dan BAWASLU diminta untuk bertindak tegas kepada para peserta Pemilu yang melakukan politik SARA sehingga Pemilu berjalan dengan damai, bersih dan dan aman," kata dia.(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
