Dituduh Salah Penanganan, Novel Baswedan: Dokter Mata Saya yang Terbaik di Dunia

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Rabu, 17 Juni 2020 17:00
Dituduh Salah Penanganan, Novel Baswedan: Dokter Mata Saya yang Terbaik di Dunia
"Yang tangani saya adalah dokter mata spesialis kornea yang terpapar bahan kimia, yaitu Prof Donal Tan. Dalam beberapa rating yang bersangkutan adalah dokter kornea yang terbaik di dunia,"

Dream - Penyidik senior Komisi Pemberantas Korupsi (KPK), Novel Baswedan menegaskan dokter mata yang menangani kedua koreanya isao tersiram air keras oleh dua orang penyerang yang hanya dituntut penjara setahun merupakan dokter terbaik di dunia.

Novel menegaskan hal itu ketika tim hukum kedua terdakwa, Rahmat Kadir Mahulette dan Ronny Bugis menuding kerusakan matanya terjadi akibat kesalahan dalam penanganan, bukan karena penyerangan yang dilakukan dua terdakwa.

" Yang tangani saya adalah dokter mata spesialis kornea yang terpapar bahan kimia, yaitu Prof Donal Tan. Dalam beberapa rating yang bersangkutan adalah dokter kornea yang terbaik di dunia," ujar Novel saat dikonfirmasi, Selasa 16 Juni 2020.

Novel Baswedan juga tak heran apabila tim hukum kedua tersangka menggunakan argumentasi tersebut. Alasannya, dia sudah pasrah sejak kasus ini naik ke tingkat penyidikan di Polri.

1 dari 3 halaman

Sudah Tak Berharap

" Sejak awal saya katakan, saya tidak menaruh harapan pada proses hukum ini, karena saya tahu tidak ada itikad baik, kecuali presiden memberi perhatian," kata Novel.

Novel juga mengaku melontarkan protes keras terakit kasusnya karena merasa adanya ketidakadilan dalam proses hukum. Ia meminta agar ketidakadilan hukum dialami pihak lain.

" Adapun saya melawan dan protes karena tidak boleh membiarkan keadilan diinjak-diinjak, wajah hukum yang bobrok dipertontonkan dan ini mencederai keadilan bagi kemanusiaan di masyarakat luas," kata Novel Baswedan.

2 dari 3 halaman

Salahkan Penanganan

Sebelumnya, penasihat hukum (PH) terdakwa kasus penyerangan Novel Baswedan, Rahmat Kadir Mahulette menyebut kerusakan mata Novel Baswedan terjadi karena kesalahan penanganan pascapenyiraman, bukan akibat serangan yang dilakukan kliennya.

Kuasa hukum Rahmat juga meyakini, kliennya tidak berniat melakukan kejahatan berat.

" Terdakwa tidak ada niat atau maksud untuk melakukan penganiayaan berat, kerusakan mata korban bukan akibat langsung dari penyiraman asam sulfat dicampur air, tapi kesalahan penanganan dalam proses selanjutnya," kata penasihat hukum Rahmat Kadir Mahulette, Widodo, saat pembacaan nota pembelaan (pledoi) di Pengadilan Negeri Jakarta Utara.

3 dari 3 halaman

Dituduh Tak Ikuti Prosedur

Widodo menambahkan kerusakan mata Novel Baswedan karena penanganan medis yang salah. Dia menyebut, tindakan Novel tidak mempertimbangkan masukan dokter yang merawatnya di rumah sakit.

" Dalam proses persidangan terungkap kerusakan mata Novel Baswedan karena penanganan tidak benar yang diakibatkan sikap saksi korban sendiri yang tidak kooperatif dan tidak sabar terhadap perlakuan dokter-dokter di rumah sakit," ungkap pengacara.

Menurut pengacara Rahmat, pada 11 April 2017 setelah mengalami serangan, Novel dibawa ke RS Mitra Keluarga Kelapa Gading. Di sana, oleh dokter IGD, mata Novel dicuci dengan air sehingga PH-nya menjadi 7 yang artinya sudah netral.

" Tapi saksi korban mengatakan pihak RS tidak bisa diandalkan untuk merawat mata sehingga korban dirujuk ke Jakarta Eye Center sehingga seharusnya saksi korban diobservasi 10 hari lebih dulu, tapi malah dipindah ke Singapura karena keinginan keluarga bukan karena rekomendasi dokter yang merawat," ungkap pengacara.

Pengacara Rahmat mengatakan dokter juga menyayangkan sikap buru-buru yang dilakukan Novel Baswedan karena seharusnya Novel bersabar untuk diobservasi atau bila dipindah menurut saksi dokter Yefta seharusnya dibawa ke Sydney, bukan ke Singapura.

(Sah, Sumber: Liputan6.com)

Beri Komentar