Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Semprotan Disinfektan Di Jalanan (Twitter @FaheemYounus)
Dream - Penyemprotan disinfektan di jalanan menjadi tren baru selama pandemi Covid-19. Bahkan banyak institusi yang melakukannya.
Truk pemadam kebakaran menyemprot jalanan atau kendaraan milik Kepolisian menyemburkan cairan mengandung disinfektan mungkin sudah jadi pemandangan umum. Hal ini mengundang komentar pakas medis AS, Dokter Faheem Younus.
Younus memberikan komentarnya terhadap kegiatan tersebut. Dia mengunggah beberapa foto penyemprotan disinfektan di jalanan, yang sayangnya, tampak terjadi terjadi di Indonesia.
" Benar-benar buang-buang waktu, uang, dan energi," cuit dia.
Younus punya alasan mengapa penyemprotan tersebut seperti percuma. Dia mengatakan disinfeksi permukaan tidak diperlukan pada jalanan dan ruang terbuka.
" Rumah sakit dan kamar dengan pasien Covid-19 adalah cerita lain," kata dia.
Benar-benar buang-buang waktu, uang, dan energi ⬇️
Desinfeksi permukaan TIDAK diperlukan di jalan dan ruang terbuka. Rumah sakit dan kamar dengan pasien COVID adalah cerita lain pic.twitter.com/5YAMTBPpI3— Faheem Younus, MD (@FaheemYounus)July 6, 2021
Younus kini tengah populer di media sosial. Meski sebagai pakar kesehatan di Amerika Serikat, dia ternyata benar-benar memperhatikan kondisi Covid-19 di Indonesia.
Younus kerap membuat cuitan mengomentari kebiasaan orang-orang Indonesia yang " nyeleneh" selama pandemi. Seperti memborong susu beruang, kelapa muda, dan lain sebagainya hanya karena panik dan termakan hoaks.
Tidak jarang pula dia membuat cuitan dalam bahasa Indonesia. Akibatnya, akunnya banyak disukai warganet Indonesia.
Dream - Lonjakan kasus Covid-19 yang terjadi di Indonesia dalam beberapa hari terakhir mengundang sorotan pakar kesehatan AS, Faheem Younus.
Kepala Departemen Penyakit Menular Universitas Maryland, Amerika Serikat, ini membuat cuitan khusus mengenai kondisi Indonesia.
Faheem menyinggung data kenaikan kasus di Indonesia yang melonjak 67 persen. Selain itu, dia juga menyoroti munculnya kasus baru melebihi angka standar.
" 22 per 100 ribu kasus baru (seharusnya <5/100 ribu)," tulis Faheem di Twitternya, @FaheemYounus.
Tak hanya itu, dia juga menyoroti tingkat vaksinasi. Menurut dia, baru 6 persen populasi Indonesia yang sudah mendapatkan vaksin.
" Karena tingkat pengujian rendah, kasus aktual+kematian lebih tinggi. Covid tidak akan pergi hanya dengan berpura-pura tidak ada," tulis dia.
Kasus baru di Indonesia pada 17 Juni 2021 melonjak sangat tinggi mencapai 12 ribu kasus dalam sehari. Padahal sejak Maret 2021, angka kasus harian selalu berada di bawah 10 ribu.
COVID Surging in Indonesia
- 67% of peak and RISING
- 22 per 100,000 new cases (should be <5/100,000)
- Only 6% population vaccinated
Due to low testing, ACTUAL cases+deaths much higher
COVID won’t go away by pretending it doesn’t existhttps://t.co/jSTKsDMxbK pic.twitter.com/l3UAFR1XVL— Faheem Younus, MD (@FaheemYounus)June 17, 2021
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya