Peluru di Ruang Anggota Fraksi PAN & Demokrat dari Penembakan Senin

Reporter : Maulana Kautsar
Rabu, 17 Oktober 2018 15:55
Peluru di Ruang Anggota Fraksi PAN & Demokrat dari Penembakan Senin
Dedi meminta semua pihak menyerahkan penanganan kasus ini ke polisi.

Dream - Polisi memastikan peluru yang ditemukan di ruang kerja anggota Fraksi PAN dan Demokrat pada Rabu 17 Oktober 2018 merupakan sisa penembakan pada Senin lalu. Dua pelor itu merupakan sisa proyektil yang belum ditemukan.

" Itu merupakan sisa dari empat peluru yang ditembakkan kemarin. Jadi dari hasil olah TKP kemarin baru ditemukan dua peluru dan hari ini ditemukan lagi dua peluru," ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo, dikutip dari Liputan6.com.

Menurut Dedi, berdasarkan keterangan tersangka dan pemeriksaan laboratorium forensik, peluru yang terlepas dari senjata api berjumlah empat butir. Tapi, polisi baru menemukan dua peluru di ruang kerja nomor 1313 dan 1601 pada Senin, 15 Oktober 2018.

Temuan dua peluru hari ini telah diuji balistik di laboratorium forensik. " Jadi langkah Polri tetap selesai melaksanakan olah TKP kemudian peluru yang diambil nanti dibawa ke labfor, jadi supaya identik antara senjata yang digunakan dengan peluru yang ditemukan di TKP," kata dia.

1 dari 1 halaman

Semua pihak diminta tetap tenang

Dedi meminta semua pihak tenang dan mempecayakan kepolisian untuk menangani kasus tersebut. " Itu sisa kemarin. Jadi tolong tetap tenang. Ini artinya Polda Metro mampu mengendalikan keamanan di Jakarta," ucap dedi.

Sementara itu, Kepala Bidang Balistik, Metarlugi Forensik Puslabfor Polri, Kombes Ulung Kanjaya mengatakan, bekas tembakan di ruangan Fraksi PAN dan Fraksi Partai Demokrat di DPR merupakan sisa peluru ditembakan dua tersangka IAW dan RMY.

" (Ini kejadian Senin kemarin?) Iya sama," kata Ulung.

Dia mengatakan, bekas tembakan baru diketahui hari ini. " Iya, karena kemarin libur. Baru ketahuan sekarang," ujar Ulung.

Sumber: Liputan6.com/ Raden Tri Mutia Hatta

Beri Komentar
Indah Permatasari: Karena Mimpi Aku Hidup