Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Pemerintah Tiongkok berharap komunitas Muslim di sana, termasuk Uighur dapat merayakan Ramadan dengan gembira. Padahal, di sisi lain mereka menerapkan sejumlah larangan yang menekan komunitas Muslim.
Dalam laman resmi Kota Korla, Xinjiang, pemerintah lokal mengeluarkan peringatan yang berisi larangan kepada anggota partai, kader, PNS, pelajar, dan anak-anak untuk berpuasa Ramadan serta tidak mengambil bagian pada aktivitas keagamaan serta pergi ke masjid.
" Ramadan adalah saat yang tepat bagi kami para Muslim untuk memurnikan hati, menguatkan pikiran, dan memperdalam ibadah. Tapi, warga non-Muslim sekitar masih membutuhkan kue dan pelayanan kami," ujar Mayis Hagei, pembuat kue di Provinsi Gansu kepada China Daily. Para pemilik restoran dan toko memilih tetap membuka usaha seperti biasa sepanjang bulan Ramadan.
Tiongkok memiliki sekitar 20 juta penduduk Muslim dan kawasan barat jauh Xinjiang adalah rumah bagi 10 juta Muslim Uighur. Mereka kerap mendapat tekanan setelah Xinjiang dinyatakan masuk ke dalam kedaulatan Tiongkok, seperti pelarangan menggunakan hijab, memanjangkan jenggot, dan penggunaan bahasa Uighur.
Tahun lalu, Pemerintah Tiongkok memerintahkan toko-toko di Xinjiang menjual alkohol dan rokok atau ditutup. Langkah ini dipandang sebagai upaya melemahkan pengaruh Islam di wilayah tersebut.
Tekanan itu menimbulkan reaksi cukup keras dari Muslim Uighur. Sejumlah aksi perlawanan mereka lancarkan seperti kasus penusukan di Stasiun Kereta Kunming.
Namun, pemerintah berusaha menyalahkan kelompok ektrimis, lalu menerapkan langkah pencegahan dengan semburan api.
Menurut laporan harian Xinhua, Pejabat Tinggi Partai Komunis Xinjiang Zhang Chuanxian dan sejumlah pejabat lain berharap Ramadan dapat dirayakan dengan penuh perdamaian. Mereka juga berharap Muslim Tiongkok dapat menjadi contoh integrasi yang berhasil.
Pengakuan tersebut merupakan hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
" Sepanjang bulan Ramadan, restoran Muslim dapat memutuskan apakah akan tetap buka. Tidak akan ada pemaksaan. Pemerintah daerah memastikan seluruh kegiatan keagamaan akan berjalan dengan tertib," kata Zhang.
Sumber: shanghaiist.com
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya