Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Ilustrasi
Dream - Seorang pemuda yang gemar bermain gim komputer, John Duttenhofer, pergi ke Suriah untuk berperang melawan kelompok ISIS. John bergabung bersama militan Yekineyen Parastina Gel (YPG) atau Unit Proteksi Orang.
Uniknya, John tak punya latar belakang militer. John nekat pergi ke Suriah berbekal gim perang Call of Duty yang dia mainkan setiap hari.
John mengaku, menghabiskan bermain gim Call of Duty selama 13 jam sehari. Dari gim tersebut dia belajar menghadapi pertempuran dan menyergap lawan.
" Saya mempersiapkan diri mengenai strategi perang dan cara agar tidak terbunuh, seperti cara menggunakan anti peluru dan tidak berdiri di tempat terbuka," kata John dikutip dari The Stars, Kamis 28 Februari 2019.

John Duttenhofer belajar strategi perang dari gim (Foto: Twitter)
John menghabiskan waktu bermain gim setelah sekolah. " Dalam gim kamu akan tertembak dan kamu dengan cepat belajar jika kamu terbunuh, tetapi dalam kehidupan nyata kamu hanya mati," ujar dia.
John mengatakan, meski telah di zona perang tetap menyisihkan waktu bermain gim. Dia menghabiskan siang untuk bermain Dungeons and Dragos, membaca, dan ngobrol.
Tetapi pada malam hari, pemuda asal Colorado, Amerika Serikat (AS) itu akan menemani unit penembak jitu dengan AK47 untuk melacak pejuang ISIS.
Pemerintah AS sebetulnya telah menyarankan warganya untuk tidak ke Suriah. AS juga menyebut, tidak ada konsekuensi hukum untuk menjadi sukarelawan memerangi ISIS dengan milisi Kurdi dan Suriah.
“ Saya tidak memiliki masalah tentang itu. Mereka (ISIS) adalah kelompok yang lebih buruk daripada Nazi. Mereka ingin menjalani zaman kegelapan lagi dan aku tidak ingin hidup di dunia bersama mereka," ujar dia.
John kembali ke kampung halamannya pada Februari 2019. Dia kembali empat bulan setelah sahabatnya warga Inggirs tewas pada Oktober 2018.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam