Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Danial Arief (Siakapkeli.my)
Dream - Seorang pemuda asal Penang, Malaysia, Danial Arief, mengalami kejadian buruk ketika bekerja di Korea Selatan. Dia terpaksa kehilangan dua kakinya lantaran kecelakaan fatal.
Danial bekerja di pabrik daur ulang sampah plastik. Tanpa sengaja, kakinya tergerus dan tergiling mesin.
Peristiwa nahas itu berlangsung pada Oktober tahun lalu. Karena tidak bisa diselamatkan, dua kaki Danial harus diamputasi.
Pemuda itu kemudian menceritakan detik-detik mengerikan yang dia alami di akun Facebooknya. Dia mengaku mengalami rasa sakit yang tak terbayangkan.
Dikutip dari Siakapkeli.my, Danial bercerita saat dia bangun tidur pada Senin, 19 Oktober 2018. Waktu itu, dia bangun pagi seperti biasa, pukul 06.00 waktu setempat dan mulai bekerja pada pukul 07.00.
" Usai mandi dan bersiap, sekitar pukul 06.40, saya turun ke ruang utama hendak merokok. Anehnya, sepatu boot saya hilang di hari itu," tulis Danial.
Danial mengaku sudah mencari ke manapun namun tetap saja sepatunya tidak ditemukan. Dia lalu memutuskan untuk meminjam sepatu teman.
" Saya lalu pergi ke bagian mesin dan menyalakannya. Maklum, pekerjaan saya adalah menyalaman mesin pendaur ulang," kata dia.
Pada pukul 09.00, seorang pelanggan wanita datang. Danial memanggilnya dengan Omma karena sudah seperti ibu sendiri. Pun demikian, dia juga diperlakukan wanita itu selaiknya anak sendiri.
" Dia mau mengantarkan saya ke klinik untuk memeriksakan kaki saya. Sepekan sebelumnya, betis saya terkena pisau, lukanya dalam," tulis dia.
Singkat cerita, pukul 15.00, mesin mati mendadak. Sebagai operator sekaligus teknisi, Danial segera memeriksa mesin tersebut.
" Mesin itu tidak bekerja, saya pun heran. Saya tanya ke atasan selaku orang lama, meminta izin masuk ke dalam mesin," kata dia.
Danial lalu masuk ke dalam mesin setelah dibolehkan oleh atasannya. Si atasan sudah memastikan mesin dalam keadaan aman.
" Ketika sedang membersihkan benda yang tersangkut, tiba-tiba saya jatuh ke mesin penggiling," kata Danial.
Seketika, Danial meneriakkan takbir dan menjerit. Sempat tersirat dalam benaknya, pemuda itu mengira akan mati. Dia juga sempat melihat kondisi kakinya yang hancur.
" Ya Allah, semua orang mengelilingi saya dan menangis. Sahabat, saya hampir pingsan. Merinding melihatnya. Saya meraung sekuat tenaga," kata Danial.
Tiga menit kemudian, tim penyelamatan dan medis tiba dan segera mengevakuasi Danial. Pemuda itu merasa sangat kehausan.
" Saya pikir, ya Allah, inikah sakaratul maut??? Saya merasakan sangat-sangat haus," terang Danial.
Petugas medis kemudian bertanya siapa nama lengkap Danial. Di mana tempat tinggalnya. Pemuda itu tak sanggup menjawab dan terus minta air, namun dilarang dengan alasan bahaya.
" Setelah itu, masker oksigen menutup bagian mulut saya. Orang medis itu terus mengajak saya bicara. Kaki kanan saya hancur, kaki kiri tersangkut," ucap Danial.
Tim medis memutuskan untuk mengamputasi kaki Danial lantaran sulit diselamatkan. Setelah itu, Danial segera diangkut dengan ambulans dan dilarikan ke rumah sakit menggunakan helikopter.
Dalam situasi itu, Danial hampir pingsan namun salah satu tenaga medis menamparnya agar pemuda itu tetap sadar.
" Dia bilang bangun. Setelah itu dia tanya apa makanan kesukaan saya, mengapa saya tidak suka makanan Korea? Saya diam dan hanya menjawab dalam hati. Kepala saya pusing sekali," ucap Danial.
Terbang selama lima menit, Danial tiba di Ajoudae Hospital. Saat itu, pandangannya mulai kabur. Perawat lalu kembali menampar mukanya.
Danial langsung dibawa ke ruang bedah. Di dalam ruangan sudah ada beberapa dokter yang siap memberikan tindakan. Setelah itu, dokter memberikan obat bius hingga Danial tertidur.
" Setelah tiga hari, saya pun sadar. Benda pertama yang saya cari adalah air. Saya memang sangat haus," tutur Danial.
Keesokan harinya, keluarga Danial datang dari Malaysia. Ayah dan ibunya menangis melihat kondisi Danial.
" Ya Allah, betapa sedihnya saya melihat mereka menangis. Sumpah, saya tidak kuat," tulis dia.
Danial kemudian berpesan kepada semua orang agar memperhatikan faktor keselamatan dalam bekerja. " Berpikir logis, jangan seperti saya," kata dia.(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya