Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Pesanan Fiktif (World Of Buzz)
Dream - Di tengah pandemi corona yang sedang melanda banyak warga di berbagai negara, masih ada saja orang yang berniat jahat. Salah satu yang cukup mengesalkan adalah pesanan fiktif yang dilakukan lewat jasa pengantaran online.
Tak hanya di Indonesia, kejadian serupa ternyata terjadi di Singapura. Korbannya adalah seorang penjual bakmi yang mendapat pesanan 16 mangkok.
Jasa pengantaran makanan online saat ini sedang marak di sejumlah negara terutama Singapura, seiring penerapan lockdown. Bahkan, banyak restoran yang akhirnya menyediakan layanan pesan antar
Penjual bakmi, Ivan Tzx, mendapatkan order fiktif sebanyak 16 porsi makanan. Si pemensan memintanya mengirimkan makanan tersebut ke alamat yang ternyata palsu.
Ivan pun membagikan pengalamannya menjadi mangsa pemesan iseng. Seperti tidak puas membuat rugi satu dua mangkuk bakmie, orang iseng tersebut mengambil langkah lebih jauh dengan memesan 16 porsi mie di resto milik Ivan.
Makanan itu dipesan melalui jasa pengantaran makanan online. Setelah makanan siap, si pengantar segera mengirimkan makanan.
Setelah mengantarkan makanan ke alamat tujuan, si pengantar mendapati pemesan telah menekan tombol 'sudah menerima pesanan' di aplikasi. Merasa aneh, pengantar makanan tersebut menelepon pemilik rumah.
Pengantar makanan tersebut lalu menanyakan apakah penghuni rumah itu memesan bakmi sebanyak 16 porsi. Penghuni rumah terkejut karena mereka tidak memesan makanan sama sekali.
Situasi semakin buruk bagi penghuni rumah di alamat tujuan. Mereka bahkan harus memasang pemberitahuan kepada para pengantar makanan maupun jasa pengiriman bahwa tidak memesan apapun.
" Untuk petugas pengiriman, harap dicatat bahwa kami tidak memesan paket online, kami belum memesan makanan atau barang lain," demikian isi catatan tersebut yang tertempel di dinding.
Alhasil, tak hanya Ivan namun para pengantar makanan turut mengalami kerugian. Ivan kehilangan 16 mangkok, sementara pengantar makanan kehilangan ongkos kirim.
Penyebabnya, adanya opsi 'cash on delivery' pada aplikasi pengiriman. Sehingga, pesanan baru dibayar jika sudah diterima pembeli.
Ivan langsung membuat laporan ke polisi.
Terlepas dari pekerjaan apapun yang dimiliki setiap orang, kita tetap harus memiliki rasa hormat terhadap orang yang bekerja keras di dalam situasi seperti sekarang. Seperti pengendara pengiriman makanan, pedagang resto, dan lain-lain.
(Sumber: World of Buzz)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya