Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan penyatuan kalender Hijriah saat ini sudah menjadi kebutuhan mendesak. Banyak harapan dari masyarakat agar terdapat kesamaan pandangan dalam penentuan awal-awal bulan Hijriah khususnya Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah.
" Harapan publik, ekspektasi masyarakat akan perlunya kesamaan cara pandangan kita dalam menentukan 1 Ramadan, 1 Syawal, dan 1 Dzulhijjah itu semakin besar. Persoalannya, apakah cara pandang umara ini sama dengan yang dilihat oleh ulama," ujar Lukman, dikutip Dream dari laman kemenag.go.id, Rabu, 8 Juli 2015.
Lukman mengatakan, perbedaan pandangan yang terjadi selama ini berpengaruh terhadap persoalan sosial kemasyarakatan. Salah satunya adalah menciptakan kesenjangan lantaran perbedaan Hari Raya Idul Fitri.
Pasalnya, menurut Lukman, umat Islam Indonesia memiliki tradisi yang tidak ditemukan di negara lain yaitu mudik. Sebagian besar umat Islam Indonesia telah mengatur rencana mudik, sehingga karena perbedaan pandangan terkait penetapan 1 Syawal dapat berpengaruh pada rencana mereka.
" Ini bahkan dalam hal-hal tertentu menyebabkan segala daya dan upaya yang disiapkan untuk menyikapi persoalan sosial kemasyarakatannya jauh lebih besar dibanding ibadah mahdlah-nya," kata dia.
Selanjutnya, terang Lukman, kemungkinan untuk kesamaan penetapan 1 Syawal terbuka lebar. Hal ini mengingat manfaat yang timbul akan jauh lebih besar.
" Manfaatnya jauh lebih besar kalau ini bisa disamakan. Dengan kata lain, banyak hal-hal potensi madlarat, potensi kemafsadatan yang bisa dihindari kalau kita bersama-sama memasuki 1 Syawal," ungkap dia.
Tetapi, Lukman mengakui pandangan ini merupakan pandangan umara. Sementara dia tidak mengetahui bagaimana kalangan ulama dalam melihat persoalan ini.
" Kami melihat persoalan ini harus diatasi secara lebih serius, arif, dan bijak. Karenanya halaqah semacam ini menjadi penting dalam rangka pemerintah bisa mendapatan masukan bagaimana sebenarnya pandangan para ulama dan pimpinan pondok pesantren dalam melihat persoalan ini," terang Lukman.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya