Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Diskusi Islam Nusantara Di Gedung PBNU Jakarta (Dream.co.id/Maulana)
Dream - Polemik seputar Islam Nusantara berkembang selama beberapa bulan terakhir. Terjadi pro dan kontra mengenai hal itu.
Problematika itu muncul karena Islam Nusantara dianggap beberapa pihak malah mengotak-kotakan Islam. Menurut Pakar Kajian Timur Tengah Arwani Syaeroni, semangat Islam Nusantara bukan malah menjadikan Islam yang eksklusif.
" Justru inilah model dan ciri khas Islam di Indonesia," katanya.
Menurutnya, ke depan, wacana mengenai Islam Nusantara itu perlu diimbangi dengan kajian-kajian ilmiah. Sehingga, perdebatannya lebih terarah.
" Harus siap menginventaris landasan ideologis dan istilah-istilah yang akan memperkaya kajian Islam Nusantara," katanya.
Sejarawan Agus Sunyoto mengatakan Islam datang ke Nusantara dengan damai. Islam menurut penelitianya, sudah masuk melalui saudagar dan penjelajah dari Tiongkok pada abad ke-6.
" Sayang, jumlah mereka waktu itu masih sedikit," kata dia.
Dia pun menyinggung peran Wali Songo yang turut memperkaya khazanah Islam di Indonesia. Dia menuturkan, Wali Songo berupaya menjadikan Islam lebih ilmiah tanpa mengesampingkan tradisi lokal.
" Itu terlihat ketika Wali Songo membuat sistem penanggalan dan mengubah tata sosial masyarakat baru di Jawa," kata dia.
Dulu, sebelum deklarasi Islam Nusantara, Abdurahman Wahid sempat mengemukakan pendapatnya mengenai pribumisasi Islam. Yaitu, membumikan ajaran Islam pada budaya lokal. Sayang konsep itu berhenti.
Diskusi bertema 'Antara Tradisi Agama dan Agama Tradisi, Sebuah Ikhtiar Meneguhkan Islam Nusantara' yang digelar Selasa, 7 Juli 2015 itu menjadi bagian dari forum diskusi Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama yang akan dihelat di Jombang, Jawa Timur, 1-5 Agustus nanti.
Muktamar itu nantinya akan membawa tema penting, yakni 'Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia'.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya