Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%
Sudarmono (tengah) Bersama Ayah Dan Ibunya (www.ugm.ac.id)
Dream - Kisah perjuangan seorang pemuda untuk menggapai cita-citanya terulang lagi. Kali ini kisah itu datang dari seorang pemuda asal Bayat, Klaten.
Sudarmono, nama pemuda itu. Dengan ekonomi pas-pasan, dia berusaha untuk tetap melanjutkan studinya. Tak tanggung-tanggung, dia masuk di Universitas Gadjah Mada (UGM) kampus yang kini disebut mengenakan biaya kuliah cukup mahal.
Dalam wawancara dengan pihak Kampus Biru, Sudarmono mengaku memang berkeinginan bisa kuliah sejak di bangku sekolah dasar. Tapi, dia tak pernah memaksakan keinginannya. Ekonomi keluarga menjadi alasan terbesarnya.
Ayah Sudarmono, Wagiman, bekerja sebagai tukang becak. Adapun ibunya, Mursiyem seorang buruh tani. Dan, Sudarmono tak leha-leha. Dia turut membantu orang tuanya dengan menggembala kambing.
Sehari-harinya, Wagiman, menarik becak di sekitaran Pakualaman, Yogyakarta. Dari hasil menarik becaknya, Wagiman biasa mendapat Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu seharinya. Hasil itu harus dipotong uang kredit becak Rp 1000 setiap harinya.
Meski begitu, tekad Sudarmono sudah bulat. Berbekal doa dan restu orang tuanya dia berangkat mengikuti tes masuk. Hasilnya menggembirakan. Dia lolos ujian itu. Progam studi Ilmu dan Industri Peternakan, Fakultas Peternakan, UGM.
" Saya kaget sekaligus bersyukur," kata Wagiman dikutip Dream dari laman ugm.ac.id.
Meski sudah diterima, tidak ada waktu beristirahat bagi Sudarmono. Sebab, dia harus mencari beasiswa untuk 'menyelamatkan' kuliahnya.
" Ketika teman-teman refreshing, saya masih fokus untuk mencari beasiswa masuk ke UGM. Memang, untuk mencapai sebuah kesuksesan diperlukan perjuangan lebih dibandingkan orang lain," kata pemuda kelahiran 24 Agustus 1997 itu.
Beruntung kuota beasiswa Bidik Misi UGM masih longgar. Namanya tercatat. UGM melalui Direktur Kemahasiswaan, Dr. Senawi berjanji akan menambah kuota itu.
" UGM akan berusaha memperjuangkan kuotanya bertambah. Kalaupun tidak, kita usahakan carikan donatur atau sumber-sumber lainnya," kata Senawi.
Kini, harapan besar keluarga ada dipundak pemuda itu. Sebab, orang tuanya berharap, dengan pendidikan itu derajat keluarganya dapat terangkat.
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


5 Kebiasaan Setelah Makan Malam yang Bisa Membantu Menjaga Gula Darah Semalaman

8 Kombinasi Makanan yang Bisa Membantu Tubuh Menyerap Lebih Banyak Nutrisi

5 Negara Paling Beragam Secara Etnis di Dunia, Nomor 1 Punya Lebih dari 800 Bahasa

8 Kebiasaan yang Diam-Diam Bisa Merusak Kesehatan Jantung Menurut Ahli



Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya