Rabu, 21 Oktober 2026 Cari

Perjuangan Bocah Bertahan dari Penyakit Mematikan, Nasibnya...

Reporter : Irma Suryani
Kamis, 6 Oktober 2016 18:01
Perjuangan Bocah Bertahan dari Penyakit Mematikan, Nasibnya...
Shi Luyao didiagnosis terkena penyakit leukemia limfositik akut pada 2013.

Dream - Ada sebagian orang di dunia ini yang siap mengambil setiap kesempatan, setiap kemungkinan, meski harus menghadapi rintangan yang luar biasa. Mereka bertahan dan tidak pernah menyerah.

Seperti kisah seorang bocah dari China ini. Perjuangannya bisa menjadi inspirasi bagi kita semua.

Shi Luyao didiagnosis terkena penyakit leukemia limfositik akut pada 2013. Yang memilukan, penyakit itu hanya bisa disembuhkan melalui kemoterapi, dan kemudian dipantau melalui terapi biopsi sumsum tulang.

Sayangnya biaya kemoterapi bocah 11 tahun itu hanya sebagian yang ditanggung oleh asuransi karena tidak dilakukan di provinsi asalnya, Guizhou. S

Shi harus pergi ke Provinsi Anhui di mana ayahnya bekerja. Disinilah kisah mengharukan Shi dimulai

 

1 dari 3 halaman

Ayah Berutang Rp 400 juta

Ayah Berutang Rp 400 juta © Dream

Ibu Shi telah lama pergi meninggalkan ayahnya ketika bocah itu masih berusia dua tahun.

NetEase melaporkan, selama dua tahun ini, ayahnya terpaksa meminjam 200.000 yuan atau hampir Rp 400 juta untuk membayar biaya perawatan medis Shi.

Setelah menjalani kemoterapi, Shi kembali ke kampung halamannya di Guizhou pada bulan Agustus tahun lalu ketika kondisinya membaik.

Memang menyedihkan melihat anak yang masih begitu muda sudah harus berjuang berjuang menghadapi leukemia. Tapi Shi menunjukkan sikap pantang menyerah agar bisa sembuh dari penyakit mematikan itu.

 

 

2 dari 3 halaman

Pulang Pergi 400 Km

Pulang Pergi 400 Km © Dream

Setelah kembali ke rumah, Shi harus menjalani biopsi sumsum tulang secara teratur untuk memantau kondisinya di sebuah rumah sakit di Kunming, yang berjarak 400 kilometer jauhnya.

Dalam setiap perjalanan keliling untuk berobat itu Shi selalu melakukannya sendirian. Dari kampung halamannya, ia akan naik bus ke kota Liupanshui, sebelum pindah naik kereta api menuju Kunming, ibukota Provinsi Yunnan.

Shi menceritakan bagaimana lelahnya ketika dia harus menunggu selama enam jam untuk tiba di Kunming. Dia sering menahan diri agar tidak menangis karena dia tidak ingin orang lain tahu bahwa ia sendirian.

Usai menjalani prosedur biopsi sumsum tulang yang menyakitkan, pasien biasanya butuh beberapa jam untuk beristirahat di tempat tidur, sesuai dengan rekomendasi dokter.

 

3 dari 3 halaman

Sudah Lupa Terakhir Lihat Fajar

Sudah Lupa Terakhir Lihat Fajar © Dream

Namun tidak demikian dengan Shi. China Daily melaporkan bocah malang itu harus memulai perjalanan kembali ke rumahnya segera setelah prosedur selesai sehingga ia bisa mengejar waktu untuk bersekolah.

Sekembalinya ke Liupanshui, ia akan menunggu fajar menyingsing agar bisa naik bus pertama yang menuju kampung halamannya. " Aku tidak ingat berapa kali melihat matahari terbit di stasiun kereta api," kata Shi sambil menangis.

Tapi, bagi Shi, perjalanan menyiksa itu tetap layak baginya ketika dia sampai ke kampung halamannya, bel masuk kelas baru berbunyi.

Jika anak-anak lain pasti akan libur selama menjalani kemoterapi. Mereka tidak perlu memikirkan masalah pelajaran. Namun Shi sungguh luar biasa. Dia meminjam buku pelajaran yang sudah diajarkan di sekolah, serta belajar bahan pelajaran untuk yang akan datang.

Jadi, dalam menghadapi pertempuran yang paling sulit dalam hidupnya itu, Shi tidak pernah berhenti belajar.

Beri Komentar