Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Amud, Pengusaha Keripik Singkong Asal Bandung (dok. Humas APU)
Dream - Memiliki utang dengan rentenir merupakan beban yang cukup berat bagi sebagian besar orang. Ini lantaran utang semakin bertambah besar karena bunga yang meninggi setiap hari.
Selain, ancaman kekerasan kerap keluar dari pemberi utang. Juga ancaman penyitaan yang tidak mengenal belas kasihan.
Beban ini juga dialami oleh pasangan Amud dan Uyun. Setiap hari, mereka mengolah 5-10 kilogram singkong menjadi keripik di rumah mereka yang terletak di Kampung Paninggaran RT 03/08, Desa Mekarjaya, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Mereka terpaksa berhubungan dengan rentenir lantaran kebutuhan dana modal usaha. Tetapi, pinjaman itu malah membuat hidup mereka tidak tenang.
" TV dibawa, utang sama bunganya mah malah nambah," ujar Amud.
Pengalaman itu membuat pasangan yang dikaruniai empat orang anak merasa jera. Mereka merasa kehidupan yang dijalani tidak berkah.
Akhirnya, mereka memutuskan bergabung dengan KSM Jaya Amanah yang dibina Lembaga Amil Zakat (LAZ) Al Azhar Peduli Ummat (APU). Melalui koperasi itu, Amud dan Uyun meminjam modal untuk melanjutkan usahanya.
Mereka tidak dibebani bunga dan hanya diwajibkan membayar pokok pinjaman saja. Sementara besarnya cicilan ditentukan berdasarkan kesepakatan antara peminjam dengan pengelola koperasi.
Selain itu, apabila Amud menghadapi kendala tidak bisa membayar, dia tidak perlu merasa khawatir. Pihak pengelola memberikan waktu bagi Amud untuk dapat membayar cicilan dan tentu tanpa ada bunga.
Selama menjadi anggota koperasi tersebut, Amud diwajibkan untuk mengikuti pengajian setiap pekan. Dia juga diharuskan menyisihkan sedikit rezekinya untuk dana sosial untuk membantu anggota lain yang tertimpa musibah.
" Hidup kami kian berkah, usaha makin lancar. Terima kasih banyak Al Azhar Peduli Ummat yang telah membantu pedagang kecil seperti kami," kata dia.
Usaha Amud dan Uyun semakin berkembang dan produk olahan mereka begitu diminati pelanggan. Bahkan kini mereka kerap menerima pesanan keripik singkong sebagai oleh-oleh.
(Ism, Sumber: Humas APU)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya