Gempa Maluku Akibatkan 41 Orang Meninggal

Reporter : Maulana Kautsar
Kamis, 17 Oktober 2019 11:00
Gempa Maluku Akibatkan 41 Orang Meninggal
Ratusan gempa masih dirasakan warga.

Dream - Korban meninggal dunia akibat gempa Magnitudo 6,5 yang mengguncang Maluku bertambah. Hiingga Rabu 16 Oktober 2019, tercatat 41 orang meninggal dunia.

" Rinciannya, di Kabupaten Maluku Tengah 18 orang, Kota Ambon 12, dan Seram Bagian Barat 11," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Agus Wibowo, dalam keterangan tertulisnya.

Data Badan Penanganan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Maluku juga mencatat, sebanyak 103.327 jiwa terdampak gempa tersebut. Sebanyak 361 orang luka ringan, empat lainnya luka berat.

Jumlah warga terdampak terbanyak berada di Kabupaten Maluku Tengah dengan angka 90.833 jiwa, sedangkan Kota Ambon 6.251, dan Seram Bagian Barat 6.244 orang.

Gempa juga menyebabkan kerusakan di infrastuktur. Total, rumah rusak mencapai 8.753 unit dengan kategori yang berbeda.

1 dari 6 halaman

Ribuan Rumah Rusak

 Warga mencari air bersihWarga mencari air bersih © Istimewa

Rincian rumah rusak di Kabupaten Maluku Tengah berjumlah 6.416 unit dengan rincian rusak berat (RB) 1.040 unit, rusak sedang (RS) 1.627, dan rusak ringan (RR) 3.749.

Jumlah rumah rusak di Kota Ambon berjumlah 1.203 unit dengan rincian, RB 253 unit, RS 261 dan RR 689, sedangkan di SBB RB 298, RS 483 dan RR 353.

" Terkait dengan penetapan status, Provinsi Maluku dan Kota Ambon telah menetapkan pada status transisi darurat ke pemulihan. Provinsi Maluku dan Kota Ambon menetapkan status tersebut yang berlaku selama 93 hari, terhitung dari 10 Oktober 2019 hingga 10 Januari 2020," ucap dia.

Sementara itu, Kabupaten Malteng menetapkan status tanggap darurat selama 21 hari dan berakhir pada 17 Oktober 2019. Sedangkan tanggap darurat di SBB berakhir pada Rabu, 16 Oktober 2019.

2 dari 6 halaman

Ratusan Gempa Dirasakan

 Warga menerima bantuanWarga menerima bantuan © Istimewa

Beberapa kendala masih ditemui selama penanganan darurat seperti penyediaan air bersih dan MCK di beberapa lokasi pengungsian.

Meski demikian, posko telah menjamin dengan penyaluran air bersih menggunakan mobil tanki air, penyediaan tandon, mobile toilet, portable toilet, dan toilet darurat. Kendala lain, posko masih membutuhkan dukungan tenaga medis seperti dokter umum, dokter spesialis anak, dokter anestesi, ortopedi, perawat bedah dan tenaga psikososial.

" BNPB terus memonitor perkembangan penanganan darurat di Maluku dan tetap memberikan dukungan personel untuk pendampingan kepada pemerintah daerah setempat," ucap dia.

Sampai dengan 16 Oktober 2019, pukul 09.00 WIT, BMKG mencatat 1.576 gempa susulan pascagempa M 6,5. Dari sejumlah gempa susulan tersebut, 181 gempa yang dirasakan oleh warga.

3 dari 6 halaman

Biota Laut Terdampar di Maluku Akibat Upwelling Bukan Gempa, Fenomena Apa Itu?

Dream - Warga di Kecamatan Tanimbar Utara, Maluku resah akibat fenomena terdamparnya ratusan ikan berbagai jenis biota laut di pantai Desa Lelingulan, pada 13 Oktober 2019 lalu. 

Kejadian langka tersebut memicu spekulasi adanya kaitan dengan gempa yang menguncang disusul beberapa getaran perut bumi di Maluku beberapa waktu lalu. 

Menanggapi fenomena tersebut, ahli tsunami Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari, memastikan belum ada keterkaitan antara biota laut permukaan dengan aktivitas kegempaan dari laut yang biasanya bersumber pada lempeng dengan kedalaman lebih dari 1.000 meter.

" Biota-biota yang selama ini seringkali mati dalam jumlah besar kemudian terdampar di pantai adalah biota permukaan atau biota laut dangkal-karang, bukan biota laut dalam," ujar Muhari, Senin, 14 Oktober 2019.

Muhari menjelaskan, fenomena terdamparnya biota laut dangkal sering kali disebabkan fenomena upwelling.

Fenomena ini adalah arus naik ke permukaan yang biasanya membawa planton atau zat hara yang menjadi makanan biota laut dangkal, bukan merupakan efek aktivitas lempeng atau sesar.

Fenomena yang terjadi tidak merujuk pada tanda-tanda akan muncul gempa besar.

4 dari 6 halaman

Ribuan Unit Rumah Rusak

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Agus Wibowo mengatakan, BMKG mencatat 1.516 gempa susulan pascagempa Maluku M 6,5 yang terjadi pada 26 September lalu.

Dari jumlah tersebut, 175 gempa susulan dirasakan oleh warga. Terkait dengan gempa tersebut, perkembangan terkini per 14 Oktober 2019 BNPB mencatat 148.619 warga masih mengungsi.

Total rumah rusak di wilayah terdampak, yaitu Kabupaten Maluku Tengah, Seram Bagian Barat dan Kota Ambon mencapai 6.355 unit dengan rincian total rusak berat 1.273 unit, rusak sedang 1.837 unit dan rusak ringan 3.245 unit.

Korban meninggal tercatat 41 jiwa dan mereka yang masih terluka sebanyak 1.602.

Kabupaten Maluku Tengah dan Seram Bagian Barat masih melakukan upaya penanganan darurat. Sedangkan Provinsi Maluku dan Kota Ambon sudah melakukan upaya-upaya transisi darurat ke pemulihan.

5 dari 6 halaman

Ribuan Ikan Mati Misterius di Pantai Ambon, Warga Geger

Dream - Ribuan ikan ditemukan dalam kondisi mati dan terdampar di pantai wilayah Kecamatan Litimur Selatan, Kota Ambon, Provinsi Maluku, sejak Sabtu 14 September 2019.

Warga Desa Laehari, Vin Maitimu, merasa khawatir dan menduga fenomena ini sebagai pertanda bakal terjadi tsunami. Sehingga pada Sabtu malam, mereka bersiap menyelamatkan barang berharga dan dokumen penting.

" Bahkan saat malam hari senantiasa berjaga-jaga sehingga terganggu waktu tidur karena mengkhawatirkan kemungkinan tsunami melanda secara tiba-tiba," ujar Vin, dilaporkan Liputan6.com, Senin 16 September 2019.

Menurut Vin, belum ada penjelasan resmi dari Pejabat Kepala Desa Leahari, Jhon Sitanala, dan perangkat desa terkait. " Saya konfirmasi ke Pejabat Kepala Desa diberitahu bahwa staf Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kota Ambon bersama Balai Karantina Ikan Ambon dan UPTD terkait telah mengambil sampel ikan yang mati untuk diteliti," ujar dia.

6 dari 6 halaman

Laporan Warga

Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ambon, Steven Patty, mengatakan, dinas bersama Balai Karantina Ikan Ambon dan Unit Pelaksana Teknis Daerah masih meneliti penyebab ribuan ikan di pantai Desa Leahari dan Rutong.

" Dugaan sementara karena ledakan getaran yang kuat, sehingga ikan-ikan mati dengan kondisi tulang retak, dan mata copot," ujar Steven.

Dia menambahkan, masyarakat setempat mengaku mengonsumsi ikan-ikan tersebut. Namun belum ada laporan adanya warga yang keracunan. " Sehingga kami masih terus melakukan analisa kematian ikan ini," kata dia.

Sementara itu, akun Facebook, Glen Kailuhu Leiwakabessy mengunggah foto ikan-ikan yang mati di pantai.

" Sudah dua hari ikan mati terdampar di Pantai Rutong dan Leahari, belum tahu penyebabnya," tulis Glen.

Beri Komentar
Video Polisi Tes Kandungan Sabu Cair dalam Mainan Anak-anak