Israel Pakai Pesawat Tempur Termahal AS untuk Operasi Militer

Reporter : Sugiono
Kamis, 24 Mei 2018 06:01
Israel Pakai Pesawat Tempur Termahal AS untuk Operasi Militer
Pesawat tempur siluman buatan Amerika Serikat itu diklaim telah melakukan operasi militer di dua tempat berbeda di Timur Tengah.

Dream - Pesawat tempur canggih buatan Amerika Serikat F-35 terlibat dalam operasi militer Israel di Timur Tengah. Pesawat tempur siluman F-35 melakukan misi tempur pertama untuk Angkatan Udara Negara Zionis itu, meskipun Presiden AS Donald Trump mengkritik keefektifannya.

Komandan AU Israel menunjukkan foto-foto pesawat itu terbang di atas langit Beirut, Lebanon. Mayor Jenderal Amikam Norkin mengatakan, pesawat itu telah melakukan serangan di garis depan musuh sebanyak dua kali.

Menurut Norkin, pesawat tempur siluman buatan Lockhead Martin itu, akan menjadi pengubah peta kekuatan peralatan tempur modern di Timur Tengah.

Di hadapan 20 wakil Angkatan Udara negara asing dalam sebuah konferensi di Israel, Norkin menyombongkan kemampuan tempur F-35 yang superior. Norkin mengatakan F-35 bukanlah sebuah mainan.

" Kami menerbangkan F-35 di seluruh Timur Tengah dan telah menyerang dua garis depan musuh yang berbeda. F-35 benar-benar bukan mainan," katanya.

Israel adalah satu-satunya negara yang pernah menerbangkan pesawat siluman F-35, selain AS sendiri. Israel menerbangkan sembilan dari 50 F-35 yang telah dipesan untuk patroli di Timur Tengah.

Rencananya, Israel akan memperkuat armada udaranya dengan 75 pesawat tempur F-35. Dinamakan 'Adir' dalam bahasa Ibrani yang artinya perkasa, pesawat milik Israel itu diyakini adalah dari jenis F-35A.

Tidak hanya beroperasi di Lebanon, Israel mengklaim bahwa F-35 miliknya juga telah menyerang infrastruktur militer Iran, setelah pasukan Negeri para Mullah itu menembakkan rudal ke pangkalan militer Israel di Dataran Tinggi Golan.

AS diketahui telah menggelontorkan dana US$1,5 miliar untuk program militer Israel yang akan berjalan hingga tahun 2070.

Meskipun demikian, Presiden AS Donald Trump mengkritik program pengadaan pesawat tempur F-35 karena biayanya yang sangat mahal untuk pembuatan satu unit saja.

Selain itu, Trump juga meragukan keefektifan F-35 dalam bermanuver dan mempertanyakan masalah penglihatan pilot saat berada di dalam kokpit.

Analis militer juga mengatakan, kemampuan F-35 untuk tetap dalam mode siluman ketika dalam pertempuran akan mengurangi keefektifannya secara umum.

(ism, Sumber: Express.co.uk)

1 dari 2 halaman

Hujan Tak Kunjung Turun, Israel Mau Robek Pintu Surga

Dream - Suasana di situs suci Tembok Barat, Yerusalem, pada Kamis lalu berbeda dari hari biasa. Di hari itu, sejumlah umat Yahudi, bahkan beberapa pejabat utama Israel hadir di situs tersebut.

Momen berkumpul ini diinisiasi oleh Menteri Pertanian Israel, Uri Ariel. Bersama KepalaRabbi Israel, David Lau dan Yitzhak Yosef, Ariel mengajak umat Yahudi berdoa bareng agar turun hujan.

Dilaporkan Times of Israel, 2017 menjadi tahun kelima Israel mengalami kekeringan. Para ahli cuaca dari Israel menyebut musim kekeringan ini terburuk dalam kurun waktu 40 tahun terakhir. 

Selama bertahun-tahun, Israel hanya menerima 45 persen hujan sejak September hingga November. Pada Desember 2017 ini hujan hanya turun dua kali.

" Saya meminta masyarakat untuk berpartisipasi dalam acara," kata Ariel saat mengumumkan acara awal pekan ini, " dan untuk membawa payung, karena bersama-sama kita akan merobek pintu gerbang surga."

Warga Israel lain mengkritik upaya Ariel tersebut. Mereka mengatakan cara tersebut tidak akan berguna.

Tapi Ariel menegaskan kekerangan tidak dapat disembuhkan, namun doa bersama itu diharapkan dapat membantu.

" Saya merupakan orang yang tidak bergantung pada keajaiban dan melakukan semua yang saya ketahui untuk menemukan solusi atas krisis air," kata Ariel dalam wawancara di Ynet.

Ariel pun mengatakan pemerintah telah melakukan sejumlah upaya seperti mengebor sumber air bawah tanah di Dataran Tinggi Golan dan Galilea. Juga membangun pabrik desalinasi tambahan untuk melengkapi yang sudah ada, serta melakukan penelitian pertanian untuk menciptakan varietas tanaman yang membutuhkan lebih sedikit air.

Sejak musim dingin yang lalu, Danau Galilea hanya menghasilkan 10 persen air rata-rata per tahunnya. Kondisi ini terburuk selama 100 tahun terakhir.

Sementara itu, Sungai Yordan juga mengalami kekeringan. Debit air Sungai Yordan turun menjadi 30 juta meter per kubik per tahun.

Meskipun Israel dapat memproduksi semua kebutuhan air minum dari lima pabrik desalinasi yang ada di pantai Mediterania, kekeringan berdampak serius terhadap pertanian.

Ahli meteorologi Israel menyebut pada bulan-bulan yang akan datang kondisi akan lebih kering daripada musim dingin tahunan rata-rata.

2 dari 2 halaman

Nama Israel Dibuang dari Peninggalan Firaun

Dream - Baru-baru ini Mesir membuat pengumuman yang cukup mengejutkan, terkait artefak dari era Firaun. Museum Mesir menyatakan telah membuang kata ‘Israel’ dari artefak berusia 120 tahun.

Pihak museum mengatakan artefak yang semula diberi nama 'Plate of Israel' tersebut kini berubah namanya menjadi 'Victories of Merneptah'.

Direktur Umum Museum Mesir di Tahrir, Sabah Abdel Razek, mengatakan, artefak dari era Raja Ramses II, yang masa pemerintahannya mulai 1279 SM sampai1213 SM atau Firaun yang diyakini tenggelam di Laut Merah saat mengejar Nabi Musa.

" Kami harus mengganti namanya setelah muncul pemberitaan kontroversial. Sebuah komite yang dibentuk oleh museum mengonfirmasi bahwa terjadi kesalahan dalam penamaan artefak yang dimaksud. Karena itu, pada pekan lalu, namanya diubah menjadi Kemenangan Merneptah," kata Abdel Razek.

Menurut Abdel Razek, kata Israel yang terukir pada Prasasti Kemenangan Merneptah berarti anak-anak Israel atau suku yang tinggal di Kanaan atau Ashkelon di Palestina.

Prasasti Kemenangan Merneptah ditemukan oleh ahli sejarah Flinders Petrie di Luxor pada tahun 1896. Artefak berusia 120 tahun itu terbuat dari batu granit dengan tinggi 310 cm, lebar 160 cm, dan tebal 32 cm.

(Sah/Sumber: Al Arabiya)

Beri Komentar