Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock.com)
Dream - Menjadi tua adalah kepastian. Tetapi, tentu tak ada orang yang ingin menjalani masa tua dengan penderitaan apalagi sampai ditelantarkan oleh anak-anaknya.
Seorang kakek usia 60 tahun asal Malaysia terpaksa berjalan kaki untuk periksa kesehatan. Padahal, rumahnya cukup jauh dari tempat praktik dokter langganannya.
Kisah pilu ini diunggah oleh pemilik akun Twitter @hausofhilton. Akun milik pria berprofesi dokter dan beridentitas Nimelesh ini menceritakan bagaimana situasi yang dialami kakek tersebut.
Pemilik akun sempat bertanya mengapa kakek itu datang terlambat dari jadwal periksa. Padahal, biasanya si kakek tidak pernah terlambat.
" Maaf dokter, tidak ada kendaraan. Jadi saya jalan sendiri hari ini. Tidak sempat menumpang orang," kata kakek itu seperti ditirukan Nimelesh.
" Jauhnya Bapak jalan!!! Mana anak Bapak? Mengapa tidak minta diantarkan anak?" tanya dokter itu.
Jawaban kakek itu membuat sang dokter kaget.
" Maaf, Pak Dokter. Saya tidak punya kendaraan, jadi saya harus jalan kaki. Saya tidak punya orang untuk mengantarkan saya," kata kakek itu.
Mendengar jawaban tersebut, dokter pun terus menanyakan anak si kakek. Jawaban yang diberikan semakin membuat perasaan dokter itu hancur.
" Semua anak saya pindah ke Kuala Lumpur. Mereka mengunjungi saya saat liburan," kata kakek itu.
Si kakek juga mengaku kini hidup sendiri. Istrinya sudah meninggal dunia.
" Saya beruntung karena para tetangga selalu menengok saja sekarang dan nanti, jadi saya tidak merasa kesepian," kata dia.
" Mengapa bapak tidak tinggal saja dengan anak-anak?" kata dokter.
" Mereka tidak pernah mengajak saya untuk tinggal bersama. Saya sudah tua dan sedikit lambat. Jika saya membuat kesalahan, anak-anak saya akan marah. Saya tidak ingin itu terjadi," jawab kakek tersebut.
Kakek itu menangis saat bercerita soal anak-anaknya. Nimelesh juga mengatakan ini bukan kali pertama dia bertemu dengan pasien lansia yang diabaikan anak-anaknya.
Nimelesh mengatakan anak-anak dari para pasien lansia itu ada yang berprofesi dokter, pengacara, juga guru. Tetapi, terlepas dari profesi, tidak berarti mereka bisa mengabaikan orangtuanya.
(Sah, Sumber: World of Buzz)
Dream - Seberapa kuat Sahabat Dream memikul beban keluarga seandainya hidup tanpa orangtua? Apalagi tinggal hanya berdua dengan adik satu-satunya?
Sebagian besar mungkin akan mengaku tak kuat menanggungnya. Karena hidup ini begitu berat. Apalagi jika tinggal dengan saudara yang sakit mentalnya.
Namun tidak demikian dengan gadis 24 tahun dan adiknya dari China ini. Mereka harus menanggung hidup yang susah setelah ditinggal mati oleh kedua orang tuanya.
Wu Huayuan masih berusia empat tahun saat ibunya meninggal dunia. Tak lama setelah itu, ayahnya menyusul sang ibu pada tahun 2014 karena penyakit sirosis.
Praktis, Wu harus menanggung beban hidup sendirian bersama adiknya sepeninggal sang ayah. Wu mengandalkan penghasilan 1.290 yuan (Rp2,5 juta) per bulan dari menghemat pengeluarannya.
Wu memilih tidak sarapan. Dia hanya makan roti untuk makan siang dan makan malam. Dia bahkan hanya makan nasi putih dengan saus cabai.
Hal itu dilakukan agar dia hanya menghabiskan 2 yuan (Rp3.900) sehari untuk biaya makan berdua dengan adiknya.
Wu sangat berhemat karena dia harus menabung uang untuk membiayai perawatan adiknya yang menderita penyakit mental.
Perlu diketahui bahwa kerabat Wu juga miskin. Selain itu, meskipun usianya sudah 24 tahun, Wu terlihat seperti anak kecil akibat kekurangan gizi.
Penampilan fisik Wu memang menyedihkan. Dia hanya memiliki berat 21kg dan tinggi 135cm, rambutnya juga rontok dan tidak memiliki alis.
Meski sering jatuh sakit, Wu tak pernah mau membeli obat mahal untuk berobat. Dia hanya membeli obat generik yang murah harganya.
Wu melakukan itu karena lebih mengutamakan perawatan adiknya. Wu ingin mengumpulkan uang hingga mencapai Rp9,9 juta untuk biaya perawatan adiknya.
Untungnya, setelah satu tahun perawatan, penyakit mental adiknya dapat dikendalikan. Meskipun miskin, Wu tidak menyerah pada mimpinya dan sangat ambisius.
Wu berhasil mendapatkan pinjaman mahasiswa untuk belajar di sebuah universitas di Guizhou. Saat ini berada di tahun ketiga di jurusan ekonomi.
Namun, pinjaman mahasiswa tersebut tidak cukup untuk menutupi pengeluarannya. Karena itu dia bekerja serabutan.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya