Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Muzaffer Kayasan (foto: India.com)
Dream - Banyak orang mungkin mengalami gejala infeksi Covid-19 dalam hitungan hari atau minggu. Setelah menjalani perawatan beberapa minggu, biasanya hasil tes mereka dinyatakan negatif virus corona.
Namun beda dengan pria asal Turki, Muzaffer Kayasan, ini. Dia dinyatakan positif Covid-19 selama 14 bulan secara berturut-turut. Dia sudah menjalani 78 kali tes, namun hasilnya tetap positif.
Kayasan dinyatakan sebagai pemegang rekor positif Covid-19 terlama di Turki. Hingga saat ini Kayasan masih berjuang melawan virus mematikan tersebut.
Pria 56 tahun tersebut dinyatakan terinfeksi virus covid-19 pada tahun 2020. Ia mengalami nasib sial tak kunjung mendapatkan hasil negatif walaupun sudah dites 78 kali, hingga tahun 2022.
Pria ini telah menjalani karantina di rumah maupun rumah sakit selama 14 bulan. Dia menjalani karantina selama 9 bulan di rumah sakit dan 5 bulan di rumah dalam isolasi mandiri.
Kayasan mengaku tidak ada masalah selama menjalani karantina. Hanya saja ia tak bisa berkomunikasi dengan orang-orang terkasihnya, apalagi menyentuh mereka. Termasuk dengan cucunya.
Satu-satunya cara yang dapat ia lakukan adalah dengan melihat cucunya melalui jendela atau menggunakan aplikasi Face Time. Baginya, hal ini sangat sulit.
“ Saya tidak punya masalah di sini selain tidak bisa menyentuh orang yang saya cintai. Ini sangat sulit,” katanya.
Kayasan adalah seorang pasien leukimia. Ia didiagnosis terkena leukimia bersamaan di saat terinfeksii Covid-19 pada November 2020. Kala itu ia dirawat di rumah sakit.
Kayasan mengira tak akan selamat karena menderita leukimia. Namun dia dipulangkan setelah menjalani perawatan dan kembali ke rumahnya menunggu pemulihan penuh dalam isolasi mandirinya.
Setelah fase isolasi mandiri berakhir, dari 78 tes yang dijalani, Kayasan masih positif Covid-19. Ia masih hidup dan melawan penyakit mengerikan itu.
Menurut keterangan dokter, situasi yang dialami Kayasan terjadi karena sistem kekebalan yang melemah dari kanker yang ia derita.
Kayasan sendiri mengatakan ia bertahan hidup dengan obat yang diresepkan untuk menjaga sistem kekebalannya.
Pasien virus Covid-19 dengan immunosuppression atau berkurangnya kapasitas sistem kekebalan tubuh, berisiko mengalami infeksi berkepanjangan dengan adanya respiratory syndrom atau gangguan pernafasan akut yang parah. Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan tahun lalu di New England Journal of Medicine.
Sumber: india.com
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya