Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustasi: Pixabay
Dream - Sebagian wilayah Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, luluh lantak usai diguncang gempa bumi dan tsunami pada Jumat 28 September 2018 lalu.
Ribuan bangunan hancur dan 1.234 dilaporkan meninggal dunia hingga Selasa, 2 Oktober 2018 pukul 13.00 WIB. Hingga kini tim penyelamat masih berusaha mencari kemungkinan korban yang masih belum dievakuasi dari reruntuhan bangunan.
Sementara warga yang mengalami luka berat dan ringan kini tersebar di sejumlah rumah sakit.
Sedangkan mereka yang mengungsi berjumlah lebih dari 16 ribu orang dan tersebar di 24 titik. Mereka kekurangan makanan dan juga pasokan BBM.
Derita yang dialami warga Palu dan wilayah terdampak gempa dan tsunami tak berhenti saat bencana usai. Kini mereka menghadapi masalah yang tak kalah serius.
Berikut sejumlah fakta miris usai gempa Donggala dan tsunami Palu menyapu Provinsi Sulawesi Tengah:
Kawasan terdampak gempa dan tsunami terparah adalah Perumnas Patoga di Palu Selatan dan Perumnas Balaroa di Palu Barat, Sulawesi Tengah.
Saat gempa terjadi, kedua kawasan itu diduga mengalami fenomena tanah bergerak yang dikenal dengan likuifaksi.

Akibatnya tanah yang dipijak berubah bak gelombang dan menenggelamkan ratusan rumah yang berdiri di atasnya.
BNPB mencatat ada sekitar 744 unit rumah yang tenggelam di perumahan Patoga. Dan Diperkirakan lebih dari 500 orang meninggal dunia.
Sementara di Perumnas Balaroa. Ada sekitar 1.747 rumah yang ambles ditelan bumi akibat gempa dan tsunami yang menerjang Palu dan Donggala.
Pasca gempa dan tsunami, banyak jalur transportasi yang terputus akibat longsor dan jalan yang terbelah.
Akibatnya ada 7 kecamatan yang ada di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, kini terisolasi.
Tujuh kecamatan tersebut Kecamatan Lindu, Kulawi, Kulawi Selatan, Dolo Barat, Dolo Selatan, Gumbasa dan Salawu.
Terungkap fakta mengejutkan yang ditemukan usai gempa Palu, yakni alat deteksi dini tsunami atau Buoy Tsunami di Indonesia sudah tidak bisa dioperasikan sejak 2012.

Padahal keberadaan alat deteksi dini tsunami di Indonesia sangat dibutuhkan. Hal ini tentu karena posisi Indonesia yang rawan bencana.
" Sejak 2012 Buoy Tsunami sudah tidak ada yang beroperasi sampai sekarang, ya tidak ada," ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat BNPB Sutopo Purwo Nugroho.
Biaya operasional yang tiap tahun menurun diduga menjadi salah satu penyebabnya.
Hingga hari senin, 1 Oktober 2018 pukul 11.00 WIB, telah terjadi 254 gempa susulan di Sulawesi Tengah. Meski getarannya mulai menurun, sembilan di antaranya masih dirasakan warga.

Dan pada hari selasa, Oktober 2018, kemarin, Palu dan Donggala kembali diguncang gempa. Peristiwa itu terjadi pada pukul 06.46 WIB dengan magnitudo 5,3.
Dikabarkan lokasi gempa berada pada kedalaman 10 kilometer, sementara titik pusatnya terletak di di 0.57 Lintang Selatan, 119.87 Bujur Timur atau 16 km Tenggara Donggala.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya