Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Butet Manurung Dalam Talkshow (Dream.co.id/Cynthia Amanda Male)
Dream - Mungkin banyak yang menganggap model pendidikan yang dewasa ini diterapkan hampir semua daerah di Indonesia sudah tepat. Nyatanya, model yang cenderung formal ini tidak sesuai jika diterapkan karakter anak-anak di pedalaman.
Hal ini disampaikan oleh pendiri Yayasan Sokola, Butet Manurung. Menurut dia, kurikulum pendidikan formal yang diterapkan di Indonesia tidak bisa meningkatkan kualitas hidup masyarakat pedalaman.
" Ilmu yang berguna itu yang bisa mengajarkan anak untuk bisa mengatasi masalahnya sendiri," kata Butet di Eastern Opulence, Jakarta, Selasa 25 September 2018.

Butet mengatakan produk pendidikan formal kurang bisa mengasah kedirian seorang anak. Akibatnya, mereka terampil dalam baca tulis namun kurang berani mengambil sikap.
" Ada anak yang sudah bisa baca tulis, tapi dia tidak bisa mengusir pencuri kayu. Padahal, hal tersebut lebih penting dan dibutuhkan," kata dia.
Butet juga menyoroti model pendidikan yang terlalu berorientasi pada Ibukota. Menurut dia, model pendidikan tersebut membuat anak 'pergi', bukan mengabdi pada lingkungannya.
" Mereka berharap anak yang bersekolah bisa bermanfaat bagi tanah kelahirannya sendiri, sedangkan pendidikan formal bersifat jakarta-sentris," terang pendiri Sokola Rimba ini.

Selanjutnya, Butet mengatakan ilmu bukanlah sekadar membaca dan menulis. Tetapi, yang mampu menumbuhkan semangat bagi anak untuk memahami diri dan lingkungan.
" Supaya mereka bisa mengungkapkan keinginan, memahami segala risiko dan melindungi lingkungan serta adat istiadatnya," terang dia. (ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam