Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Demonstran Palestina (Foto: Shutterstock)
Dream - Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang beranggotakan 57 negara akan mengadakan pertemuan luar biasa di Istanbul, Turki pada Jumat, 18 Mei 2018. Pertemuan yang membahas kondisi terkini Palestina itu rencananya akan dihadiri sejumlah Kepala Negara.
Dikutip dari Anadolu Agency, Kamis 17 Mei 2018, Kepala Negara yang dijadwalkan hadir antara lain, Perdana Menteri Palestina, Rami Hamdallah; Presiden Yordania, Raja Abdullah II; Presiden Afghanistan, Ashraf Gani; Emir Kuwait, Sabah al-Ahmad al-Jaber al-Sabah; dan Presiden Mauritania, Mohammad Veled Abdulaziz.
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, mengatakan, pertemuan puncak di Istanbul itu untuk merespons kekerasan Israel yang menewaskan 62 orang. Warga Palestina yang tewas merupakan para demonstran yang memprotes pemindahan Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) ke Yerusalem.
Erdogan berharap acara ini dapat membantu para pemimpin Muslim menunjukkan respon bersama terhadap tindakan Israel. Deklarasi final akan dirilis setelah pertemuan.
Juru bicara Presiden Turki, Ibrahim Kalin, mengatakan pendudukan Israel dan masalah Palestina bukan masalah bagi negara-negara Muslim saja. Tapi, masalah umum bagi semua orang yang percaya pada hukum dan keadilan.
" KTT akan fokus pada sikap dan tindakan yang akan diambil oleh negara-negara Muslim dalam solidaritas dan kerja sama dengan Negara Palestina dan rakyatnya untuk membela penyebab Palestina dan Yerusalem," kata Kalin.
Sebelumnya, protes warga Palestina terus mengemuka. Mereka menolak klaim AS atas Yerusalem. Akibat protes yang terjadi sejak 30 Maret 2018, lebih dari 100 warga Palestina tewas karena ditembak tentara Israel.
Pemerintah Israel mengklaim protes perbatasan yang sedang berlangsung merupakan " keadaan perang" di mana hukum humaniter internasional tidak berlaku.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya