Sekolah di Zona Hijau Covid-19 Bakal Dibuka, Begini Simulasinya

Reporter : Mutia Nugraheni
Kamis, 9 Juli 2020 09:02
Sekolah di Zona Hijau Covid-19 Bakal Dibuka, Begini Simulasinya
Tidak ada jam istirahat.

Dream - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memutuskan untuk membuka sekolah di zona hijau Covid-19 berdasarkan rekomendasi Gugus Tugas. Salah satu wilayah yang termasuk zona hijau adalah Sukabumi, Jawa Barat.

Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat, beserta timnya melakukan peninjauan dan simulasi. Dalam ungggahan di akun Instagramnya, ia memperlihatkan ruang kelas yang dipasang pembatas plastik untuk menerapkan social distancing dan mencegah penyebaran droplet demi terhindar dari virus Covid-19.

Murid, guru dan staf yang dtang ke sekolah juga dibatasi dan wajib mengenakan masker. Jam belajar pun tidak panjang, maksimal hanya 5 jam.

 Simulasi sekolah di zona hijau© Instagram

(Foto: Instagram Ridwan Kamil)

" Tatap muka untuk sekolah yang dijinkan dibuka terbatas di zona kewaspadaan hijau seperti Kota Sukabumi ini. Dikunjungi oleh Bpk Wapres dan Mendikbud. DATANG langsung BELAJAR 4-5 jam dan langsung PULANG . Tidak ada jam istirahat. Satu kelas dibagi 2-3 shift. Ada yang daring 1/2 minggu dan ada yang tatap muka 1/2 minggu. Setiap 2-3 hari gantian," tulis Kang Emil di Instagramnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1 dari 6 halaman

Izin Orangtua Tetap yang Utama

Untuk siswa yang tinggal di zona merah dan oranye, tetap tak boleh ke sekolah. Belajar tetap bisa dilakukan secara daring. Keputusan akhir juga tetap di tangan orangtua. Jika tak mengizinkan anaknya ke sekolah, maka sekolah tak boleh memaksa.

 Simulasi sekolah di zona hijau© Instagram

" Siswa berdomisili di zona non hijau tetap belum boleh datang tatap muka ke sekolah yang sudah zona hijau. Walaupun sudah zona hijau, namun orangtua boleh memilih anaknya untuk tetap belajar daring dari di rumah jika itu menjadi pilihannya. Semua dilakukan dengan kehati-hatian dan selalu perlahan bertahap," pesannya.

 

2 dari 6 halaman

Tahun Ajaran Baru, Sekolah di Tiga Zona Ini Tetap Tak Boleh Tatap Muka

Dream - Keputusan terkait penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar (KBM) telah diumumkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim pada Senin, 15 Juni 2020 melalui siaran langsung di YouTube channel Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Tahun ajaran baru tak mundur meskipun di masa pandemi yaitu dimulai Juli 2020. Untuk metode pembelajaran, sekolah yang berada di zona kuning, oranye dan merah dilarang melakukan KBM secara tatap muka.

 © Dream

" Dalam situasi pandemi Covid yang terpenting adalah kesehatan dan keselamatan murid, guru dan keluarga. Prinsip dasar itulah yang digunakan untuk membuat keputusan," kata Nadiem.

Sekolah yang ada di tiga zona tersebut harus tetap melanjutkan KBM secara online. Hal ini karena menurut analisis tim Gugus Tugas Covid-19 serta Kementerian Kesehatan, risiko penularan Covid-19 masih sangat tinggi.

" Untuk zona kuning, oranye dan merah, yang berisiko covid tinggi dilarang melakukan pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan. Ada sekitar 94 persen peserta pendidik di zona ini," ungkap Nadiem.

 

3 dari 6 halaman

Penggunaan BOS untuk Belajar Jarak Jauh

Untuk sumber dana penyelenggaraan sekolah dari rumah, menurut Nadiem, boleh menggunakan BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Dana tersebut bisa digunakan untuk biaya kuota guru maupun murid.

 Belajar jarak jauh© Shutterstock

" Sekadar mengingatkan, kami sudah membuka seluruh dana BOS untuk semua kebutuhan protokol kesehatan dan untuk pembelajaran jarak jauh, bisa digunakan baik untuk guru dan peserta didik," kata Nadiem

4 dari 6 halaman

Sekolah di Zona Hijau Dibuka Paling Cepat Juli, Mulai dari Tingkat SMA

Dream - Kegiatan belajar mengajar tahun ajaran baru tak mundur meski dalam masa pandemi. Tetap dimulai pada Juli 2020.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan beberapa kementerian terkait membuat keputusan soal panduan pembelajaran tatap muka di masa Pandemi Covid-19.

 Sekolah di Zona Hijau Dibuka Paling Cepat Juli, Mulai dari Tingkat SMA© MEN

Nadiem Anwar Makariem, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, memaparkan detail pedoman terkait pembukaan sekolah di masa pandemi. Dari webinar " Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Pada Tahun Ajaran dan Akademik Baru di Masa Pandemi Covid-19"  hari ini, 15 Juni 2020, yang disiarkan langsung di YouTube Channel Kemdikbud, Nadiem mengumumkan sekolah boleh dibuka dan tatap muka, tapi hanya sekolah yang ada di zona hijau.

" Di masa pandemi Kemdikbud mengambil sikap, bahwa kesehatan dan keselamtan yang utama. Tahun ajaran baru tetap juli 2020, kami tak mengubah kalender. Kami mengambil keputusan hanya sekolah di zona hijau yang boleh melakukan belajar tatap muka," ungkap Nadiem.

 

5 dari 6 halaman

Protokol Kesehatan Ketat

Sementara untuk sekolah yang berada di zona kuning, oranye dan merah atau yang berisiko penularan Covid-19 masih tinggi dilarang melakukan pemberlajaran tatap muka. Total hanya 6 persen sekolah yang boleh dibuka di zona hijau, sementara 94 persen peserta pendidik, masih harus belajar di rumah.

 Belajra di rumah© Shutterstock

" Untuk sekolah yang ada di zona hijau ada protokol kesehatan ketat yang sudah kami buat bekerja sama dengan Kementerian kesehatan. Untuk saat ini ada 6 persen sekolah di zona hijau, silakan kepala sekolah dan pemerintah daerah terkait membuat pengajuan dan memenuhi checklist kesehatan," kata Nadiem.

Sekolah yang berada di zona hijau menurut pemaparan Nadiem paling cepat akan dibuka pada Juli 2020. Itu pun pada bulan tersebut hanya diperbolehkan sekolah tingkat SMA saja yang dibuka.

Sementara untuk tingkat SD, SMP di zona hijau Covid-19, paling cepat sekolah dibuka September 2020, sementara tingkat PAUD pada November 2020.

 

6 dari 6 halaman

Pembatasan Peserta Didik

Saat sekolah dibuka, murid tak bisa langsung masuk pada waktu yang bersamaan. Kemenkes dan Kemdikbud menetapkan, satu kelas paling banyak 18 orang.

" Selama 2 bulan pertama ada berbagai restriksi, yang terpenting adalah kondisi kelas, jika biasanya ada 20 sampai 28 murid. kini maksimal dalam kelas hanya boleh 18 peserta, harus ada shifting yang ditentukan satuan pendidikan," kata Nadiem.

Penting juga diketahui, jika setelah tatap muka di sekolah dilakukan ternyata kembali ditemui kasus Covid-19, maka sekolah akan ditutup kembali. Sementara jika daerah zona hijau menjadi zona merah, kuning atau oranye, maka sekolah akan kembali dari rumah. Prosedur kesehatan pun akan kembali dari nol.

Beri Komentar