Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Source: Shutterstock.com
Dream - Penyebaran virus Covid-19 ternyata sudah pernah dideteksi sekitar 18 tahun yang lalu atau pada 2002-2003. Kala itu virus SARS COVID-19 pernah muncul di Hong Kong namun dengan vatality rate mencapai 20 persen.
Delapan tahun berselang, penyakit tersebut kembali muncul di China dengan efek yang lebih mengerikan. Penyebarannya berlangsung cepat dan hampir terjadi di seluruh dunia. Diduga hal ini terjadi karena penyebaran virus dibantu dengan interaksi masyarakat dunia yang semakin mudah.
Pernyataan tersebut disampaikan Kepala Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Dwi Agustian, yang menilai pola perjalanan global menjadi dalang dari cepatnya penyebaran virus Covid-19.
" Virus ini hanya bisa menimbulkan sebaran yang sangat cepat seperti ini di dunia modern pada saat teknologi bisa membuat orang berinteraksi dengan cepat," katanya dalam talkshow Titik Balik Penyintas Covid-19 di Media Center Satgas Penanganan Covid-19 Graha BNPB Jakarta, Jumat kemarin dilansir dari Covid19.go.id.
Menurut Dwi, virus ini tidak menimbulkan efek biologis secara cepat pada 20 tahun lalu. Maka dari itu, virus ini tergolong baru dan pengetahuannya masih perlu diakumulasi agar lebih konkrit.
Menurut data statistik, pengembangan terakhir dari populasi umum paling tinggi mencapai 5 persen. Masih ada beberapa pasien yang terjangkit Covid-19 tanpa gejala seperti di Bandung, Jawa Barat.
Sehingga, penelitian dan pemeriksaan masih harus dilakukan untuk bisa mengidentifikasi karakteristik virus Covid-19. Salah satu orang yang terjangkit Covid-19 akibat perjalanan global adalah motivator Tung Desem Waringin.
Ia tertular saat berada di pesawat terbang 15 Maret lalu. Kebetulan, ia menumpang pesawat penuh dan hanya penumpang sakit yang memakai masker.
Tiga hari kemudian, ia terkena demam dan suhu tubuhnya naik turun. Lalu, ia divonis positif Covid-19. Namun tak lama kemudian, ia sembuh karena setelah menjalani kebiasaan minum air putih selama perawatan.
Ada juga cerita dari penyintas Covid-19 Susi Rudiati yang telah hidup dengan satu ginjal selama 23 tahun dan mengalami demam tinggi serta kenaikan tensi drastis.
Sempat putus asa, ia pun berhasil sembuh setelah berbagi rezeki dengan petugas cleaning service.
(Sumber: Covid19.go.id)
Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya