Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ladiba (Merdeka.com)
Dream - Perkenalkan, inilah Letda CPN (K) Puspita Ladiba. Pilot wanita pertama di Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD). Kini, perempuan asal Medan, Sumatera Utara tersebut menjabat sebagai Co Pilot TNI AD.
Tak mudah bagi Ladiba menggapai posisi itu. Dia harus berjuang keras, melalui jalan berliku. Maklum, dia tumbuh di keluarga sederhana dengan berbagai keterbatasan. Dia menghabiskan masa sekolah dengan penuh kesederhanaan.
Dengarlah kisah Ladiba saat lulus SMA. Sebenarnya dia diterima di universitas terkemuka tanah air. Tapi apa daya, dia harus melepas kesempatan duduk di bangku kuliah di universitas bonafide karena tidak punya biaya.
" Setelah SMA itu yang pahitnya itu saya keterima di universitas terbesar di Indonesia. Salahnya saya tidak bisa mengikuti karena tidak mempunyai biaya untuk melanjutkan kuliah," ungkap Ladiba, dikutip dari Merdeka.com, Sabtu 13 Juni 2020.
Tapi, ibarat pepatah habis gelap terbitlah terang, peluang Ladiba belum tamat. Setelah kenyataan pahit itu dia mendapat tawaran cukup manis dari TNI AD. Dia ditawari masuk taruni Akademi Militer. Dia akhirnya ikut tes dan diterima menjadi taruni Akademi Militer.
" Jadi, karena ada kesempatan Angkatan Darat menawarkan saya untuk memasuki taruni Akademi Militer, kenapa enggak. Prinsip hidup saya adalah kesempatan tidak datang dua kali," jelasnya.
Sukses menjadi penerbang di TNI AD tak membuat Ladiba lupa masa lalunya. Saat-saat sulit dalam kehidupan. Dia masih ingat betul saat harus bertahan hidup bersama keluarga dengan kondisi seadanya.
Pernah suatu ketika jualan jagung bakar sang ibu tidak laku. Jadilah keluarga itu tak punya untuk makan. Untuk mengganjal perut, mereka harus makan jagung-jagung yang mereka jual.
" Waktu itu ibu pernah jualannya enggak laku gitu. Terus, kita makan seadanya saja. Makan jagung yang dijual," ungkap Ladiba.
Ladiba kini sudah sukses. Dia mulai bisa membantu ekonomi keluarga. Ladiba merasa bahagia sekali karena sudah bisa membantu ekonomi orangtuanya saat ini.
" Alhamdulillah, untuk saat ini setiap bulan saya wajib mengirim ke keluarga. Sangat bersyukur sekali," ucap Ladiba.
Meski sudah mendapat sokongan finansial dari sang anak, orangtua Ladiba rupanya masih terus berjualan jagung. Bukan tanpa alasan, orangtua Ladiba tidak ingin membebani kehidupan anak-anaknya.
" Kalau saya bilang, 'kenapa sih diterusin jualannya, sudah nanti Ladiba yang bantu'. Ayah sama ibu enggak mau membebani Ladiba selagi orangtua masih bisa bekerja gitu," jelas Ladiba.
Bagi Ladiba, orangtuanya berperan sangat besar dalam kariernya. Selama ini, orangtua tidak pernah meninggalkannya, dalam kondisi apapun. Orangtuanya selalu menjadi pelindung dan pemberi motivasi.
" Selalu dilindungan orangtua, selalu pengertian, kasih motivasi, semangat belajar, jangan patah semangat walaupun keadaan," kata Ladiba.
Saat mendaftar di Akademi Militer, Ladiba memang sempat down karena saingannya berasal dari orang-orang dengan ekonomi berkecukupan. Ladiba saat itu hanya diantar oleh gurunya dengan motor. Peserta lain diantar dengan mobil mewah.
" Ada kata yang saya bilang sama dia, 'bukan masalah apa yang kita miliki dan apa yang kita kerjakan, Ladiba. Tetapi, apa yang bisa kita kerjakan dengan apa yang kita miliki'," ujar kata Ladiba.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam