Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Ilustrasi Anak SD (Foto: Unsplash/Syahrul Alamsyah Wahid)
DREAM.CO.ID - Kasus keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi. Kali ini ada 25 korban mengalami keracunan pada program MBG di SDN 12 Benua Kayong, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat (Kalbar).
Mereka diduga keracunan karena menu ikan hiu yang disajikan. Adapun para korban terdiri dari 24 siswa dan seorang guru.
Kepala Regional MBG Kalimantan Barat (Kalbar), Agus Kurniawi, mengakui adanya kelalaian dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat dalam memilih menu.
“ Soal menu ikan hiu, itu murni kesalahan dan keteledoran dari SPPG kami. Mereka tidak teliti memilih menu. Ikan hiu itu dibeli dari TPI Rangga Sentap, produk lokal,” kata Agus dikutip dari ketapang.suarakalbar.co.id, Jumat, 26 September 2025.
Menurut Agus, menu ikan hiu yang memiliki kandungan merkuri tidak seharusnya dipilih karena tidak lazim dikonsumsi anak-anak.
“ Harusnya menu yang dipilih itu yang digemari siswa. Anak-anak jarang sekali mengonsumsi ikan hiu. Bisa saja ikan hiu ini memiliki kandungan merkuri. Itu yang sangat saya sesalkan kemarin,” ujarnya.
Agus mengaku sudah menghubungi ahli gizi dan Kepala SPPG terkait. Dia mengatakan menu ikan hiu merupakan rekomendasi dari ahli gizi di dapur. Ahli gizi merupakan warga lokal rekrutan BGN yang telah lulus sarjana gizi.
“ Saya sempat marah ke ahli gizi. Dia sudah meminta maaf dan mengakui kalau hal tersebut murni keteledoran,” tegasnya.
Agus menjelaskan, tugas ahli gizi di dapur setiap hari menyusun menu dengan komposisi gizi, 30 persen protein, 40 persen karbohidrat, dan 30 persen serat.
“ Target itu wajib dipenuhi dalam setiap hidangan,” katanya.
Lebih lanjut dari kasus ini, Agus menegaskan, apabila hasil investigasi membuktikan makanan dari MBG menjadi penyebab keracunan, Dapur SPPG Mulia Kerta akan ditutup permanen.
“ Kalau tidak terbukti, kami tetap akan melakukan evaluasi bersama BGN pusat. Kepala SPPG tetap kami nonaktifkan hingga waktu yang belum ditentukan,” ujarnya.
Saat ini terdapat 22 SPPG yang tersebar di sejumlah kecamatan di Ketapang, melayani 2.000–3.500 siswa per dapur. Agus menyebut, ke depan jumlah penerima manfaat akan dibatasi maksimal 2.000 siswa per dapur.
“ Harapannya kualitas pelayanan meningkat. Masak juga akan disesuaikan untuk mencegah makanan basi. Untuk makan siang dimasak pagi, sedangkan makan pagi dimasak sejak subuh sekitar pukul 03.00 WIB,” kata Agus.
Advertisement
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan