Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%
Dr. Tan Shot Yen/ Dokumentasi Youtube TV Parlemen
DREAM.CO.ID - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diusung oleh Pemerintahan Presiden Prabowo tengah memicu kritikan banyak pihak.Meski menuai dukungan dari sebagian masyarakat karena dianggap sebagai solusi mengurangi angka stunting dan meningkatkan gizi anak, program ini juga memicu kritik dari para ahli, termasuk dari aspek anggaran, keamanan pangan, nilai gizi, hingga minimnya sentuhan kearifan lokal.
Salah satu kritikan yang tajam datang dari dr. Tan Shot Yen, yang juga seorang ahli gizi. Pada Senin 22 September lalu, dr. Tan bersama dengan GKIA (Gerakan Kesehatan Ibu dan Anak), CISDI (Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives)
dan JPPI (Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia) melakukan audiensi dengan Komisi IX DPR RI.
Dokter Tan menyoroti ada menu MBG yang isinya ternyata makanan ultra proses, di mana nilai gizinya sangat rendah.
“ Hentikan distribusi makanan kering yang mengacu pada produk industri sebagai UPF (Ultra-Processed Food),” kata dr. Tan di awal pernyataannya.
Ia juga mengkritisi karena menu-menu MBG yang kurang menggunakan bahan-bahan lokal. Dokter Tan menyarankan agar menu dirancang berdasarkan makanan lokal setempat dengan bahan yang mudah didapat di daerah tersebut.

“ Alokasikan menu lokal sebagai 80% isi MBG di seluruh wilayah. Saya pengen anak Papua bisa makan ikan kuah asam. Saya pengen anak Sulawesi bisa makan kapurung. Tapi yang terjadi dari Lhok Ngah sampai Papua yang dibagi adalah burger!," tegas dr. Tan.
Dokter Tan juga menyoroti beberapa menu MBG yang disajikan banyak menggunakan tepung terigu. “ Di mana tepung terigu tidak pernah tumbuh di bumi Indonesia. Gak ada anak muda yang tahu bahwa gandum tidak tumbuh di bumi Indonesia,” ujar dr. Tan, menyinggung minimnya edukasi soal bahan pangan lokal.

Kekhawatiran yang muncul adalah ketergantungan pada pangan berbasis tepung dan olahan industri tidak hanya mengancam kesehatan anak-anak dalam jangka panjang, tapi juga bisa mengikis identitas kuliner lokal. Video dokter Tan ini viral di berbagai media sosial di tengah program MBG yang kini tengah banyak menjadi sorotan publik.
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


5 Kebiasaan Setelah Makan Malam yang Bisa Membantu Menjaga Gula Darah Semalaman

8 Kombinasi Makanan yang Bisa Membantu Tubuh Menyerap Lebih Banyak Nutrisi

5 Negara Paling Beragam Secara Etnis di Dunia, Nomor 1 Punya Lebih dari 800 Bahasa

8 Kebiasaan yang Diam-Diam Bisa Merusak Kesehatan Jantung Menurut Ahli



Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya