`Dicueki` Israel, Tokoh HAM Indonesia Mundur dari PBB

Reporter : Ahmad Baiquni
Selasa, 5 Januari 2016 16:16
`Dicueki` Israel, Tokoh HAM Indonesia Mundur dari PBB
Makarim Wibisono menyatakan keprihatinan yang mendalam atas serangan Israel di Hebron, yang memicu bentrokan tingkat tinggi.

Dream - Tokoh Hak Asasi Manusia (HAM) asal Indonesia Makarim Wibisono menyatakan mengundurkan diri dari tim pakar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Keputusan ini diambil Makarim lantaran dia tidak diperbolehkan masuk ke kawasan pendudukan Israel di Palestina.

Makarim ditunjuk PBB menjadi tim pakar untuk melakukan pemantauan terhadap konflik antara Palestina dengan Israel. Penunjukkan ini didasarkan pada latar belakang Makarim yang dapat dikatakan netral kepada kedua belah pihak.

" Sayangnya, upaya saya menolong warga Palestina korban pelanggaran di kawasan pendudukan Israel mengalami frustasi di tengah jalan," ujar Makarim.

Makarim mengajukan pengunduran dirinya sebagai pakar PBB kepada Presiden Dewan Hak Asasi Manusia PBB berbasis di Genewa, Swiss, pada Senin, 4 Januari 2016. Pengunduran diri ini akan berlaku secara efektif pada 31 Maret nanti.

" Saya mengambil mandat ini dalam pengertian Israel akan memberikan akses kepada saya sebagai pengamat yang tidak memihak dan objektif," kata Makarim.

Makarim yakin Israel memberikan izin saat dia resmi menjabat sebagai pakar PBB pada Juni 2014. Tetapi, proses pengajuan akses tersebut tidak ditanggapi oleh Israel.

" Dengan tidak adanya jawaban dari Israel pada permohonan terakhir saya pada Oktober 2015 untuk mendapat akses hingga akhir 2015, merupakan sebuah penyesalan mendalam saya mengambil mandat ini, saya mendapat akses langsung kepada warga Palestina korban pendudukan, tidak akan terpenuhi," kata Makarim.

Diplomat Indonesia ini akan menyampaikan laporan terakhirnya kepada Dewan Hak Asasi Manusia pada Maret. Sepanjang dia menjalankan jabatannya ini, lanjut Makarim, Pemerintah Palestina bekerjasama penuh sesuai mandat.

Makarim menyuarakan keprihatinan yang mendalam terhadap korban Palestina, yang tidak mendapat perlindungan efektif dari pelanggaran HAM dan hukum kemanusiaan internasional.

" Saya enggan melanjutkan mandat yang diberikan Dewan HAM. Ini harapan tulus saya bahwa siapapun harus berhasil mengelola dan menyelesaikan kebuntuan ini, dan meyakinkan rakyat Palestina yang telah menderita selama setengah abad, dunia tidak akan melupakan penderitaan mereka dan sejatinya HAM universal benar-benar berlaku universal," ucap Makarim.

Lebih lanjut, Makarim mengatakan seharusnya Israel juga menunjukkan kerjasama sesuai mandat. Ini untuk menjaga kredibilitas Israel sendiri dalam pengakuan dan penghormatan HAM.

Dalam laporan terbarunya, Makarim menyuarakan keprihatinan atas serangan Israel di Hebron, Tepi Barat, yang memicu bentrokan tingkat tinggi di sana. Di kota itu, warga Palestina berdiam di tengah kepungan penduduk Israel serta mengalami blokade di sekitar Gaza yang menutup arus ekspor impor.

" Intinya tetap bahwa, jika Gaza ingin pulih dari kerusakan yang timbul akibat konflik dan ekonomi yang hancur, blokade harus dicabut. Orang-orang layak mendapat bantuan dan merasakan perlindungan akan hak asasi mereka, bukan dihukum secara kolektif," ungkap dia.

Makarim menjadi perwakilan tetap Indonesia pada dewan PBB di Genewa (2004-2007) dan New York (1997-2000), serta sejumlah badan PBB. Itu termasuk sebagai Ketua Komisi HAM PBB ke-61 pada 2005 dan Presiden Dewan Ekonomi dan Sosial PBB pada 2000.

(Ism, Sumber: un.org.)

Beri Komentar