Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Teten Si Manusia Kutil (Liputan6.com/Mulvi Mohammad)
Dream - Begitu berat hidup yang dijalani Teten, 40 tahun, warga Kampung Kuta Pamoyaman RT.12 RW.08, Desa Purabaya, Kecamatan Purabaya, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Dia terpaksa kehilangan pekerjaan dan juga ditinggal istrinya.
Semua karena kondisi fisiknya yang berbeda dari orang normal. Bukan karena cacat, namun sekujur tubuh Teten penuh dengan kutil.
Dikutip dari Liputan6.com, Jumat 29 Maret 2019, kisahnya berawal pada 12 tahun lalu. Mulanya hanya ada satu kutil tumbuh di tubuh Teten, tepatnya di bagian dagu. Teten pun memotong kutil itu dengan silet. Tetapi, peristiwa buruk terjadi kemudian.
Beberapa bulan kemudian, kutil semakin banyak muncul di tubuh Teten. Hingga saat ini, seluruh tubuh Teten penuh kutil. " Dari kepala sampai kaki, kutilnya terus bertambah," ujar Teten.
Kondisi tersebut membuat Teten malu bertemu orang lain. Dia sampai berhenti berdagang roti dan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.
Tak hanya kutil, ada benjolan besar tumbuh di punggung Teten. Beratnya mencapai 7 Kilogram.
" Berat, kayak gendong anak kecil," kata dia.
Teten terpaksa kehilangan mata pencahariannya. Dia juga mengandalkan penghidupan dari sang kakak yang bekerja di Jakarta sebagai asisten rumah tangga.
Kepiluan Teten semakin menjadi lantaran istrinya memilih bercerai. Alhasil, Teten harus menanggung beban hidup sendiri.
" Istri saya memilih berpisah dari saya, karena kondisi saya yang semakin hari semakin parah," kata dia.
Terbersit keinginan dalam benak Teten untuk bisa sembuh. Sayangnya, kondisi ekonomi yang serba pas-pasan menjadi penghalang bagi Teten untuk berobat.
" Saya malu, pingin cepat sembuh. Pingin kerja lagi biar bisa bahagiakan ibu," kata dia.
Kondisi Teten membuat sejumlah tetangga tergerak. Mereka bersama aparat setempat sampai menggalang donasi agar Teten bisa berobat ke rumah sakit.
Soal biaya perawatan, Teten sudah tercatat sebagai peserta BPJS Kesehatan. Meski begitu, dia mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan lain selama menjalani pengobatan.
Relawan BPJS Kesehatan Kecamatan Purabaya, Dede Hermawan, 40 tahun, mengatakan selalu mendampingi Teten setiap kali berobat. Menurut dia, Teten sudah pernah dioperasi untuk menghilangkan kutil namun hanya di area wajah.
" Baru satu kali operasi, kalau enggak salah cuma empat kutil yang dioperasi di bagian wajah. Karena Pak Teten kan mintanya yang di wajah dulu," kata dia.
Menurut Dede, Teten butuh biaya sekitar Rp250 ribu hanya untuk perjalanan dari dan menuju RSUD R Syamsuddin SH Kota Sukabumi. Alasan itulah yang membuat Teten urung berobat lantaran tidak punya uang.
" Jangankan buat ongkos, buat makan saja mereka itu kesulitan," kata dia.
Dede mengatakan, tidak mungkin memenuhi kebutuhan biaya Teten dengan terus-terusan menggalang donasi. Dia berharap ada jalan keluar terbaik bagi Teten.
" Agar Pak Teten bisa dioperasi lagi," kata Dede.
Sumber: Liputan6.com/Mulvi Mohammad
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya