Warga Sepuh Selandia Baru: Teror Christchruch Satukan Warga

Reporter : Maulana Kautsar
Jumat, 29 Maret 2019 07:00
Warga Sepuh Selandia Baru: Teror Christchruch Satukan Warga
Tak bisa tidur, usai mendengar peristiwa itu.

Dream - John Sato, 95 tahun, dari Auckland, Selandia Baru, tidak terkoneksi dengan dunia modern. Dia menghabiskan waktu berjalan di sekitar rumahnya, mengerjakan kegiatan di rumah, dan mendengar musik klasik dan opera favoritnya di radio.

Saat mendengar kisah penembakan massal di dua masjid Kota Christchruch, dia tak bisa tidur. " Saya terjaga cukup lama di malam hari. Saya rasa peristiwa yang menyedihkan. Anda dapat merasakan penderitaan orang lain," ucap John, dikutip dari Radio New Zealand, Kamis 28 Maret 2019.

Blasteran Skotlandia dan Jepang itu sehari-hari hidup mandiri. Istrinya meninggal 15 tahun yang lalu. Sementara itu, putri semata wayangnya, yang dilahirkan buta, telah meninggal tahun lalu.

" Saya pikir ini adalah tragedi, namun memiliki sisi lain. Peristiwa itu telah menyatukan orang-orang, tak peduli apa ras mereka," ujar dia.

Saat mendengar peringatan peristiwa teror di dua masjid di Christchruch, John ingin turut menunjukkan dukungan di sebuah masjid di Pakuranga, yang tak begitu jauh dari rumahnya.

1 dari 1 halaman

Meningkatkan Kemanusiaan

Berangkat pukul 10.00, dia menaiki bus ke Pakuranga. Dia kemudian memutuskan ke pusat kota.

Di sana dia menemui sejumlah orang dengan tatapan ramah. Bahkan, polisi memberikannya minum dan mengantarkannya pulang.

" Tragedi di Christchruch, lihat apa yang tejadi pada orang-orang. Mereka menunjukkan sisi kemanusiaan," ucap dia.

Beri Komentar
Representasi Feminisme Versi Barli Asmara