Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Seorang Korban Yang Tewas Di Pompeii Setelah Gunung Vesuvius Meletus Pada Tahun 79 M. (Foto: Shutterstock)
Dream - Kengerian warga Kota Pompeii pada tahun 79 Masehi sungguh tak terbayangkan. Ketika meletus, Gunung Vesuvius mengeluarkan batu panas, gas beracun, dan lava pijar yang menewaskan hampir seluruh warga kota tersebut.
Korban tidak hanya berjatuhan di Kota Pompeii. Kota Italia Kuno terdekat, Herculaneum, ikut merasakan dampaknya.
Aliran lava pijar membanjiri dan membumihanguskan semua bentuk kehidupan di sana.
Peristiwa itu membuat Kota Pompeii, dan Herculaneum, terkubur oleh lahar dan debu selama ribuan tahun.
Banyak yang mengira seluruh penduduk kedua kota tersebut musnah. Tapi penelitian terbaru menemukan fakta mengejutkan. Ada warga Pompeii yang selamat.
Dengan bukti sisa-sisa kehancuran Kota Pompeii yang dahsyat, ke mana sebagian penduduk kedua kota itu mengungsi?
Terlebih lagi, di zaman kuno seperti itu, para penduduk tidak mungkin mengungsi dengan cepat atau berjalan jauh seperti saat ini.
Ternyata, tidak semua penduduk Kota Pompeii dan Herculaneum lenyap oleh kedahsyatan letusan Gunung Vesuvius.
Ada sebagian penduduk yang mengungsi di kota-kota sepanjang pantai Italia Selatan. Mereka menetap di kota-kota seperti Cumae, Naples, Ostia dan Puteoli.
Temuan itu diungkapkan sebuah studi berjudul Preserved Pompeii: A City in Ash yang akan diterbitkan di jurnal Analecta Romana.
Penyusun studi, Steven Tuck, mengakui tugas untuk memperkirakan lokasi pengungsian sebagian penduduk Kota Pompeii dan Herculaneum bukan pekerjaan yang mudah.
" Sebagian besar catatan sejarah telah tercecer dan tidak lengkap. Kami harus membuat kriteria sambil meneliti catatan sejarah seperti dokumen, prasasti, artifak, dan infrastruktur kuno," jelas Tuck, profesor ilmu klasik di Miami University, Oxford, Ohio, Amerika Serikat.
Tuck membuat database nama-nama keluarga yang berasal dari Kota Pompeii dan Herculaneum. Setelah itu dia harus mencocokkan dengan nama-nama yang masih muncul setelah tahun 79 Masehi.
Dia juga mempelajari tanda-tanda yang unik dari kebudayaan Kota Pompeii dan Herculaneum. Termasuk agama mereka yang menyembah Vulcanus, dewa api, dan Venus Pompeiana, dewa pelindung Kota Pompeii.
Nama kedua dewa itu muncul kembali di kota-kota yang berdekatan dengan Kota Pompeii yang sudah hancur lebur oleh letusan Gunung Vesuvius.
Bangunan publik rupanya juga memiliki peran sebagai tempat pengungsian dan menjadi petunjuk adanya para pengungsi yang masih hidup.
" Sekitar 15.000 hingga 20.000 orang yang tinggal di Pompeii dan Herculaneum mampu bertahan hidup dari bencana letusan Gunung Vesuvius," kata Tuck.
Salah satu korban yang selamat dari letusan Gunung Vesuvius adalah seorang pria bernama Cornelius Fuscus.
Dia disebutkan meninggal dalam sebuah kampanye militer di tempat yang disebut orang Romawi sebagai Asia (yang sekarang Rumania).
" Mereka mengukir namanya dalam sebuah prasasti di sana. Mereka bilang dia berasal dari kota koloni Pompeii, lalu pindah ke Naples dan kemudian bergabung dengan militer," kata Tuck kepada Live Science.
Korban selamat lainnya adalah keluarga Sulpicius yang mengungsi ke Kota Cumae. Tuck mengatakan timnya menemukan kotak besi di luar tembok Kotak Pompeii berisi catatan tentang keluarga Sulpicius.
" Kotak besi itu penuh dengan catatan transaksi keuangan keluarga Sulpicius. Kotak besi ditemukan di tepi jalan tertutup oleh abu yang tebal.
" Sepertinya ada orang yang membawa kotak berat itu hingga beberapa mil saat mengungsi, tapi kemudian meninggalkannya di luar kota," jelas Tuck.
Kemudian ada pengungsi wanita dari Kota Pompeii bernama Vettia Sabina. Dia dikubur di sebuah pemakaman keluarga di Naples.
Makam wanita itu diberi ukiran berupa kata 'Have'. Kata ini berasal dari bahasa Oscan, salah satu dialek yang digunakan penduduk Kota Pompeii sebelum dan sesudah kota itu dikuasai Romawi pada tahun 80 Sebelum Masehi.

" Kata itu artinya 'Selamat Datang'. Anda bisa melihatnya di lantai depan pintu rumah-rumah penduduk Kota Pompeii," pungkas Tuck.
Sumber: Live Science
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya