Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kabar Hoaks Evakuasi Ibu Dan Balita Yang Terkubur Selama Dua Minggu Di Palu (Foto: Youtube)
Dream - Bencana gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi yang terjadi di Sulawesi Tengah, menimbulkan duka mendalam bagi para korban. Tapi, tak jarang, kisah-kisah yang dibagikan menyimpan kabar bohong.
Salah satu yang sedang ramai dibicarakan warganet yaitu video evakuasi seorang perempuan dan bayinya.
Dalam video yang kini telah dihapus Youtube itu, tertulis kisah penyelamatan korban yang terkubur selama dua minggu dalam lumpur. Yang mengejutkan, video itu menyebutkan bayi itu selamat.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho membantah kebenaran video itu.
" Tidak benar video yang mengabarkan 'Korban Palu, sudah 2 minggu terkubur lumpur masih selamat'," kata Sutopo melalui akun twitternya @Sutopo_PN, Jumat, 19 Oktober 2018.
Tidak benar video yang mengabarkan " Korban Palu, Sudah 2 Minggu Terkubur Lumpur Masih Selamat" https://t.co/1ifVJYTa2W
Video tersebut diambil relawan yang menyelamatkan Ibu dan bayinya yang terseret likuifaksi di Jono Oge di Desa Langaleso pada 28/9/2018 malam setelah kejadian. pic.twitter.com/yHPpbCjqLk— Sutopo Purwo Nugroho (@Sutopo_PN)October 18, 2018
Sutopo menyebut, video evakuasi itu terjadi malam usai peristiwa likuifaksi terjadi pada 29 September 2018.
" Video tersebut diambil relawan yang menyelamatkan ibu dan bayinya yang terseret likuifaksi di Jono Oge di Desa Langaleso pada 28/9/2018 malam setelah kejadian," tulis dia.
Sutopo juga membantah video gelimangan mayat di bibir pantai. Di akun Twitter-nya dia menyebut, video tersebut tidak terjadi di Palu.
Dalam video itu, tampak ratusan jasad manusia terombang ambing di pantai. Petugas berbaju oranye yang datang mengevakuasi mereka.
" Ini bukan tsunami di Palu tetapi kejadian di luar negeri. Kondisi laut, pantai, korban dan petugas menunjukkan bukan terjadi di Palu atau Indonesia. Abaikan jika Anda menerimanya," ujar dia.

Dream - Kuasa Allah SWT tak pernah ada yang tahu. Di tengah bencana yang menewaskan sekitar 2.000 orang, seorang balita yang baru berusia setahun justru selamat.
Bayi kecil itu bernama Sasmita. Dia salah satu korban selamat tsunami Palu akhir September lalu. Kisahnya selamat balita ini sungguh ajaib.
Sasmita sempat tergulung tsunami, bahkan sampai dua kali. Tetapi, balita itu sama sekali tidak terluka.
Balita ini merupakan putri bungsu pasangan Yardin, 33 tahun dan Nurfianti, 30 tahun. Keduanya adalah warga Kelurahan Buluri, Kecamatan Ulujadi, Kota Palu.
Sang ibu, Nurfianti, bercerita dia dan Sasmita berjuang agar bisa selamat. Ketika tsunami terjadi, dia bersama Sasmita dan kakaknya, Khaeril, 10 tahun, ada di dalam rumah sembari menghadap ke arah Teluk Bone.
Nurfianti panik begitu terjadi gempa. Dia langsung membawa menggendong Sasmita yang sedang terbaring.
" Sementara kakaknya (Khaeril) sudah lari duluan ke jalan raya," ujar Nurfianti, dikutip dari pojoksatu.id.
Malangnya, gelombang tinggi menyambut Nurfianti yang baru keluar pintu. Waktu itu, posisi gelombang sudah dekat pantai.
" Rumah saya kan sangat dekat dengan pantai, jadi air tsunaminya sangat cepat menghantam rumah saya," kata dia.
Lantaran tidak cukup waktu menyelamatkan diri, Nurfianti yang sedang menggendong Sasmita tersapu tsunami. Sayangnya, dekapannya kurang kuat sehingga Sasmita terlepas.

Nurfianti bersama Sasmita di pengungsian (pojoksatu.id)
Belum sempat surut, gelombang tsunami datang lagi. Sasmita yang sudah terlepas dari dekapan ibunya turut terhempas.
" Badan saya juga terpental kena reruntuhan bangunan. Saya lihat Sasmita sudah tenggelam setelah dihantam gelombang," kata dia
Dalam kondisi tubuh kesakitan, Nurfianti berusaha menyelamatkan anaknya. Beruntung, Sasmita ditemukan selamat.
" Setelah itu saya langsung lari ke arah jalan raya," ucap Nurfianti.
Wanita itu bersyukur keluarganya selamat dari bencana. Saat ini, satu keluarga tersebut tinggal di pengungsian di Lapangan Benteng, Kelurahan Buluri.
Rumah mereka hancur akibat terjangan tsunami. Nurfianti mengaku tidak tahu lagi harus tinggal di mana.
" Mudah-mudahan saja ada perhatian dari pemerintah," tutur dia.
(Sah, Sumber: pojoksatu.id)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya