Video Detik-Detik Badai Pasir Setinggi 100 Meter Telan Satu Kota

Reporter : Eko Huda S
Kamis, 29 November 2018 08:01
Video Detik-Detik Badai Pasir Setinggi 100 Meter Telan Satu Kota
Dalam video yang beredar di dunia maya terlihat badai pasir yang bergulung-gulung menyapu kota itu.

Dream - Peristiwa mengerikan terjadi di China. Sebuah badai pasir mematikan melanda Kota Zhangye, Provinsi Gansu.

Dalam video yang beredar di dunia maya terlihat badai pasir yang bergulung-gulung itu seolah 'menelan' Kota Zhangye.

Laman Mirror.co.uk, sebagaimana dikutip pada Kamis 29 November 2018, menulis bahwa pasir itu seolah membentuk sebuah tembok raksasa dengan ketinggian 100 meter.

Para pengendara yang tengah melaju di jalanan diminta berhenti. Sebab, jarak pandang hanya sepuluh meter saja. Sementara, semua penduduk di kota itu diimbau tetap berlindung di dalam rumah masing-masing.

Menurut badan meteorologi China, badai pasir raksasa ini terjadi pada Minggu 25 November 2018. Badai itu menyapu sekujur wilayah kota itu dengan kecepatan 17 meter perdetik.

Setelah mereda, semua bangunan, mobil, dan benda-benda yang tersapu badai dilapisi oleh pasir tebal.

Wilayah Kota Zhangye selama ini memang biasa dilanda badai pasir karena tanah dan pasir di Gurun Gobi tertiup angin kencang dan berarak ke wilayah ini.

1 dari 3 halaman

Ini Videonya

2 dari 3 halaman

Misteri Badai Debu 'Kiriman Tuhan' untuk Israel

Misteri Badai Debu 'Kiriman Tuhan' untuk Israel© Dream

Dream - Kebakaran hebat melanda beberapa kota di Israel selama berhari-hari. Belum lagi panas dari sisa-sisa kebakaran itu sirna, kini muncul kejadian alam yang tak biasa, yaitu berupa badai debu dan hujan lebat. Peristiwa alam itu terlihat di perbatasan Israel dan wilayah Suriah yang dikuasai ISIS.

Anehnya, kejadian alam itu tidak bisa masuk ke Dataran Tinggi Golan yang masuk wilayah Israel. Video fenomena cuaca unik itu diunggah di Facebook oleh Israel News Online. Diduga badai debu dan hujan lebat itu terjadi pada hari Kamis, 1 Desember sekitar jam 8 pagi waktu setempat.

Di laman FacebookIsrael News Online menulis, " Sebuah fenomena alam terjadi pada hari Kamis jam 8 pagi di perbatasan di sisi Suriah, tempat ISIS pernah menyerang Israel."

Fenomena alam berupa campuran badai debu, awan, dan hujan, itu berputar-putar sekitar perbatasan sehingga terlihat seperti pembatas antara Israel dan ISIS.

Terjadi banyak perdebatan terkait fenomena ini. Ada yang menyebut badai itu sebagai 'kiriman Tuhan' untuk melindungi Israel dari ISIS.

Namun yang lain merasa skeptis dan tidak sependapat, dengan menulis, " Sebenarnya, itu hanyalah fenomena alam biasa."

3 dari 3 halaman

Presiden Israel Kutuk Larangan Azan di Masjid

Dream - Presiden Israel, Reuven Rivlin, pada Selasa kemarin mengutuk RUU kontroversial yang akan melarang masjid-masjid melantunkan azan menggunakan pengeras suara.

RUU, yang memicu kemarahan seluruh warga Arab dan dunia itu akan diserahkan untuk pembacaan pertama di Parlemen Israel pada Rabu, 30 November.

Aturan yang baru diubah pekan lalu itu terlihat sangat diskriminatif. Karena tidak melarang pembunyian sirene yang biasa dilakukan untuk mengawali waktu ibadah agama Yahudi yang dimulai saat matahari terbenam setiap hari Jumat.

Dari kediamannya di Yerusalem, Rivlin mengadakan pertemuan dengan para pemuka agama pada Selasa kemarin. Pertemuan itu digelar untuk mencari solusi masalah kesenjangan yang dialami para muadzin.

" Saya berpikir bahwa mungkin pertemuan semacam itu bisa berdampak pada seluruh masyarakat. Sangat memalukan jika hukum yang dilahirkan menyentuh isu kebebasan berkeyakinan kelompok tertentu di antara kita," kata Rivlin.

Rivlin menganggap undang-undang baru yang didukung oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sebagai sesuatu yang tidak perlu.

" Presiden percaya bahwa undang-undang yang ada mengenai tingkat kebisingan mampu menjawab masalah yang timbul dari persoalan ini, di samping melalui dialog antara komunitas agama di Israel," kata Naomi Toledano Kandel, juru bicara Rivlin.

Badan Pengawas Pemerintah Israel terus menentang undang-undang yang diusulkan, dan menggambarkannya sebagai ancaman terhadap kebebasan beragama dan provokasi yang tidak perlu.

Anggota parlemen Arab Israel Ahmed Tibi telah bersumpah untuk mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Kehakiman jika sirene Shabbat dikecualikan dari agenda RUU. Tibi beralasan pengecualian sirene Shabbat akan membedakan antara warga Yahudi dan Muslim.

Aturan dalam undang-undang baru itu rencananya akan berlaku untuk masjid-masjid yang berada di Israel dan Yerusalem Timur yang dikuasai negara Yahudi itu sejak 1967. Namun aturan dalam undang-undang itu mengecualikan Masjid Al-Aqsa yang merupakan tempat tersuci ketiga bagi umat Islam.

Pendorong RUU tersebut, Motti Yogev, dari partai sayap kanan Rumah Yahudi, mengatakan undang-undang ini diperlukan untuk menghindari gangguan sehari-hari bagi kehidupan ratusan ribu warga Israel non-Muslim.

Dia juga menuduh bahwa beberapa muazin menyalahgunakan tugas mereka untuk memicu kebencian terhadap Israel.

(Sumber: arabnews.com)

Beri Komentar