Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Wabah rusa zombie sedang menghantui warga Amerika Serikat (AS) beberapa pekan ini. Beberapa pejabat di Tennessee mengatakan wabah ini sebagai `masalah besar` yang diprediksi akan bertahan dalam waktu lama.
Tentu saja rusa zombie yang dimaksud bukan mitos tentang sosok manusia atau binatang yang hidup kembali setelah mati seperti dipercaya warga Negeri Paman Sam.
Pusat Kontrol dan Pencegahan Penyakit AS menyebut penyakit kronis (CWD) ini terdeteksi menjangkiti rusa-rusa di 251 wilayah di 24 negara bagian. Sementara itu, dilaporkan News Channel 3, di Tennessee, 183 rusa positif mengidap penyakit itu.
Seorang pemburu dari Tennessee Barat dari Bolivar, Anthony Landreth, menemukan seekor rusa sedang berburu di wilayah barat daya Hardema memiliki CWD.
" Ketika saya pertama kali melihatnya, saya berpikir, ya ampun, benda ini sakit, buruk," kata Landreth tentang rusa yang dia bunuh pada 20 Januari lalu itu.
Meski menghebohkan secara nama, nyatanya banyak pemburu dan ahli margasatwa tak terlalu terkejut dengan kondisi yang dialami rusa-rusa itu. Sebab, penyakit semcam itu permah muncul dalam beberapa tahun dan disebut tidak menggambarkan sesuatu yang menyerupai `zombie`.
Dilaporkan USA Today, Direktur Komunikasi, Quality Deer Management Association, Lindsay Thomas, mengatakan, banyak rusa yang terinfeksi tidak mencapai level akhir wabah itu. Pada tahap akhir wabah, rusa akan kehilangan berat badan, mengeluarkan air liur, dan tersandung.
Lindsay justru membandingkan penyakit itu dengan demensia. Hewan yang terinfeksi wabah itu tampak kebingungan.
" Hewan-hewan ini bukan zombie," kata koordinator penyakit berbahaya di Pusat Kesehatan Satwa Liar Survei Nasional AS, Bryan J. Richards.
" Mereka siap mati. Mereka sangat sakit," ucap dia.
CWD pertama kali diidentifikasi pada 1960-an. Penyakit ini menular, namun kemungkinan tidak akan memicu kiamat.(sah)
Dilaporkan Health, tidak ada alasan untuk panik menghadapi wabah ini. Direktur Penyakit Pusat Patologi Nasional di Case Western Reserve University, Brian Appleby, mengatakan, tidak ada gejala baru dari tersebarnya wabah ini.
" Dan nomor dua, kami tidak memiliki bukti bahwa itu dapat ditularkan ke manusia," kata Appleby.
Satu-satunya cara masuknya penyakit itu dituluarkan ke manusia dengan cara mengkonsumsi daging hewan yang terkontiminasi.
Meski begitu kondisi ini jarang terjadi. Selama ini hanya ada empat kasus yang pernah dilaporkan di AS.
Kekhawatiran terbesar saat ini, kata Appleby, adalah besarnya ketidakpastian seputar masalah ini.
" Kita tidak hanya tidak tahu apakah penularan ke manusia mungkin terjadi, tetapi kita juga tidak tahu seperti apa itu nantinya," ujar dia.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya