Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Johanna Dan Scott (independent.co.uk)
Dream - Sebagian orang mungkin mengidap alergi terhadap benda-benda tertentu. Tetapi, alergi pada apapun tentu sangat mengesalkan.
Hal ini terjadi pada wanita Amerika Serikat, Johanna Watkins, 29 tahun. Sudah setahun belakangan, dia berada di dalam kamar seharian karena alergi demi, makanan, bahan kimia, dan apa saja.
Alhasil, suaminya, Scott, membuat zona aman yang bisa ditempati Johanna. Ruangan itu ditutup rapat dan dilapisi plastik hingga cahaya matahari tidak bisa masuk.
Parahnya, Johanna juga alergi terhadap bau badan manusia, termasuk suaminya. Ini menyebabkan Scott tidak bisa memeluk Johanna tanpa menimbulkan rasa sakit. Keduanya akhirnya tinggal di ruang terpisah.
Johanna ternyata menderita Mast Cell Activation Syndrom (MCAS). Diagnosa itu baru muncul setelah Johanna diperiksa sekitar 30 dokter.
Johanna memiliki kelainan Sel Mast. Sel ini merupakan sel darah putih yang mengeluarkan cairan kimia ke dalam tubuh, yang kemudian mengendalikan sistem kekebalan tubuh.
Tetapi, sel mast Johanna tidak bekerja pada tempatnya. Sel mast itu mengeluarkan zat kimia pada waktu dan tempat yan salah.
Kasus pertama MCAS didiagnosa sembilan tahun lalu, sehingga informasi mengenai sindrom ini sangat sedikit. Meski begitu, diprediksi antara 1-15 persen populasi dunia menderita sindrom ini.
Bagi kebanyakan orang menderita MCAS, bagaimanapun, cukup mudah diobati. Kasus Johanna, di sisi lain, merupakan salah satu yang ekstrim sehingga dia belum bisa diobati.
Untuk mengusir kebosanan, Johanna menghabiskan waktu dengan sejumlah teknologi dan internet. Dia menyibukkan diri dengan chating dan telepon.
Waktu ketika Johanna meninggalkan kamarnya hanya saat dia harus pergi ke dokter. Tetapi, hal itu sangat menyakitkan.
" Sesaat ketika pintu terbuka, saya langsung merasakannya. Tubuh saya terasa diserang sepenuhnya. Ini terasa seperti tubuh saya sedang berperang sendiri," kata Johanna kepada Fox 9.
Setiap hari, Johanna hanya mengonsumsi beberapa jenis makanan seperti daging kambing, sapi panggang, mentimun dan wortel. Scott menyiapkan makanan itu selama setahun.
Meski begitu, keduanya tetap merasa yakin Johanna dapat sembuh.
(Ism, Sumber: independent.co.uk)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya