Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Pembuatan Jamban Keluarga Dengan Arisan Jamban. (Foto: Menpan.go.id)
Dream – Jika mendengar kata “ arisan”, kata yang langsung terlintas di pikiran adalah kaum hawa, uang, dan perkumpulan. Dan barang yang lazim digunakan untuk arisan adalah uang.
Tapi, ada yang unik di dalam arisan di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Mereka membuat arisan jamban.
Dilansir dari menpan.go.id, Kamis 17 November 2016, Sistem arisan yang unik ini—Sistem Arisan Jamban Keluarga (SiArja) merupakan inovasi yang diinisiasi oleh Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kabupaten Nunukan, Ramsidah.
Inovasi binaan Lembaga Administrasi Negara (LAN) melalui laboratorium inovasi, menyabet juara inovasi pelayanan publik se-Kalimantan.
“ Inovasi ini sederhana, tetapi hasilnya sangat bagus karena berkelanjutan dan mampu menggerakkan masyarakat untuk berpartisipasi, terutama dunia usaha melalui CSR,” kata Deputi Inovasi Lembaga Administrasi Negara, Tri Widodo.
Apa itu sistem arisan jamban?
© Dream
Ramsidah mengatakan SiArja ini adalah sistem pembuatan jamban di setiap rumah dengan dana arisan warga. Dengan dana arisan ini, Ramsidah meminta warga bergotong-royong membuat jamban sederhana dari ban bekas, ijuk, kerikil, dan kaporit.
Ban bekas digunakan karena di sana banyak ban yang sudah tidak bermanfaat dan bisa menjadi sarang nyamuk.
Ban bekas dari motor dan mobil ini disusun dalam lubang berukuran 2x2 meter dan di sampingnya diberi ijuk, pasir, dan kerikil untuk mencegah pencemaran lingkungan. Kemudian, diberi kapur dan kaporit sehingga kotoran bisa diuraikan. Lalu, lubang itu dicor dengan semen dan ditutup kayu atau bambu.
Usaha Ramsidah tidak sia-sia. Inovasinya menunjukkan hasil yang baik.
“ Hasil klinisnya bagus,” kata dia.
© Dream
Ramsidah mengatakan inovasi ini berawal dari situasi masyarakat Nunukan. Dikatakan bahwa pada tahun 2014 hanya ada 30 persen warga yang memiliki jamban keluarga. Kondisi ini membuat Ramsidah merasa miris. Padahal, Dinas Kesehatan Nunukan selalu mensosialisasikan betapa pentingnya hidup sehat.
Ramsidah menambahkan warga yang memiliki rumah bagus pun tidak punya jamban. Kalaupun ada, pembuangannya langsung ke saluran pembuangan air limbah sehingga menimbulkan pencemaran air.
“ Saat mengikuti Diklat PIM yang mengharuskan peserta membuat proyek perubahan, saya berpikir untuk membuat sebuah inovasi dengan bahan-bahan yang sangat sederhana,” kata dia.
Sejak tahun 2014, sudah ada 1000 jamban yang telah dibangun.(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya