Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto
Dream - Warga dengan hasil tes Covid-19 negatif tetap mematuhi imbauan pemerintah, seperti menjaga jarak dengan orang lain dan menghindari kerumunan. Tes dimaksud merujuk pada metode tes cepat.
Juru bicara gugus tugas percepatan penanganan Covid-19, Achmad Yurianto menegaskan, mereka dengan hasil tes negatif tetap melakukan pembatasan dalam berinteraksi sosial.
“ Hasil negatif tidak memberikan garansi tidak terinfeksi Covid - 19. Menjaga jaga jarak, menghindari kerumunan orang menjadi pilihan pertama,” kata Yuri, Sabtu, 21 Maret 2020.
Yuri mengatakan, individu yang sudah terinfeksi virus corona melakukan tes cepat menunjukkan hasil negatif. Kondisi tersebut terjadi karena respons serologi dan respons imunitas belum muncul.
Ini sering terjadi pada infeksi yang masih berada di bawah 7 hari atau 6 hari, hasilnya pasti akan negatif.
“ Oleh karena itu, ini akan diulang lagi untuk 6 hari atau 7 hari, kemudian dengan pemeriksaan yang sama, dan kita menginginkan siapa pun meskipun di dalam pemeriksaan negatif, tidak kemudian merasa dirinya sehat tetap harus melaksanakan pembatasan. Mengatur cara dalam konteks berkomunikasi secara sosial,” kata dia.
Dia mengatakan bahwa hasil negatif tidak memberikan garansi mereka tidak sedang terinfeksi Covid-19 ini. Masyarakat harus memahami dengan serius kondisi tersebut.
“ Yang harus kita mengerti bersama, oleh karena itu kebijakan terkait dengan mengatur menjaga jarak, mengurangi aktivitas di luar, menghindari kerumunan, dan sebagainya, tetap menjadi pilihan yang pertama,” kata dia.
Menurut Yuri, situasi saat ini menghadapi tantangan sebaran yang menjadi semakin cepat. Khususnya pada orang-orang di sekitar yang usianya lebih tua.
Dream - Juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19, Achmad Yurianto menyebut penambahan kasus pasien positif virus corona pada Sabtu 21 Maret 2020. Dia menyebut, terdapat 81 kasus baru pasien positif Covid-19.
" Sehingga total kasus 450 orang," kata Yuri, Sabtu, 21 Maret 2020.
Yuri mengatakan, selain pasien positif, terdapat pula empat pasien yang dinyatakan pulih dan diizinkan pulang. Dengan tambahan empat orang tersebut, pasien yang dinyatakan pulih berjumlah 20 orang.
Meski begitu, kasus kematian pasien positif di Indonesia terus terjadi. Terdapat enam orang yang positif meninggal karena Covid-19.
" Sehingga totalnya 38 orang," ucap dia.
Seluruh data itu sudah diberikan ke Kepala Dinas Provinsi dan data ini sudah disampaikan ke pihak rumah sakit tempat pasien tersebut menjalani perawatan.
" Dan juga diserahkan ke dinas kesehatan kabupaten kota untuk digunakan sebagai bahan tracing untuk melacak penularan yang terjadi dari kasus yang kita rawat. Dari kasus tracing itu akan kita lengkapi dengan rapid test," kata dia.
Pemerintah, kata dia, akan menyiapkan 2 juta rapid test. Saat ini, sudah ada lebih dari 2 ribu tes cepat yang berlangsung.
" Kita harapkan simultan semuanya setelah reagen yang kita terima besok 150 ribu bisa langsung kita distribusikan ke provinsi," ucap dia.
Dream - Pemerintah telah menyiapkan obat untuk menangani virus corona atau Covid-19. Obat itu sudah dicoba di beberapa negara. Dan memberikan kesembuhan.
" Anti virusnya belum ditemukan. Tapi obat ini sudah dicoba oleh satu dua negara dan memberikan kesembuhan," ujar Jokowi di Istana Negara, Jakarta, Jumat 20 Maret 2020.
Obat yang dimaksud adalah Avigan dan Chloroquine. " Kita telah mendatangkan 5.000 (Avigan) dan dalam proses pemesanan hingga 2 juta. Dan kita juga siapkan 3 juta (Chloroquine)," imbuh Jokowi.
Obat tersebut akan sampai pada pasien yang membutuhkan melalui dokter keliling dari rumah ke rumah, melalui rumah sakit dan puskesmas di kawasan yang terinfeksi.
" Kita ingin sampaikan, kita tidak diam. Tapi mencari hal dan informasi apa yang bisa agar dapat selesaikan Covid-19 ini" .
Dream - Pencarian terhadap vaksin dan obat untuk menangani virus corona terus dilakukan. Salah satu temuan terkini, yaitu, oblat influenza favipiravir.
Dilaporkan Nikkei Asian Review, obat influenza itu dibuat anak perusahaan Fujifilm Holdings. Obat tersebut dijual di pasaran dengan nama Avigan.
Pemerintah China mengonfirmasi temuan ini. Obat itu bahkan telah diuji klinis terhadap 200 pasien.
Beberapa dokter dari Jepang juga telah merawat pasien Covid-19 dengan Avigan. Tokyo telah menimbun cukup banyak obat untuk mengobati 2 juta pasien.
" Kami telah diminta oleh pemerintah untuk mempertimbangkan peningkatan produksi," kata Fujifilm.
Avigan disetujui untuk mengobati influenza di Jepang pada Maret 2014. Fujifilm menandatangani perjanjian lisensi dengan Zhejiang Hisun Pharmaceutical China pada 2016.
Beijing sudah merekomendasikan obat ini kepada penyedia layanan kesehatan.
Sementara itu, perusahaan bioteknologi Amerika Serikat (AS) Gilead Sciences sedang melakukan uji klinis untuk remdesivir, yang awalnya dikembangkan untuk mengobati Ebola, pada 1.000 pasien virus corona. Obat ini sedang diuji di AS, Jepang, Cina, dan di tempat lain.
Remdesivir masih belum disetujui di mana pun untuk penggunaan apa pun.
Kaletra, pengobatan HIV yang dibuat oleh AbbVie yang berbasis di A.S., juga telah digunakan untuk mengobati virus corona di China bersama dengan obat lain. Jika terbukti efektif, produksi obat ini berpotensi ditingkatkan dengan cepat.
Institute of Medical Science di University of Tokyo akan mulai secara eksperimental merawat pasien coronavirus dengan nafamostat, perawatan pankreatitis, pada akhir minggu ini.
Meski begitu, beberapa obat di atas masih punya efek samping. Avigan, misalnya, menyebabkan cacat lahir selama pengujian hewan dan tidak direkomendasikan untuk digunakan oleh wanita hamil.
Kerusakan hati dan pankreatitis telah diamati pada pengguna Kaletra. Efek samping untuk remdesivir masih belum jelas, tetapi dapat termasuk menurunkan tekanan darah.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya