Wasiat Terakhir Sunan Gunung Jati

Reporter : Eko Huda S
Selasa, 12 April 2016 11:44
Wasiat Terakhir Sunan Gunung Jati
Kalimat itu tertulis di dinding serambi Masjid Agung Gunung Jati, Cirebon.

Dream - “ Insun titip tajug lan fakir miskin.” Kalimat itu tertulis di dinding serambi Masjid Agung Gunung Jati, Cirebon. Banyak yang yakin kalimat itu merupakan wasiat terakhir Syarif Hidayatullah, salah satu penyebar Islam di Tanah Jawa.

Kalimat ulama bergelar Sunan Gunung Jati itu kurang lebih berarti “ Saya titip tajug (sejenis musala atau langgar yang dipergunakan pula buat mengaji) dan fakir miskin.”

Melalui wasiat itu, Sunan Gunung Jati berpesan kepada umat Islam merawat musala dan fakir miskin setelah kepergiannya. Dengan kata lain, musala dan fakir miskin tak boleh ditelantarkan.

Menurut KH Jamhari, tokoh dari Plered, Cirebon, tajug yang dimaksud dalam wasiat itu punya arti yang lebih luas, tidak hanya terbatas musala atau langgar saja. Melainkan meliputi pesantren, madrasah diniyah, dan majlis ta'lim lainnya.

Demikian pula dengan istilah fakir miskin, bukan sekadar para pengemis, si peminta-pinta. Tapi juga para santri dan pelajar yang benar-benar sedang menimba ilmu dan memerlukan bantuan.

Rupanya, wasiat Sunan Gunung Jati itu benar-benar diamalkan oleh masyarakat di Cirebon. Lantas, apalagi wasiat-wasiat dari Sunan Gunung Jati?

Baca selengkapnya di tautan berikut ini.

Beri Komentar