Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Yenita, Berkebaya, Mendapatkan Gelar Ke-12 Nya (Foto: Untar.ac.id)
Dream - Yenita. Dialah dosen dengan sederet gelar. Bukan satu, dua, atau bahkan tiga. Gelar akademiknya berderet bak rangkaian gerbong kereta, bahkan lebih.
Dosen Universitas Tarumanegara ini punya 12 gelar akademik. Terbaru, dia baru saja menyematkan gelar doktor Ilmu Ekonomi dari Universitas Trisakti.
Dengan gelar baru itu, bila ditulis namanya menjadi: Dr Yenita, SE, MM, MBA, M.Si, MT, MH, M.Pd, ME, M.Ak, M.MSi, M.I.Kom.
" Yenita adalah dosen yang tergolong istimewa karena memiliki 12 gelar akademik dari berbagai disiplin ilmu di antaranya adalah memperoleh 10 gelar master," tulis www.untar.ac.id.
Tidak itu saja, perempuan kelahiran Sumatera Barat 17 Juli 1980 ini juga sedang menyiapkan sidang terbuka untuk gelar doktor ke duanya di bidang ilmu hukum.
Dalam program doktor, yang sudah diuji itu, Yenita memilih konsentrasi service management sebagai kajian keilmuwannya. Dia lulus dengan predikat sangat memuaskan.
Yenita mampu mempertahankan disertasi berjudul “ Knowledge, Concern, dan Perceived Value sebagai Prediktor bagi Visit Behavioral Intention yang Dimediasi oleh Attitude dan Trust (Studi pada destinasi Green Tourism di Sumatera Barat)”.
Penelitian pengajar di FE Untar ini memberi kontribusi pada ilmu manajemen pariwisata khususnya green tourism.
Menurutnya, pemerintah dan pebisnis pariwisata perlu menekankan faktor green perceived value, green knowledge, green concern, green trust, dan green attitude, dalam rangka meningkatkan dan memajukan green tourism di Sumatera Barat.
Faktor-faktor tersebut dapat dilakukan melalui berbagai program pembenahan pariwisata, baik melalui sosialisasi, regulasi, maupun sanksi demi terwujudnya pariwisata yang ramah lingkungan dan ramah wisatawan.
“ Pelaksanaannya perlu dukungan masyarakat maupun para wisatawan,” kata Yenita.
Dream - Tahun lalu, Herayati Sawitri, menyedot perhatian publik. Putri tukang becak asal Kota Cilegon, Banten ini menorehkan prestasi membanggakan. Dia meraih gelar sarjana (S1) dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan predikat Cum Laude.
Kali ini, Herayati kembali menorehkan prestasi. Hera lulus dari jenjang S2 di almamaternya pada 20 Juli 2019 lalu.
Sama seperti saat kuliah tingkat Sarjana, kali ini Herayati mengukir prestasi dengan menghabiskan pendidikan master hanya dakan waktu 10 bulan.
" Saya ambil S2 Kimia. Masa studi kurang lebih 10 bulan. Hera lulus sidang Magister 15 Mei lalu," kata Hera, dikutip dari BantenNews.co.id.
Setelah lulus S1 dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,77, Hera mendapat kesempatan menempuh studi S2 melalui program beasiswa Fast Track ITB. Dia mengambil Program Pascasarjana Kimia.
Usai meraih gelar Magister, Hera punya keinginan mengabdi di Banten sebagai dosen. Dia sudah diminta menjadi pengajar oleh pihak rektorat Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta).
" Setelah wisuda saya ingin mengabdi di Banten," kata Hera.
Selain menjadi dosen, Hera masih punya keinginan untuk melanjutkan pendidikan. Tetapi, mimpi itu akan dia wujudkan beberapa tahun lagi setelah dia resmi mengajar di Untirta.
" Pengennya nanti setelah resmi jadi dosen, mungkin 2021 akan ambil studi S3," kata Hera.
Sumber: Bantennews.co.id
Dream - Gadis kelahiran Cilegon, Banten, Herayati, membuktikan kekurangan bukanlah penghalang untuk meraih prestasi. Gadis putri seorang tukang becak ini lulus dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan predikat Cumlaude.
Herayati menamatkan pendidikan sarjana di Program Studi Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) nyaris sempurna yaitu 3,77. Bahkan sat menjalani kuliah semester V, IPK Herayati masuk kategori sempurna, 4,00.
Selama kuliah, Herayati tidak mengandalkan uang dari orangtua. Mahasiswi berprestasi ini mendapatkan beasiswa Bidik Misi.
Herayati mengaku sudah lama ingin kuliah di ITB dengan beasiswa. Dia terinspirasi oleh salah satu alumni di sekolahnya yang bisa kuliah di kampus yang sama tanpa uang pribadi sepeserpen, sepenuhnya dari beasiswa.
" Saya juga ingin berkuliah tanpa membebankan biaya ke orang tua," kata Herayati dikutip dari itb.ac.id, Kamis 26 Juli 2018.
Meski begitu, dia tidak sepenuhnya menggantungkan pembiayaan dari beasiswa. Herayati juga mencari yang tambahan dengan menjadi guru les privat untuk mahasiswa tingkat pertama ITB.
Meski sibuk dengan tugas kuliah dan mengajar, nyatanya Herayati tetap bisa berprestasi. Awal tahun 2017, gadis ini mendapatkan penghargaan dari Dosen FMIPA karena IP yang selalu sempurna sejak semester I sampai semester V.
Tak hanya itu, Herayati juga pernah menjadi delegasi Indonesia dalam Asia Pasific Future Leader Conference 2017 di Kuala Lumpur. Dia merasa sangat bangga menjadi wakil Indonesia.
" Ini salah satu momen yang tak terlupakan selama menjadi mahasiswa karena bertemu dengan orang-orang dari negara lain," ucap Herayati.
Prestasi tersebut membuat Herayati mendapat banyak dana bantuan pendidikan. Beberapa di antaranya seperti dari Pemerintah Kota Cilegon, Kepala Staf Presiden Moeldoko, dan Menteri Koordinator bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan.
Saat ini, Herayati tercatat sebagai mahasiswi program fast track yang dicanangkan ITB. Program ini memungkinkan seorang mahasiswa menempuh pendidikan S1 sekaligus S2 selama lima tahun.
(Sah)
Dream - Jumat pekan lalu menjadi hari bahagia sekaligus bersejarah bagi Herayati. Mahasiswi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Institut TeknologiBandung (ITB) itu mendapat penghargaan langsung dekan.
Butuh perjuangan untuk bisa mendapat penghargaan tersebut. Hera layak mendapatkan penghargaan itu karena berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna, 4,0.
Hera pun mendapat kesempatan mengikuti program fast track, yaitu menempuh jenjang S1 sekaligus S2 hanya dalam waktu 5 tahun.
" Alhamdulillah dapat IP4. Berkat IP itu saya mendapat penghargaan dari dekan FMIPA ITB," ujar Hera, dikutip dari bantennews.com, Senin 13 Februari 2017.
Mendapat penghargaan itu membuat semangat belajarnya meninggi. Dia pun harus lebih keras dalam belajar.
" Saya sekarang lagi ngejalanin program honours yakni program bagi mahasiswa dengan kemampuan akademik yang baik," kata dia.
" Insya Allah akan lanjut ke program fast track yaitu program S1 dan S2 hanya 5 tahun. Belum tahu ada beasiswa atau tidak untuk S2 ini, namun saya akan berusaha bisa mencapai program ini," ucap Hera.
Mahasiswi asal Masigit, Kelurahan Kotasari, Kecamatan Grogol, Kota Cilegon, Banten, ini bukan berasal dari keluarga mampu. Dia hanyalah anak dari seorang ayah berprofesi sebagai tukang becak dan ibu yang merupakan ibu rumah tangga biasa.
Mungkin banyak dari mereka kurang bersemangat dalam belajar lantaran kondisi keuangan yang serba kurang. Tetapi, hal itu tidak berlaku bagi Hera, yang diterima kuliah di ITB dengan beasiswa penuh.
Ayah Hera, Sawiri kerap menarik becak di Kecamatan Grogol dengan penghasilan hanya sebesar Rp15.000 perhari. Tentu uang itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, apalagi untuk biaya sekolah anak-anaknya.
Meski penghasilan orangtuanya sangat kurang, Hera pantang menyerah. Dia sangat yakin, Allah Maha Kaya.
Semangat itu justru mengantarkan Hera meraih prestasi begitu tinggi. Semua berkat kerja keras yang dia jalani selama ini.
Meski begitu, Hera sempat merasakan kepahitan. Dia pernah tidak lolos Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) hanya karena panitia meragukan nilai rapornya.
" Waktu itu SNMPTN ITB, panitianya tidak percaya kalau nilai saya di rapor besar-besar. Akhirnya, saya ikut tes tertulis dan akhirnya saya diterima," ucap Hera.
Dia menambahkan, semangatnya belajar terinspirasi dari perjuangan pantang menyerah kedua orangtuanya dalam menjalani hidup. Dia ingin orangtuanya bisa hidup lebih baik.
" Saya ingin mengubah hidup orangtua saya dan ingin membangun daerah kelahiran saya," tutur Hera.
Capaian yang ditorehkan Hera membuat sang ayah, Sawiri, bangga. Dia sampai menitikkan airmata saat Hera dinyatakan lulus dari ITB dengan predikat Cumlaude.
" Saya tidak bisa berbuat banyak selain berdoa kepada Allah untuk kesuksesan Hera," kata Sawiri.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya