Awalnya Terpaksa Jadi Mualaf, Tapi Lihat yang Terjadi...

Reporter : Puri Yuanita
Sabtu, 20 Agustus 2016 13:01
Awalnya Terpaksa Jadi Mualaf, Tapi Lihat yang Terjadi...
Awalnya dia memeluk Islam karena terpengaruh beberapa pihak, termasuk kenalannya. Tapi tanpa disangka...

Dream - Amira, 35 tahun, awalnya memeluk Islam karena terpaksa. Namun setelah menjalani dengan sungguh-sungguh, wanita asal Malaysia itu akhirnya merasa tenang hidupnya.

Dia memeluk Islam karena pengaruh beberapa pihak, termasuk kenalannya, yang mengatakan Islam dapat menyelesaikan isu bangkrut yang membelenggu hidupnya.

Namun, tanpa disangka, hidayah yang datang itu mengubah pandangan serta keyakinan terhadap agama Allah SWT ini. Dia merasa lebih tenang dalam menjalani hidup sejak hampir tiga tahun lalu.

Menurut Amira, dia dinyatakan bangkrut pada 2008 setelah mantan suaminya gagal melunasi angsuran bulanan untuk mobil yang dibeli pada awal 2000.

Katanya, dia merasa tidak punya masa depan saat menerima pemberitahuan dari Departemen Kepailitan Malaysia karena menanggung beban ditinggalkan suami, selain menjaga lima anak secara sendirian setelah bercerai pada 2012.

(Sumber: hmetro.com.my)

 

1 dari 2 halaman

Kisah Mualaf Penjual Donat Getarkan Hati Netizen

Dream - Seorang mualaf asal Malaysia Muhammad Waliuddin rela jual rugi kue donat demi menyenangkan orang kurang mampu.

Pemuda yang memeluk Islam pada 2011 lalu itu mengatakan ide menjual donat dengan harga sangat murah tercetus setelah melihat banyak warga kurang mampu kesulitan membeli kue favorit karena harga yang terlalu mahal.

" Dari hasil pengamatan saya, banyak dari mereka sulit membuat pilihan ketika harus memperhitungkan harga setiap jenis kue yang ingin dibeli. Justru, saya ingin mereka menikmati kue tanpa terlalu memikirkan harga," kata pemuda berkulit putih ini.

Muhammad Waliuddin yang ditemui di rumahnya di Flat Taman Maluri, Cheras, Kuala Lumpur hanya memperoleh untung 40 ringgit atau sekitar Rp 13 ribu untuk 1.000 biji donat yang terjual.

Padahal dia sebenarnya bisa menjual dengan harga lebih dari 10 sen untuk sebuah donat tersebut.

Anak muda yang memiliki gelar diploma dalam bidang penerbangan itu seharusnya sudah kuliah ke tingkat yang lebih tinggi pada September 2013 lalu.

Namun, dia gagal mendapat pinjaman pendidikan yang menyebabkan impiannya melanjutkan studi hanya tinggal angan-angan.

Namun ketenaran Waliuddin bukan hanya sebagai penjual donat dengan harga murah. Dia juga menjadi incaran para gadis yang tertarik dengan kesederhanaan dan kesalehannya.

Bahkan ada orang tua yang ingin menjadikannya sebagai menantu.

" Saya terkejut karena menerima banyak permintaan untuk berteman di situs sosial sehingga kisah saya jadi 'viral' di Facebook.

" Ada yang menyatakan keinginan untuk menjadikan saya pasangan atau menantunya. Namun, saya belum berpikir ke arah itu karena harus fokus ke bisnis ini," katanya sambil menunjuk ke dagangan donatnya.

(Sumber: mynewshub.cc)

 

2 dari 2 halaman

Didoktrin Membenci Islam, Wanita Yunani Justru Jadi Mualaf

Dream - Tina Stylianidou lahir di tengah lingkungan keluarga Yunani terpandang di Istanbul, Turki. Harta keluarganya begitu berlimpah.

Nasib mereka berubah total setelah Pemerintah Turki memutuskan untuk mengusir seluruh warga Yunani dan menyita harta mereka. Alhasil, keluarga Tina harus kembali ke Yunani dalam keadaan melarat.

Keluarga Tina beserta seluruh orang terhormat Yunani lainnya kemudian menaruh dendam kepada Islam. Mereka menilai situasi yang mereka hadapi merupakan kesalahan Islam.

Yunani dikuasai Turki selama lebih dari 400 tahun. Kondisi itu mengajarkan Tina untuk memercayai setiap kejahatan yang dilakukan terhadap warga Yunani merupakan tanggung jawab Islam.

Orang-orang Turki adalah muslim dan kejahatan yang mereka lakukan mencerminkan kepercayaan agamanya.

" Kami sangat benci dengan Islam. Selama ratusan tahun, kami diajarkan dalam sejarah dan buku-buku agama untuk membenci dan menghina agama Islam," kenang Tina.

Di sekolah, Tina diajarkan Islam bukanlah agama dan Muhammad bukanlah seorang nabi. Sosok ini digambarkan hanyalah pemimpin dan politikus cerdas yang mengumpulkan berbagai aturan dan hukum dari berbagai sumber, serta menambahkan beberapa idenya sendiri yang kemudian digunakan untuk menaklukkan dunia.

Semua karikatur dan fitnah terhadap Rasulullah yang beredar di media hari ini sebenarnya, adalah bagian dari pelajaran dan materi ujian yang harus ditempuh Tina.

Tetapi Tina bersyukur Allah melindunginya sehingga kebencian terhadap Islam tidak masuk ke dalam hatinya terlalu dalam. Apalagi keluarganya tidak terlalu taat dalam menjalankan perintah agamanya.

Dia melihat banyak penyimpangan yang dilakukan pemimpin agamanya sehingga dia merasa muak dan hampir memutuskan untuk menjadi ateis.

Sebelum akhirnya dia bertemu dengan seorang pemuda yang lahir sebagai muslim yang kemudian menjadi suaminya. Selama ini Tina merasa bingung dengan jati dirinya meski meyakini adanya Tuhan yang mengasihinya.

Pemuda yang akhirnya menjadi suaminya itu menanamkan benih cinta pada hatinya. Mereka akhirnya memutuskan menikah tanpa memedulikan perbedaan agama.

Suami Tina bersedia menjawab setiap pertanyaan tentang agamanya, tanpa menghina keyakinan Tina. Dia pun tak pernah memaksa atau bahkan meminta Tina untuk mengganti agama.

Setelah tiga tahun menikah, Tina memiliki kesempatan untuk mengetahui lebih jauh tentang Islam dan Alquran. Hal ini membuat Tina merasa yakin hanya ada satu Tuhan, yakni Allah SWT, dan tak ada yang bisa dibandingkan dengan-Nya.

Dari suaminya itu, Tina belajar Islam lebih dalam. Termasuk membaca sejarah Rasulullah. Belakangan, Tina menyatakan ingin masuk Islam yang tentu saja disambut gembira oleh suaminya.

" Saya menjadi muslim, dan menyimpan rahasia ini dari keluarga dan teman-teman selama bertahun-tahun. Saya dan suami tinggal di Yunani dan mencoba untuk menjalankan ajaran Islam, tetapi hal tersebut sangat susah bahkan nyaris tidak memungkinkan," kata dia.

Di Yunani tidak ada masjid, tidak ada akses untuk mempelajari Islam, tidak ada orang yang melakukan salat, puasa atau wanita yang memakai hijab.

Saat itu benar-benar sangat sulit untuk mengerjakan kewajiban-kewajiban agama Islam, terutama bagi Tina yang terlahir bukan sebagai muslim dan tak memiliki pendidikan Islam.

" Saya dan suami harus salat dan menjalankan puasa dengan mengandalkan kalender. Tidak ada azan yang terdengar di telinga, tidak ada jemaah yang mendukung. Kami merasa setiap hari berjalan mundur. Keyakinan kami menurun dan ombak membawa kami."

Kemudian ketika anak perempuannya lahir, Tina dan suami memutuskan untuk pindah ke negara muslim.

" Untuk menyelamatkan jiwa dan anak kami, jika Tuhan mengijinkan. Kami tak ingin membesarkan anak kami dalam budaya Barat yang terbuka hingga dia harus berjuang untuk mempertahankan identitasnya sebagai muslim dan mungkin akan berakhir dengan kesesatan."

(Ism, Sumber: onislam.net)

Beri Komentar
Jangan Lewatkan
More