Berlengan Satu, Gingin Sukses Jadi Jutawan

Reporter : Ahmad Baiquni
Jumat, 22 Januari 2016 09:41
Berlengan Satu, Gingin Sukses Jadi Jutawan
Awalnya, Gingin kerap meminta bantuan dengan modal tangannya yang tinggal satu. Kini, dia sukses menjadi pengusaha.

Dream - Kaum penyandang disabilitas kerap kali mendapatkan perlakuan diskriminatif dan tersisihkan. Banyak yang tidak peduli pada keberadaan mereka, sampai ada anggapan para difabel tidak layak ada.

Perlakuan semacam ini membuat para penyandang disabilitas terjebak dalam jurang kemiskinan. Akhirnya, untuk bertahan hidup, mereka banyak terjun sebagai pengemis.

Tetapi, pandangan semacam ini ingin diubah oleh Gingin. Pria bertangan satu asal Pandeglang, Banten ini tidak mau terjebak dalam dunia kemiskinan terus menerus.

Dulu, tepatnya pada 2010, Gingin merupakan penjual asongan masih berstatus sebagai mustahik. Saat mengalami masalah ekonomi, Dia kerap meminta bantuan ke kantor Menuju Mandiri (MM) Al Azhar Peduli Ummat di Masjid Agung Al Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Permintaan bantuan itu tidak hanya terjadi sekali dua kali. Gingin sering kembali meminta bantuan dengan alasan yang berbeda-beda dan mengesankan menjual kekurangan fisik yang dialaminya.

Suatu hari, dia kembali mengajukan bantuan dengan membawa serta anak dan istrinya. Berharap mendapat bantuan uang banyak, Tim MM justru hanya memberinya uang sebesar Rp20.000 lantaran sudah terlalu sering datang.

Saat itu, Gingin diterima oleh petugas kantor MM APU, Ahmad. Kepada Gingin, Ahmad memberikan motivasi siapapun bisa maju dan ukses asal ada kemauan kuat.

" Silakan Bapak pulang ke kampung halaman dan cari potensi alam yang ada di daerah Bapak, jika sudah ditemukan silakan kembali lagi ke Al Azhar," ujar Ahmad melalui keterangan tertulis diterima Dream, Jumat, 22 Januari 2016.

Mendengar kata motivasi itu, semangat Gingin terbakar. Dia memutuskan segera pulang ke Pandeglang memboyong serta istri dan anaknya.

Selama di perjalanan dia terus berpikir apa yang harus dikerjakannya agar maju dan mandiri. Akhirnya dia pun menemukan peluang usaha budidaya madu klanceng di desanya.

Gingin kemudian menjalankan budidaya madu klanceng di kampung halamannya, Kampung Gardu Tanjak, Pandeglang, Banten. Madu klanceng atau madu trigona tergolong mahal sebab di Indonesia belum banyak yang dibudidayakan.

Dalam menjalankan usaha itu, Tim dari APU terus memberikan pendampingan dan monitoring serta motivasi dan solusi dalam modal. Selang beberapa tahun bergulir, hasilnya memuaskan.

Budidaya madu klanceng yang dijalaninya terus berkembang pesat. Saat ini, Gingin tengah fokus memperluas jaringan pemasaran dan meningkatkan jumlah produksi.

Gingin kini juga memberdayakan masyarakat sekitar untuk mengelola madu kelanceng. Ia juga mengembangkan HIPEC (Himpunan Penyandang Cacat) yang menjadi cita-citanya untuk memberdayakan para kaum disabilitas.

Tak hanya itu, Gingin juga dipercaya Pemda Banten untuk menjadi trainer dan motivator dalam berbagai pelatihan. Berkat keuletan dan kesabarannya, kini dia sudah mempunyai dua buah rumah dan beberapa kendaraan pribadi.

Rumah lamanya telah diwakafkan menjadi Saung Pintar sebagai wadah peningkatan kapasitas masyarakat dalam pertanian madu kelanceng dan pembelajaran berorganisasi bagi remaja di Pandeglang. Kendaraan pribadi miliknya juga pernah dibawa ke kantor APU yang ada di Sawangan-Depok. (Ism) 

Beri Komentar
Jangan Lewatkan
More